Aku lahir di sebuah rumah yang tidak pernah benar-benar menjadi rumah.
Namaku Damar. Sejak kecil, aku tahu bahwa aku berbeda. Aku bukan anak yang ditunggu-tunggu, bukan anak yang disambut dengan pelukan hangat atau tatapan penuh kasih. Aku adalah anak yang datang tanpa rencana, keberadaanku lebih seperti kesalahan yang terlanjur terjadi.
Aku punya seorang kakak, Arya. Dia sempurna. Anak kebanggaan Ayah dan Ibu, si cerdas yang selalu juara kelas, si atlet yang selalu pulang dengan piala, si anak emas yang semua orang sayangi. Dan aku? Aku hanya bayangan yang mengikuti di belakangnya, tidak pernah cukup baik untuk dibandingkan dengannya.
Sejak kecil, aku selalu mencoba mendapatkan perhatian. Aku pernah menggambar pemandangan dengan sungguh-sungguh di buku gambar, berharap Ibu akan melihatnya dan tersenyum. Tapi dia hanya melirik sekilas lalu kembali mengobrol dengan Arya tentang nilai ulangannya yang sempurna.
Aku pernah berlari ke Ayah dengan bangga, menunjukkan bahwa aku akhirnya bisa mengayuh sepeda tanpa jatuh. Tapi Ayah hanya mengangguk kecil sebelum kembali menonton berita di televisi, seolah keberhasilanku tidak ada artinya.
Aku belajar bahwa usahaku tidak pernah cukup.
Ketika aku masuk SMP, aku berhenti berusaha. Aku berhenti mencoba menjadi anak yang bisa mereka banggakan. Untuk apa? Tidak peduli seberapa keras aku berusaha, aku tetap tidak akan pernah menjadi Arya.
Tahun demi tahun berlalu, dan aku semakin tenggelam dalam kesunyian. Aku tidak punya banyak teman, tidak ada yang benar-benar peduli apakah aku ada atau tidak. Di rumah, aku seperti dinding—ada, tapi tidak pernah diperhatikan.
Suatu hari, saat aku pulang sekolah, aku mendengar suara tawa dari ruang tamu. Aku melangkah masuk dan melihat Ayah, Ibu, dan Arya duduk bersama, tertawa menikmati makan malam. Tidak ada satu pun piring untukku di meja.
"Ada makanan untukku?" tanyaku pelan.
Ibu menoleh, kaget, seolah baru menyadari keberadaanku. "Oh… ambil sendiri di dapur," katanya singkat sebelum kembali bercanda dengan Arya.
Aku melangkah ke dapur, membuka tudung saji, dan menemukan sepiring nasi dingin dengan sisa lauk yang bahkan hampir tidak cukup untuk mengenyangkan perutku. Saat itu, aku benar-benar merasa seperti orang asing di rumah sendiri.
Malam itu, aku mengurung diri di kamar. Aku menatap langit-langit, bertanya-tanya apakah semua ini akan berubah. Apakah suatu hari nanti aku akan merasakan seperti apa disayangi?
Tapi hari demi hari berlalu, dan aku mulai memahami satu hal: Tidak semua orang terlahir untuk dicintai.
---
Aku menginjak usia 18 tahun ketika aku akhirnya memutuskan sesuatu.
Tidak ada gunanya terus bertahan di tempat yang tidak menginginkanku. Aku sudah lelah berharap. Aku sudah lelah menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.
Aku menulis sepucuk surat. Isinya singkat saja:
"Untuk Ayah dan Ibu, aku lelah. Jangan khawatir, kalian masih punya Arya. Dia anak yang baik. Aku pergi. Jangan cari aku."
Kemudian aku pergi.
Tidak ada tujuan, tidak ada rencana. Aku hanya berjalan, mengikuti langkah kakiku sendiri.
Malam itu, hujan turun deras. Aku tidak membawa apa-apa selain baju di badan. Aku tidak punya tempat untuk berteduh, tidak punya siapa-siapa yang akan menanyakan di mana aku berada.
Aku berjalan di trotoar basah, dengan angin dingin menusuk kulit. Kendaraan berlalu-lalang di jalan raya, lampu-lampunya berpendar dalam kabut hujan.
Aku menyeberang jalan tanpa benar-benar memperhatikan. Saat itu, aku merasa ringan, seolah beban bertahun-tahun telah lepas dari pundakku.
Aku mendengar suara klakson yang nyaring.
Lalu, semuanya gelap.
---
Aku terbangun di tempat yang tidak kukenal. Bau antiseptik menusuk hidungku, dan suara monitor medis berdetak pelan di sampingku.
Aku masih hidup.
Ada perban di kepalaku, ada selang infus di tanganku. Kakiku terasa nyeri luar biasa, seperti remuk.
Di samping tempat tidur, tidak ada siapa-siapa.
Aku menoleh ke pintu, berharap seseorang akan datang. Mungkin Ayah? Mungkin Ibu? Mungkin akhirnya mereka menyadari bahwa aku ada?
Tapi tidak ada yang datang.
Tidak ada yang menunggu.
Tidak ada yang peduli.
Saat itu, aku tahu, aku memang tidak pernah benar-benar ada bagi mereka.
Dan mungkin… aku memang seharusnya tidak pernah ada.
---