Pov if i him-
Aku nggak tahu sejak kapan ini mulai terasa beda. Awalnya cuma sekadar lihat, terus jadi kepo, lama-lama malah kayak gravitasi—narik aku ke arahmu tanpa bisa nolak. Tiap kali kamu online, jari-jari ini refleks ngetik duluan, padahal otak bilang "santai aja, jangan terlalu nempel." Tapi gimana? Rasanya kalau nggak ngobrol sama kamu tuh… kosong.
Hari itu, aku nunggu kamu online lagi. Udah jam 8 malam, aku tahu kamu pasti sibuk, tapi aku tetap ngetik:
"Jam 8 masih ada kerja enggak?"
Centang biru. Balasan datang. Aku senyum sendiri.
"Ada, nulis novel."
Kamu selalu sibuk, selalu punya sesuatu yang lebih penting dari aku. Tapi nggak apa-apa, asal aku bisa ada di sela-sela waktu kamu. Aku nanya lagi, kamu masih nulis atau enggak. Kamu bales seadanya. Aku ngerti, tapi tetep aja aku lanjut.
Aku nggak sadar kalau aku mulai kelewatan. Tiap detik, aku perhatiin kapan kamu online. Aku buka chat kita berulang kali, kayak ada sesuatu yang berubah kalau aku lihat lagi. Padahal nggak ada. Aku cuma makin dalam, makin tenggelam di bayangan kamu.
Lalu tiba-tiba, semuanya berhenti. Chat terakhirku cuma centang satu. Foto profilmu hilang. Aku coba kirim pesan lain. Tetap centang satu.
Aku diem. Aku tahu apa artinya.
Kamu ngeblok aku.
Aku ketawa kecil, tapi ada yang nyesek di dada. Pantes aja. Aku tahu aku berlebihan, tapi… aku cuma nggak mau sendirian. Aku cuma pengen ada seseorang yang beneran dengerin. Tapi ternyata, aku malah bikin kamu pergi.
Malam itu, aku nggak tahu harus marah sama kamu atau sama diri sendiri. Aku cuma ngeliatin layar kosong, berharap besok pagi, blokir itu hilang. Tapi dalam hati, aku tahu—nggak ada yang bakal berubah. Aku yang harus berubah. Aku yang harus belajar, kalau dunia kamu nggak berputar di sekitarku. Dan aku harus berhenti berharap sebaliknya.