Di sebuah desa kecil yang dikelilingi ladang hijau dan langit biru tanpa batas, seorang gadis bernama Laila menemukan sesuatu yang aneh di depan pintu rumahnya—sebuah surat tua dengan namanya tertulis di amplop berwarna kecoklatan.
Anehnya, tidak ada cap pos atau alamat pengirim. Dengan hati berdebar, Laila membuka surat itu dan mulai membaca.
“Untuk Laila,
Saat kau membaca surat ini, mungkin kau sedang bertanya-tanya siapa aku. Aku adalah dirimu, tetapi dari masa depan. Jangan terkejut, karena aku pun terkejut saat menulis ini. Ada sesuatu yang harus kau ketahui. Jangan pergi ke jembatan tua di hutan besok sore. Percayalah padaku, meskipun kau tidak mengerti alasannya.”
Laila terkesiap. Ini pasti lelucon. Tapi siapa yang bisa menulis dengan tulisan tangan yang persis seperti miliknya? Dan bagaimana mungkin seseorang tahu bahwa besok dia berencana pergi ke jembatan tua bersama teman-temannya?
Rasa penasaran terus menghantuinya sepanjang hari. Haruskah dia mengabaikan peringatan itu? Atau sebaiknya dia mengikuti pesan dari ‘dirinya’ yang entah bagaimana datang dari masa depan?
Keesokan harinya, ketika teman-temannya menjemputnya untuk pergi ke jembatan tua, Laila merasa ragu. Tapi akhirnya, rasa ingin tahu mengalahkan ketakutannya.
Namun, di tengah perjalanan, hujan deras turun tiba-tiba. Langit gelap, dan angin bertiup kencang. Saat mereka hampir sampai, suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Jembatan tua itu runtuh diterjang arus sungai yang meluap!
Jantung Laila berdegup kencang. Jika ia tetap pergi lebih awal, ia mungkin akan berada di atas jembatan itu saat runtuh!
Saat itu, dia sadar… surat itu bukan sekadar lelucon. Itu adalah peringatan yang menyelamatkan nyawanya.
Tapi bagaimana mungkin?
Dan pertanyaan terbesar yang masih menghantuinya: jika memang surat itu datang dari dirinya di masa depan… bagaimana caranya ia bisa menulis dan mengirimkannya suatu hari nanti?
Laila menggenggam surat itu erat-erat. Mungkin, suatu hari nanti, dia akan menemukan jawabannya.