Pukul dua pagi. I’m sitting on my bed, scrolling through Instagram like a brainless zombie. Mata udah berat, kepala cenat-cenut, tapi tangan masih nge-scroll. Then, boom. There it is. My ex’s new post.
Dia lagi ketawa. Ketawa lepas, ketawa bahagia, ketawa yang pernah gue liat dulu—tapi kali ini, bukan buat gue. Dia lagi di rooftop bar somewhere fancy, city lights sparkling behind her, gelas cocktail di tangan, and next to her, there’s this guy.
Siapa dia? Gue nggak tau. Tapi yang jelas, dia bukan gue.
Damn, my head hurts.
Gue rebahin kepala ke bantal, but it doesn’t help. My brain is running a full marathon of “what ifs” dan “should haves.” What if gue nggak pernah selingkuh? What if gue nggak pernah ngebiarin dia pergi? What if gue yang ada di sebelah dia sekarang, bukan some random dude in a white shirt with his arm around her shoulder?
Tapi fakta tetap fakta. Gue yang nyia-nyiain dia. And now she’s moved on.
Sial.
Gue bangun lagi, nyari rokok di meja. Gue tau rokok nggak bakal nyelesain masalah, tapi at least bisa ngeredain dikit. Sekali isap, kepulan asap ngebentuk siluet wajah dia di udara. Atau mungkin itu cuma otak gue yang mulai berhalusinasi.
Dulu, dia yang bakal ngingetin gue kalo ngerokok kebanyakan. “Sayang, nanti paru-paru kamu bolong,” katanya sambil ngerampas batang rokok dari tangan gue. Sekarang? Gue bisa bakar sekarton, dan dia nggak bakal peduli.
Another drag. Another memory. Another regret.
Gue buka chat lama kita. Scroll ke atas, baca-baca percakapan yang dulu pernah jadi bahan ketawa sebelum akhirnya jadi reruntuhan kenangan. Ada “Good morning, love” yang berubah jadi “Kenapa kamu kayak gini sekarang?” lalu “Aku capek” dan akhirnya “Kita udahan aja.”
Kepala gue makin sakit.
Gue lempar HP ke kasur, lalu bangkit. Keluar kamar, nyari sesuatu buat diminum. Air putih? No. Teh? Too soft. Whiskey? Yes. Gue tuang dikit ke gelas, trus duduk di lantai ruang tamu, lampu masih mati.
Dulu, dia sering bilang gue nggak pernah peduliin perasaan dia. Mungkin dia bener. Dulu, gue terlalu sibuk jadi cowok yang nggak mau dengerin. Now, gue kena karma.
A sip of whiskey. It burns my throat, just like the sight of her with another guy burns my heart.
Gue ketawa. Ketawa getir.
Damn, I really lost her, huh?
Another sip. Another realization.
And another headache.