[Hei, di zaman penuh prasangka ini, ada baiknya kau lebih berhati-hati.]
Alex memasuki kamar Allen tanpa permisi, membawa serta tumpukan baju bekas yang rencananya, akan disumbangkan pada sang pemilik kamar. "Di mana aku harus meletakkan ini?" Tanya Alex, disela-sela kesibukannya menguyah permen karet. Sebuah balon pink terbentuk dari campuran benda lengket dan saliva miliknya, usia benda itu pun hanya dua detik, sebelum Allen melayangkan protes tak langsung.
"Apa kau pantas disebut manusia?" Sindir Allen sambil menampilkan ekspresi jijik.
Bagaimana tidak? Alex masih bermandikan keringat setelah seharian bermain futsal di lapangan komplek. Wajahnya terlihat kusam, dengan rambut lepek, dan kaos yang basah kuyup. Kombinasi bau matahari, sabun, parfum, rerumputan, dan lainnya, hampir mengkontaminasi tempat sakral Allen. Pengharum ruangan otomatis di kamarnya pun, seakan mengibarkan bendera putih.
"Ya tuhan, dimana sopan santun mu? Aku rela tidak ikut dalam babak terakhir hanya untuk memberikan mu semua ini. Dan sekarang, begini caramu memperlakukanku?" Alex berceramah panjang kali lebar, menumpahkan serta kekesalan dan setitik rasa kecewa. Hampir seumur hidup ia mengenal pribadi Allen yang sarkastik, selama itu pula, ia belum sepenuhnya terbiasa.
_Pasti timnya kalah._ pikir Allen. Ia tahu betul alasan sesungguhnya Alex, tidak ikut pertandingan hingga selesai. "Kiat-kiat jitu agar diterima saat menyatakan cinta?" Ucap Alex, dengan volume maksimal. Dia berjalan mendekat ke arah ranjang sambil bersiul jahil, menikmati setiap detik kepanikan Allen, yang buru-buru menyembunyikannya di bawah bantal.
Alex lalu meletakkan bawaannya di atas meja belajar Allen. Sebuah cengiran nakal perlahan terbit, diikuti pemahaman sederhana dari gagasan yang ia simpulkan. _Hoho, seorang Allen bisa kasmaran juga rupanya._
Allen mengambil jarak aman, begitu entitas bernama Alex duduk di sebelahnya. "Kau bahkan-?!" Tawa renyah Alex langsung meledak, saat menemukan lembar kertas kusut di sisi lain ranjang. "Hitam di atas putih? Ayolah, para gadis lebih menginginkan sesuatu yang berguna. Kau sudah ketinggalan zaman, Sobat." Dengan santai, Alex membuang permen karetnya ke dalam benda tersebut.
Allen mengabaikan Alex, ia beranjak dari ranjang demi desakan paru-parunya yang sekarat. "Siapa nama gadismu, Allen?" Alex geleng-geleng kepala sambil melempar bola kertas ciptaannya ke tempat sampah. "Kau tahu anak kesayangan Mr. Lim di kelas XI-2?" Allen balik bertanya, tangannya masih sibuk memasangkan pengait jendela.
"Si jenius super cuek itu? Pantas saja! Semuanya jadi sangat jelas sekarang." Mata Alex berkilat-kilat senang, tebakannya seratus persen terbukti. Pikirannya mulai bekerja cepat. Sebagai seorang sahabat yang baik, Alex merasa bertanggungjawab untuk menyatukan Allen dengan si jenius itu.
Allen baru saja membuka jendela kamarnya, ketika Alex tiba-tiba menyudutkannya ke tembok.
Bersambung