Hari itu, Aria sedang gelisah. Sebentar lagi, ia harus maju presentasi, tapi ada masalah besar. Kacamatanya hilang! Tanpa kacamata minus itu, dia bahkan tidak bisa membaca tulisan di layar, apalagi menghadapi tatapan tajam Pak Budi.
“Le, gimana ini? Aku nggak bisa lihat tulisan apa-apa tanpa kacamata!” keluh Aria sambil mengacak-acak meja dengan cemas.
Lea, sahabat setianya, mencoba berpikir cepat. “Tenang, kita cari. Pasti nggak jauh-jauh dari sini.”
Setelah memeriksa meja, tas, dan seisi kelas, hasilnya tetap nihil. Aria mencoba mengingat-ingat. “Seingatku tadi aku lepas kacamata waktu cuci muka di toilet,” gumamnya.
Lea menghela napas panjang. “Baiklah, kita lakukan pencarian ini. Misi Kacamata Hilang dimulai!”
“Kalau gitu, kita tanya teman sekelas. Siapa tahu ada yang lihat,” kata Lea sambil menarik Aria menuju pojok kelas. Di sana, duduk Iwan, teman mereka yang terkenal suka tahu banyak hal.
“Eh, Wan. Lu sibuk nggak?” tanya Lea penuh harap.
Iwan mengangkat alis. “Ada apa? Cari contekan matematika?” godanya.
“Bukan, ini serius,” jawab Aria. “Kacamataku hilang, dan aku panik. Sebentar lagi harus presentasi. Ada yang lihat nggak?”
Iwan tampak berpikir sebentar, lalu mengangguk. “Barusan gue lihat Rico bawa kacamata mirip banget sama punya lo.”
“Rico?” Aria terkejut. Rico adalah teman sekelas yang diam-diam disukai Aria sejak lama.
“Iya. Dia lagi main sama teman-temannya di lapangan.”
Mendengar itu, Aria dan Lea bergegas ke lapangan, dengan Iwan mengikuti di belakang. Di sana, mereka melihat Rico sedang tertawa bersama teman-teman basketnya—dan benar saja, di tangannya ada kacamata yang terlihat sangat mirip dengan milik Aria!
“Rico!” panggil Lea.
Rico menoleh dan tersenyum. “Eh, Aria! Ini kacamata lo, kan? Gue nemu di bangku dekat lapangan. Gue pikir ketinggalan, makanya gue pegang dulu biar nggak hilang.”
Aria hendak mengambil kacamata itu, tapi sebelum sempat meraihnya, Rico tiba-tiba berkata, “Eh, Aria… Gue sebenarnya mau ngomong sesuatu, tapi… gue nggak tahu gimana mulainya.
Aria menegang. “Ngomong apa?”
Rico menggaruk tengkuknya, tampak canggung. “Gue mau bilang makasih soal surat dan cokelat yang lo taruh di loker gue, kebetulan kemarin gue liat lo lagi naruh ke loker”
Aria membelalakkan mata. “A-apaa?”
“Iya,” lanjut Rico santai. “Dan lo pikir gue nggak sadar? Kalo lo sering banget ngelirik gue dari kejauhan. Gue pikir… ya, lo suka gue ya?”
Lea dan Iwan langsung menahan tawa sambil saling melirik. Aria hanya bisa menunduk, wajahnya memerah karena malu.
“Tapi… gue nggak pernah ngasih surat dan cokelat,” ujar Aria bingung.
Rico tampak kebingungan. “Tunggu, lo serius?”
“Serius,” jawab Aria jujur.
Iwan yang tidak tahan langsung tertawa keras. “Bro, lo salah orang kali! Yang sering ngelirik lo itu… mungkin Alia.”
“Alia?” Aria dan Rico bertanya bersamaan.
“Iya, saudara kembar Aria,” jelas Iwan sambil tertawa.
Lea ikut menambahkan, “Alia itu saudara kembar Aria yang beda kelas sama kita. Dan, FYI, Alia pakai kacamata yang sama juga.”
Rico tampak terkejut. “Oh… Jadi yang gue kira suka sama gue itu bukan Aria, tapi Alia?”
Aria mengangguk pelan, sambil mengusap lehernya yang terasa panas. “Iya… kayaknya sih dia,” jawabnya, sambil mencoba menenangkan diri.
Rico menepuk dahinya, lalu ikut tertawa. “Lah, jadi gue salah orang selama ini!”
Setelah suasana kembali santai, Aria akhirnya mendapatkan kembali kacamatanya. Saat ia memakainya, segalanya terasa lebih jelas—bukan hanya penglihatannya, tapi juga situasi yang baru saja terjadi. Ia menyadari satu hal bahwa dia dan saudara kembarnya ternyata menyukai orang yang sama.
Mereka semua tertawa bersama. Rico tersenyum pada Aria dan berkata, “Maaf ya, gue salah paham,soalnya lo mirip banget sama saudara kembar lo.”
Aria tersenyum, merasa lega tapi ada sedikit rasa campur aduk di hatinya.
Tamat
~IMA~