[Hei, di zaman penuh prasangka ini, ada baiknya kau lebih berhati-hati.]
Posisi mereka.. sangat-sangat mengerikan bagi orang awam yang tidak memahami 'keunikan' Alex. "Hei, menjauh lah sebelum-" "Shh! diam lah. Aku hanya ingin membantumu." Bisikan Alex yang kelewat lirih, sontak membuat bulu kuduk Allen meremang. Bajingan ini.. sudah tidak waras.
"Terkadang, diperlukan usaha ekstrem agar berhasil dilirik, Sobat. Ditambah, targetmu adalah Samantha, gadis yang telah mematahkan hati ratusan pria di sekolah kita." Alex berkata sebagai pembuka, sorot matanya terlihat meyakinkan, berbanding terbalik dengan tindakannya.
Hening. Allen kehilangan kata-kata untuk sekedar memaki Alex. "Kudengar Minggu depan akan diadakan pesta dansa tahunan di aula, kau bisa menggunakan kesempatan itu." Alex memberi instruksi, masih dalam posisi tidak lazim. Cahaya senja nampak memancar lembut dari jendela kamar di belakang mereka. Menciptakan suasana intim, yang salah tempat.
"Aku yakin, kau pasti langsung ditolak jika melakukan apa yang bukumu katakan." Allen baru akan protes, saat Alex makin merapatkan diri ke arahnya. "Tapi tenang, aku punya cara andalan yang terbukti ampuh selama aku mempraktekkannya." Alex mengunci pergerakan Allen, lengan kanannya membentuk barikade.
"Ajak dia bertemu berdua di jam istirahat, kau bisa membawanya ke _rooftop_." Wajah Alex hanya beberapa inci jaraknya, "Setelahnya, kau mulailah basa-basi terlebih dahulu." lanjut Alex. "Begitu suasana semakin mendukung, kau harus melontarkan pertanyaan provokasi seperti, 'siapa pasanganmu di pesta dansa nanti?'
Allen mulai mempertimbangkan untuk menghajar Alex sekarang juga. Satu, demi harga dirinya sebagai laki-laki dan dua, dia hampir tidak kuat menahan napas. Allen menatap manik mata Alex, warna biru langit yang biasanya nampak ramah itu, telah digantikan oleh hasrat terselubung. Allen kesulitan menelan ludah, ia menyadari kalau Alex, tidak akan melepaskannya sampai ini selesai. "Tunggu sampai dia merespon. Kemudian, beri jeda cukup panjang hingga ia memutuskan untuk meninggalkanmu."
Sambil berbicara, Alex menarik pinggang Allen mendekat. "Itulah waktunya, Sobat. Kau, bagaimanapun mulanya, akan memojokkan Samantha ke tembok, persis seperti yang kulakukan." Diam-diam, Alex sedikit prihatin karena pinggang Allen, terasa begitu ramping.
Seulas senyum menggoda, dan tatapan intens pria itu, entah mengapa, memberi kesan mengancam sekaligus menghanyutkan bagi Allen. Sekarang ia jadi mengerti, alasan para gadis tergila-gila pada _bad boy_ macam Alex. "Alihkan fokusnya dengan sentuhan kecil, lalu ungkapkan perasaanmu secara lugas." Belum puas, Alex mengarahkan tangan kanannya untuk menopang dagu Allen, "Akhiri pengakuanmu dengan-"
Tanpa aba-aba, Allen memelintir tangan Alex sebelum insting sahabatnya mengambil alih. "Aku lebih memilih ditolak karena mengikuti bukuku, daripada mempraktekkan teknik pria mesum milikmu!" "Tenanglah, bung. Aku tidak-"
"KELUAR DARI KAMARKU SEKARANG SEBELUM AKU MEMATAHKAN SELURUH TULANGMU!!" Amarah Allen, sukses membuat Alex terbirit-birit meninggalkan kamarnya.
"Gila. Aku benar-benar akan diterkam tadi jika hanya diam saja." Frustasi. Allen mengacak-acak rambutnya. Sebagai seorang pria, ia tahu betul ada aura berbahaya yang sekilas muncul, menyebabkan tubuhnya reflek berontak. Terdengar helaan napas panjang, diiringi suara langkah kaki terburu-buru dari arah tangga.
*Sementara itu*
"Sudah kuduga, mereka terlalu dekat untuk sebatas teman." Gadis tersebut merinding, ketika melihat apa yang _drone_ miliknya rekam, begitu mengintip ke dalam jendela kamar Allen yang terbuka. "Aku harus memberitahu semua orang di sekolah besok." Benaknya dipenuhi bayangan sang pemilik kamar, yang sedang bermesraan (?) dengan sahabatnya sendiri.
Selesai