Hujan deras mengguyur kota malam itu, membasahi jalanan yang sepi. Udara dingin menusuk tulang, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan asap kendaraan. Lampu-lampu jalan berpendar redup, menciptakan bayangan panjang yang berkelebat di trotoar.
Di tengah gemuruh hujan, seorang wanita melangkah perlahan di lorong sempit di belakang sebuah gedung tinggi. Kakinya berbalut sepatu hak tinggi hitam, menyentuh genangan air yang membentuk pantulan samar wajahnya. Rania menatap ke depan dengan mata tajam, sorotnya penuh kebencian yang ia simpan bertahun-tahun.
Ia berhenti di depan pintu belakang sebuah gedung perkantoran mewah. Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya. Malam ini adalah puncak dari semua rencana yang telah ia susun selama lima tahun terakhir. Malam ini, Arman—pria yang pernah menghancurkan hidupnya—akan merasakan bagaimana rasanya jatuh dari puncak ke dasar jurang kehancuran.
---
Lima tahun yang lalu…
Rania adalah seorang gadis biasa yang hidup bahagia bersama keluarganya. Ayahnya, Hendra, adalah seorang pengusaha sukses yang membangun bisnisnya dari nol. Ibunya, Rahayu, adalah sosok lembut yang selalu mendukung keluarganya dengan penuh cinta. Mereka bukan keluarga super kaya, tetapi mereka hidup dengan cukup dan bahagia.
Namun, segalanya berubah dalam satu malam.
Ayahnya ditangkap atas tuduhan korupsi. Tuduhan yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya. Bukti-bukti yang disajikan sangat kuat, laporan keuangan, transaksi mencurigakan, hingga kesaksian dari orang-orang terdekat. Semua itu mengarah padanya.
Hendra berteriak, memohon agar semua orang percaya padanya. Namun, hukum tak peduli pada air mata seorang pria yang sudah divonis bersalah di mata publik.
Rania yang saat itu masih berusia 21 tahun hanya bisa menyaksikan dari jauh, tubuhnya gemetar saat melihat ayahnya dibawa pergi dengan borgol di tangan. Ibunya pingsan di tempat.
Dan di antara kerumunan wartawan, berdiri satu orang dengan senyum penuh kemenangan—Arman.
Arman adalah sahabat dekat ayahnya, seseorang yang dulu sering datang ke rumah mereka dan mengaku sebagai bagian dari keluarga. Namun, ternyata dialah dalang dari semua ini. Dialah yang menjebak ayahnya, mengambil alih bisnisnya, dan menghancurkan keluarganya.
Tak ada yang percaya pada tangisan Rania. Tak ada yang peduli pada teriakannya yang mengatakan bahwa semua ini adalah konspirasi. Yang mereka tahu hanyalah berita-berita yang mereka baca di media—berita yang semuanya dikendalikan oleh Arman.
Dalam sekejap, dunianya runtuh. Ibunya jatuh sakit karena depresi, keluarganya kehilangan segalanya, dan Rania dipaksa keluar dari universitas karena tak mampu membayar uang kuliah.
Namun, di saat semua orang mengira ia akan menyerah… Rania memilih untuk bangkit.
Ia bersumpah akan membalas dendam.
Dengan uang terakhir yang dimilikinya, ia pergi meninggalkan kota. Selama lima tahun, ia menghilang dari kehidupan publik. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi atau apa yang ia lakukan. Namun, dalam kegelapan, Rania menempa dirinya.
Ia belajar tentang bisnis, investasi, dan permainan kekuasaan. Ia belajar dari orang-orang yang pernah dirugikan oleh Arman, orang-orang yang juga memiliki dendam tetapi tak berani melawan.
Dan yang paling penting, ia membangun identitas baru.
Kini, ia kembali. Namun bukan sebagai Rania yang dulu—gadis polos yang mudah ditipu.
Sekarang, ia adalah wanita yang akan menghancurkan Arman dari dalam.
---
Kembali ke masa kini…
Pintu gedung terbuka. Rania melangkah masuk dengan percaya diri, gaun hitamnya melambai di balik jas berwarna merah tua yang membungkus tubuhnya.
Ia telah menyusup ke dalam kehidupan Arman sebagai Reina Ardana, seorang investor muda berbakat yang dengan mudah menarik perhatian pria itu. Selama setahun terakhir, ia perlahan-lahan mendapatkan kepercayaan Arman, menyusup ke dalam bisnisnya, dan mengumpulkan semua bukti kotor yang bisa menghancurkannya.
Dan malam ini adalah klimaks dari semuanya.
Di lantai tertinggi gedung itu, Arman duduk di ruang kerjanya yang luas. Pemandangan kota terhampar di balik jendela besar, tetapi pikirannya tidak tenang.
Pintu terbuka, dan Rania masuk tanpa permisi.
Arman menoleh dengan alis berkerut. "Reina? Ada apa malam-malam begini?"
Rania tersenyum tipis. "Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Ia melemparkan beberapa dokumen ke atas meja. Arman mengambilnya dengan kening berkerut, lalu mulai membaca.
Semakin lama ia membaca, semakin wajahnya memucat.
"Apa… apa ini?" Suaranya bergetar.
Rania menyandarkan diri ke meja, menatapnya dengan mata tajam. "Itu adalah bukti bahwa semua asetmu sudah dipindahkan atas namaku. Semua rekeningmu telah diblokir. Saham-sahammu anjlok sejak tadi pagi, dan dalam beberapa jam ke depan, kau tidak akan memiliki apa-apa lagi."
Arman ternganga. "Tidak… ini tidak mungkin… Kau… Kau tidak bisa melakukan ini padaku!"
Rania tertawa kecil, dingin. "Oh, tentu saja bisa. Karena aku bukan Reina Ardana. Aku adalah Rania Hendra. Ingat aku?"
Wajah Arman seketika pucat pasi. Matanya melebar seakan baru saja melihat hantu dari masa lalunya.
"Rania… Tidak… Kau sudah mati…"
"Aku seharusnya mati, kan?" Rania mendekat, menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Seharusnya aku mati bersama keluargaku setelah kau hancurkan segalanya. Tapi sayangnya, aku hidup. Dan aku kembali untuk mengambil hakku."
Arman berusaha bangkit, tetapi lututnya gemetar. "Kau… Kau tak bisa melakukan ini! Aku masih punya pengaruh, aku bisa…"
"Tidak," Rania memotong. "Kau tidak punya apa-apa lagi, Arman. Semua orang yang dulu mendukungmu telah berbalik melawanmu. Media yang dulu kau kendalikan, kini sudah kupengaruhi. Polisi yang dulu kau bayar, kini sudah bekerja untukku. Tidak ada tempat bagimu untuk bersembunyi."
Arman terdiam. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Rania menarik napas panjang, lalu berbalik menuju pintu.
"Selamat menikmati kehancuranmu, Arman," katanya sebelum melangkah keluar.
Arman terduduk di kursinya, tatapannya kosong. Ia tahu… segalanya telah berakhir.
Rania keluar dari gedung dengan kepala tegak. Langkahnya ringan, seakan beban yang selama ini menghantuinya telah menghilang.
Dendamnya telah terbalaskan.
Dan kini, ia bebas.
TAMAT.