Namaku Nadia. Aku bukan siapa-siapa, cuma anak SMA biasa yang hampir selalu duduk di barisan belakang kelas, lebih sering memperhatikan awan di luar jendela ketimbang papan tulis. Tapi ada satu hal yang membuat hari-hariku tidak membosankan: Satria.
Dia duduk dua bangku di depan, si bintang sekolah yang entah bagaimana selalu berhasil membuatku terpesona. Tidak, bukan karena dia kapten basket atau punya senyum yang bisa bikin satu kelas heboh. Aku suka caranya menulis. Setiap pelajaran Bahasa Indonesia, dia selalu mencatat dengan rapi, dengan tulisan yang nyaris seperti cetakan komputer.
Satria sering menulis puisi di buku catatannya. Aku tahu karena pernah mengintip—oke, itu memang agak menyeramkan, tapi aku tidak bisa menahan diri. Kata-katanya selalu terasa dalam, seperti ada bagian dirinya yang tersembunyi di sana.
Sampai suatu hari, aku menemukan sesuatu di laci mejaku: sebuah surat.
"Untuk seseorang yang diam-diam selalu melihat ke arahku," begitu kalimat pertamanya. Aku hampir loncat dari kursi membaca itu. Jantungku berdebar kencang saat aku melanjutkan membaca.
"Aku tahu kamu suka membaca puisi-puisiku saat kau kira aku tidak melihat. Aku sengaja menulisnya dengan huruf besar agar kau lebih mudah membacanya. Aku tidak keberatan, sungguh. Malah aku penasaran, apakah ada satu saja puisiku yang kau suka?"
Aku menelan ludah. Ketahuan. Aku ingin menenggelamkan diri ke dalam lautan rasa malu. Tapi di akhir surat itu ada satu baris yang membuatku terdiam lebih lama.
"Kalau kau tidak keberatan, bisakah kau membalas surat ini? Aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang diperhatikan diam-diam."
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menulis sebuah surat balasan.
Dan, untuk pertama kalinya juga, aku menyadari bahwa cinta memang bisa datang dengan cara yang tidak terduga.
---