Sejak malam itu, aku pikir semuanya sudah selesai. Aku sudah menekan tombol blokir, sudah menghapus chat, sudah meyakinkan diri sendiri kalau ini yang terbaik. Aku mau kembali ke hidup yang biasa—tanpa tekanan, tanpa seseorang yang terus memerhatikan setiap gerak-gerikku.
Tapi ternyata, beberapa hari kemudian, aku dapet chat dari nomor tak dikenal.
+62XXXXXXXXXX:
"Hai, boleh kenalan?"
Aku males nanggepin. Udah biasa nomor asing tiba-tiba ngechat. Mungkin spam, mungkin orang random yang salah nomor. Aku cuekin aja. Tapi beberapa jam kemudian, dia chat lagi.
+62XXXXXXXXXX:
"Kamu lagi apa?"
Aku mulai merasa aneh. Nggak ada profil picture, nggak ada nama. Cuma nomor kosong yang tiba-tiba muncul. Aku nggak bales, tapi malamnya…
+62XXXXXXXXXX:
"Kamu masih nulis novel?"
Dada aku langsung dingin. Ada sesuatu yang nggak beres. Dari sekian banyak pertanyaan, kenapa dia nanya itu? Aku nggak pernah sebarin ke siapa-siapa kalau aku nulis. Hanya beberapa orang yang tahu.
Jari-jari aku membeku di atas keyboard. Aku bisa aja langsung blokir, tapi ada rasa penasaran yang menahan. Aku ketik balasan pelan-pelan.
Aku:
"Siapa ini?"
Butuh beberapa menit sebelum dia bales.
+62XXXXXXXXXX:
"Cuma seseorang yang suka liat kamu online."
Aku langsung merinding. Aku tekan chatnya, klik ke bagian profil, tapi nggak ada info sama sekali. Hanya nomor kosong. Tapi insting aku bilang… ini bukan orang asing.
Aku paksa diri buat tenang.
Aku:
"Maaf, aku nggak kenal kamu."
Dia cuma ngetik “…” lalu ngilang. Nggak ada lagi chat. Aku coba abaikan dan tidur lebih awal.
Tapi besoknya, dia chat lagi.
+62XXXXXXXXXX:
"Kamu sibuk jam 8 malam nanti?"
Jantungku berhenti sepersekian detik. Ini… ini pertanyaan yang sama kayak waktu itu. Waktu aku masih chat sama dia. Waktu sebelum aku blokir dia.
Sial. Ini dia.
Tanganku dingin. Aku langsung blokir nomor itu. Aku pikir semuanya bakal beres setelah itu. Tapi ternyata, besoknya… ada nomor lain yang chat.
+62XXXXXXXXXX:
"Kenapa ngeblok?"
Aku ngerasa perutku mual. Ini bukan kebetulan. Dia masih ngikutin aku. Masih cari aku.
Malam itu, aku matiin data, taruh HP jauh-jauh, dan paksa diri buat tidur. Tapi ada rasa gelisah yang nggak bisa hilang. Kayak ada yang ngawasin.
Dan bener aja.
Jam 3 pagi, aku kebangun tiba-tiba. Kamar gelap, tapi ada sesuatu yang bikin aku ngerasa nggak sendirian. Aku ragu-ragu meraih HP, nyalain layar, dan… ada satu chat masuk.
Dari nomor baru.
+62XXXXXXXXXX:
"Lihat ke jendela."
Aku langsung lempar HP dan nutup selimut. Aku nggak berani gerak, nggak berani napas keras-keras. Aku cuma bisa diem, nunggu pagi datang, berharap semua ini cuma mimpi buruk yang bakal hilang saat matahari terbit.
Tapi jauh di dalam hati, aku tahu… dia belum selesai. Dan dia masih ada di luar sana.
Tamat… atau belum?