Hari itu, sekolah mengadakan acara khusus untuk orang tua. Semua murid bersiap dengan bunga di tangan mereka, mata mereka berbinar menanti sosok yang akan mereka beri tanda cinta. Aku juga menggenggam bungaku erat, tapi hatiku tahu kenyataan yang berbeda—ayahku sibuk mengurus tokonya, dan ibuku… dia bahkan tak lagi menjadi bagian dari keseharianku sejak perceraian itu.
Aku berdiri di tengah aula, melihat satu per satu teman sekelasku berlari ke arah orang tua mereka. Wajah-wajah penuh kebahagiaan memenuhi ruangan, suara tawa dan bisikan kasih sayang terdengar di sekelilingku. Aku menoleh ke kiri, ke kanan—tak ada seorang pun yang datang untukku.
Aku menggigit bibir, menunduk menatap bunga di tanganku. Awalnya, aku berpikir untuk menyimpannya dan memberikannya pada ayahku nanti saat pulang. Tapi aturan sekolah memintaku untuk membagikannya sekarang.
Tiba-tiba, aku merasa seperti berada di tengah kerumunan yang bukan bagianku. Langkah-langkah kecilku terasa berat. Aku tidak tahu harus ke mana, tidak tahu harus menyerahkan bunga ini kepada siapa.
Saat itulah aku melihat guruku. Dia berdiri di dekat panggung, tersenyum lembut sambil melihat para murid dan orang tua mereka. Tanpa berpikir panjang, aku melangkah ke arahnya dan menyodorkan bunga itu.
"Ibu guru, ini untukmu," kataku dengan suara pelan, hampir berbisik.
Guruku terdiam sejenak, menatapku dengan mata penuh tanya. "Kenapa kamu memberikannya padaku, Nak?"
Aku menguatkan suara dan memaksakan sebuah senyum kecil. "Ayah tidak bisa datang karena bekerja.. dan ibuku.." Aku menggigit bibirku, mencoba menahan sesuatu yang mulai mengganjal di dadaku. "Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Tapi ayah dan ibu pernah bilang kalau guru adalah orang tua kedua. Jadi… ini untuk Ibu Guru."
Aku melihat mata guruku berkaca-kaca. Sesaat kemudian, dia menarikku dalam pelukannya. Hangat. Erat. Seolah dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi memilih untuk tidak mengatakannya.
Aku tetap diam dalam pelukannya, tidak ingin menunjukkan bahwa mataku mulai terasa panas. Tidak ingin mengakui bahwa ada sesuatu yang sesak di dalam dadaku.
Acara berakhir. Semua murid berhamburan keluar, menggenggam tangan orang tua mereka, tertawa bersama, berjalan beriringan. Aku tetap di tempatku sejenak, melihat pemandangan itu.
Kemudian, aku melangkah keluar sendirian.
Langit mendung. Awan kelabu menggantung rendah, seolah tahu perasaanku saat ini. Lalu hujan mulai turun, membasahi tanah, membasahi tubuhku. Aku tidak berlari, tidak mencari tempat berteduh. Aku membiarkan airnya jatuh ke wajahku, bercampur dengan sesuatu yang hangat yang sudah mengalir sejak tadi.
Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Aku bahkan tidak mengerti perasaan ini—apakah ini kesedihan? Kesepian? Atau hanya kerinduan yang tak tahu harus diarahkan ke mana?
Aku tersenyum kecil, meskipun dadaku terasa berat.
Dan hujan terus turun, menyembunyikan air mataku dalam derasnya.
[Note]
Kisah ini bukan sekadar cerita, tapi bagian dari hidupku yang sesungguhnya. Aku tahu rasanya tumbuh tanpa sosok ibu di sisiku. Aku tahu bagaimana rasanya melihat teman-teman lain menggenggam tangan ayah dan ibu mereka, sementara aku hanya bisa menatap dari kejauhan. Aku tahu bagaimana rasanya berpura-pura kuat, tersenyum di tengah kesepian, dan berharap seseorang mengerti tanpa perlu aku mengucapkannya.
Jadi, untuk kalian yang masih memiliki orang tua di sisi kalian, hargai mereka selagi kalian bisa. Jangan tunggu sampai semuanya terlambat, jangan tunggu sampai yang tersisa.... hanyalah penyesalan dan kenangan yang tak bisa diulang.
Dan untuk kalian yang kelak akan menikah, tolong...pertimbangkan pernikahan dengan serius. Pernikahan bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai, tetapi juga tentang keluarga yang akan kalian bangun, tentang anak-anak yang akan lahir dari hubungan kalian. Jika suatu saat kalian merasa ingin menyerah, ingatlah alasan kalian memilih satu sama lain sejak awal. Ingatlah janji yang pernah kalian ucapkan.
Perceraian bukan hanya memisahkan dua orang dewasa, tapi juga menghancurkan dunia seorang anak. Kami tidak punya pilihan, kami hanya bisa menerima. Kami belajar untuk tersenyum meski hati kami hancur, kami berusaha terlihat kuat meski di dalam.. kami rapuh.
Jadi, jika kalian mencintai anak-anak kalian, jangan biarkan mereka mengalami apa yang aku alami. Berjuanglah. Jika masih ada sedikit saja cinta yang tersisa, genggamlah itu erat, dan perbaiki semuanya.
Karena keluarga bukan hanya tentang bersama dalam kebahagiaan, tetapi juga tetap bertahan dalam kesulitan.
^-^