Sekarang tahun 2050. Hujan semakin deras, membasahi kaca jendela hingga buram. Aku ingin menghilang, larut dalam hujan ini, melupakan semua sakit yang pernah kurasakan.
Tapi aku tahu, itu tidak mungkin. Aku terjebak dalam tubuh yang rapuh ini, terjebak dalam pikiran yang penuh dengan kegelisahan. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menghirup udara segar yang terasa hampa.
Di sudut kereta ini, aku merasa begitu kecil dan sendirian. Dunia di luar sana begitu luas, namun hatiku terasa sempit. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan, sudah lama sekali aku tidak tertawa lepas.
Ingatan tentang masa lalu terus menghantuiku, membuatku semakin tenggelam dalam kesedihan.
Aku ingin menceritakan sedikit cerita tentang diriku, dan ini adalah cerita satu tahun yang lalu. Saat itu suasananya sama seperti ini.
Mungkin jika mendengar ceritaku, tidak ada orang yang mempercayainya. Begitu juga aku, sampai aku mengalaminya sendiri.
Sekarang tahun 2049. Angin malam menerpa wajahku dengan ganas, membelai rambutku yang kusut. Gelombang besar menerjang tebing curam di bawahku, menghempaskan buih putih ke udara. Suara gemuruh ombak berpadu dengan deru angin, menciptakan simfoni kematian yang sempurna.
Aku berdiri di tepi jurang, memandang ke bawah dengan tatapan kosong. Seratus meter. Cukup jauh untuk mengakhiri semuanya. Suamiku telah pergi, meninggalkanku dalam kesepian yang tak berujung.
Aku lelah berjuang, lelah hidup tanpa dia. Dengan langkah gontai, aku melangkah ke depan, siap menyambut kegelapan.
Namun, saat aku telah siap menyambut kegelapan, aku membuka mataku dan kembali ke masa lalu. Sinar matahari menembus sela-sela dedaunan, menciptakan pola-pola indah di atas buku yang sedang ku baca.
Aku sangat bingung dan mencerna apa yang sebenarnya terjadi, hingga suara yang asing menyadarkan.
“Hai, aku Xavier. Boleh kenalan?”
Xavier berdiri di hadapanku, matanya berbinar. Aku mendongak dan melihat seorang pemuda dengan rambutnya terurai bebas, berkibar lembut. Kaos putihnya polos dan jeans biru muda menjadi andalannya, dipadukan dengan sneakers putih bersih.
Dia tampil santai namun tetap stylish. Dan dia sekarang berdiri di hadapanku. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya, sesuatu yang membuat jantungku berdebar kencang.
"Aku Calista," jawabku sambil tersenyum malu-malu.
Detik itu, waktu seolah berhenti. Aku menatapnya dalam-dalam, mencoba mengingat semua kenangan indah yang pernah kami lalui bersama. Xavier di depanku ini masih sangat muda, polos, dan lugu.
Sepertinya aku kembali pada tahun 2035. Aku ingin sekali memeluknya erat-erat, memberitahunya tentang masa depan yang menanti kami, tentang pernikahan kami, dan tentang kebahagiaan yang akan kami rasakan bersama.
Kami menikah pada tahun 2039. Aku berusaha mengubah masa depanku dengan suamiku. Saat menjalani pernikahan, terdapat suatu perbedaan dengan suamiku yang sekarang sama yang dulu.
Kalau dulu, dia tampak tertutup dan misterius. Namun, kalau sekarang dia tampak peduli dan perhatian. Ada suatu kejadian sampai aku mengetahui kenapa dia berubah. Kejadian itu pada saat tahun 2041.
"Xavier, bangun! Sarapan sudah siap!" panggilku dari dapur.
Rumah terasa sepi. Biasanya terdengar suara langkah kakinya yang terburu-buru menuju meja makan. Dan itu sudah menjadi rutinitas pagi kami, sarapan bersama sebelum dia berangkat bekerja. Tapi hari ini, kamarnya masih gelap.
Aku mengetuk pintu kamarnya, tidak mendapat jawaban. Dengan hati cemas, aku membuka pintu. Kamar itu kosong. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh. Xavier selalu bangun sebelum pukul enam. Sejak kapan dia pergi tanpa pamit?
Sebuah kertas kecil tergeletak di atas meja belajarnya. Aku meraihnya dan membaca tulisan tangannya yang khas.
"Maaf, Sayang. Aku harus pergi. Aku akan kembali."
Kalimat itu membuatku bingung. Pergi? Kembali? Ke mana? Sejak kapan Xavier berperilaku aneh seperti ini?
Minggu-minggu berikutnya terasa seperti mimpi buruk. Xavier menghilang tanpa jejak. Aku mencari ke mana-mana, bertanya pada teman-temannya, bahkan ke polisi. Namun, semua usahaku sia-sia. Aku baru ingat bahwa kematian Xavier itu pada akhir tahun 2041. Aku sangat cemas.
Hingga suatu malam, aku terbangun dari tidurku. Cahaya bulan menerangi ruangan, dan di sudut kamar, aku melihat Xavier sedang duduk di kursi. Aku melihat Xavier menatapku dengan tatapan kosong.
"Xavier?" panggilku pelan.
Dia menoleh, matanya berkaca-kaca. "Aku kembali, Sayang," katanya lirih.
Aku memeluknya erat. "Ke mana saja kamu? Aku sangat khawatir."
Dia menceritakan semuanya. Tentang sebuah eksperimen yang gagal, tentang mesin waktu yang membawanya ke masa depan, tentang takdirnya yang tragis. Dia akan selalu mati pada hari pernikahan kami, lalu kembali ke masa lalu.
"Aku tidak mau kehilanganmu lagi, Xavier," ucapku sambil meneteskan air mata.
"Aku juga tidak mau kehilanganmu, Sayang. Tapi, aku sudah menemukan cara untuk mengubah takdir."
Dia menjelaskan bahwa dia harus mengubah sesuatu di masa lalu agar masa depannya berubah. Dan dia baru menemukan jawabannya. Sebuah rahasia kecil yang tersembunyi di masa lalu, yang menjadi kunci untuk mengubah takdir kami.
Hujan rintik-rintik membasahi wajahku saat Xavier menggenggam tanganku. Kami berjalan menyusuri lorong gelap, menuju tempat yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Sinar senter Xavier menerangi dinding-dinding berlumut, menciptakan bayangan aneh yang menari-nari. Akhirnya, kami sampai di sebuah ruangan luas. Di tengah ruangan itu, berdiri sebuah portal besar yang memancarkan cahaya biru misterius.
"Ini adalah pintu keluar dari lingkaran waktu," bisik Xavier, matanya lembut menatapku.
"Jika kita melewati portal ini, kita akan kembali ke masa depan, tapi dengan takdir yang berbeda."
Jantungku berdebar kencang. Aku ragu, sangat ragu. Mengubah takdir? Itu terdengar seperti hal yang gila. Tapi, melihat Xavier yang begitu yakin, aku memberanikan diri. Aku tidak ingin melihatnya terus menderita.
Dengan tangan gemetar, aku meraih tangan Xavier. Bersama-sama, kami melangkah melewati portal. Seketika, dunia di sekelilingku berputar. Aku merasa seperti tersedot ke dalam sebuah pusaran yang tak berujung.
Cahaya menyilaukan membuatku mengerjap. Ketika pandangan mulai jelas, aku mendapati diriku berada di ruangan putih yang steril. Bau disinfektan menyengat hidungku. Di samping tempat tidur, seorang pria berjas putih menatapku dengan senyum tipis.
"Selamat datang kembali," ujarnya, suaranya terdengar asing namun menenangkan.
Aku menoleh ke samping dan melihat Xavier terbaring di ranjang di sebelahku. Matanya masih tertutup, namun wajahnya terlihat tenang.
Aku ingin membangunkannya, namun tubuhku terasa lemas.
"Eksperimen perjalanan waktu kalian telah berhasil," lanjut pria itu.
Kata-kata itu seakan menggema di telingaku. Eksperimen? Perjalanan waktu? Apa maksudnya? Semua ingatan tentang Xavier, tentang cinta kami, tentang perjalanan melalui portal...
Apakah itu semua hanya sebuah mimpi? Atau lebih tepatnya, sebuah simulasi?
Aku mencoba mengingat semuanya, mulai dari pertemuan pertama kami hingga saat kami melangkah melewati portal. Setiap detail terasa begitu nyata, namun sekarang terasa seperti sebuah ilusi.
Apakah semua itu hanya sebuah eksperimen? Apakah perasaan yang kurasakan selama ini hanya sebuah program?
Kecemasan mulai menguasai diriku. Aku meraih tangan Xavier, berharap sentuhannya bisa membantuku kembali ke kenyataan.
Namun, saat jari-jariku menyentuh kulitnya, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Dingin. Tidak bernyawa.
Aku menjerit sekuat tenaga, mencoba memanggil namanya berulang kali dan membangunkannya.
Namun, ia tetap tidak bergerak ataupun merespons. Air mata membanjiri pipiku. Apakah semua ini hanya sebuah lelucon yang sangat kejam?
Aku memeluk tubuhnya erat-erat, berharap keajaiban bisa terjadi. Namun, kenyataan pahit tak dapat dielakkan. Dalam pelukan itu, aku menyadari bahwa kehangatan yang selama ini kurasakan hanyalah ilusi.
Dinginnya tubuhnya menusuk hingga ke relung hatiku. Aku kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mengertiku.