Semalam sudah ngetik 2000 karakter, pagi ini mau diterusin eh kok ilang padahal ini cerpen pertama yang mau kutulis. Sudah nulis novel tapi baru 22 bab udah agak macet idenya, berapa bab minimal buat novel ya. Salut memang sama penulis Novel yang keren-keren. Tapi gak putus asa meskipun telat nemuin Novel Toon ini..... kurang mudaan dikit, he he he. Eh rupanya ada tanda disimpan di atas ya?...
Ya udah kugali lagi apa yang sudah kutuliskan tadi malam. Sebenarnya sih sebagian besar memang kutulis berdasarkan pengalamanku sendiri dan ini ceritaku......
" Wil, Willy........"; kudengar teriakan dengan suara cempreng di belakang telingaku. Aku menoleh dengan enggan melihat temanku Maryanto yang berlari-lari anjing, itu istilah buat lari-lari kecil.
Maryanto berjalan mensejajariku dan melanjutkan kalimatnya.
" Baru datang ya, kudengar perusahaan orang tua mu di Balikpapan kebakaran ya, Aku turut berduka"
"Iya tapi gak apa-apa, bukan pengalaman pertama. Sudah 3 kali"
"Udah 3 kali wah kerennnn, udah master dong"; katanya cengengesan.
" Master apaan, enak saja...., yah namanya kebakaran, abis semuanya tapi yang penting optimis bro. Harta bisa dicari, yang penting keluarga ku selamat semua"; jawabku dengan bijak, ceile...... gak salah tuh.... tumben amat...
"Maaf bro, gini Senin kemarin aku inisiatif ngumpulin dana bantuan buatmu, lumayan juga sih dapatnya"
Langsung senang dengarnya, memang lagi butuh duit tapi dari nada suaranya rasanya ada yang ganjil gitu soalnya nih teman yang satu ini agak susah bertanggung jawab soal duit, kalau nyari aku juga biasanya bawaannya minjam mulu buat beli rokok.
"Mana duitnya"; tanpa basa-basi, aku mengulurkan tanganku.
" Wah itulah bro, sorry. Kamu kelamaan datangnya, jadi uangnya kepake.... Gak apa-apa kan, gak banyak kok"; jawabnya sambil cengengesan.
"Halah, gak usah diomongin kalau gitu".
"Kan kasih laporan bro, biar kamu bisa jawab kalau ada yang nanya. Please, tolong jangan bilang aku yang makan ya"; memelas banget nadanya tapi aku tahu dia cuma pura-pura saja karena dia tahu aku tidak bakalan marah kepadanya. Iya sih, gimanapun dia ini sohib terbaikku yang suka kasih bocoran kalau pas ujian dan paling rajin kalau disuruh-suruh, ha ha ha.
" Bro, nanti malam datang lihat pertunjukan penyambutan mahasiswa baru di auditorium, banyak yang bening-bening lho. Cuci mata biar gak sumpek. Sudah kujatahin tempat yang paling mantap dengan pandangan yang luas buatmu"; katanya lagi.
"Kutunggu nanti jam 19.00 malam, jangan telat ya".... Maryanto mengatakannya sambil meninggalkan ku sendiri.
Jangan telat pasti telatlah namun di waktu yang tepat karena paling malas dengar sambutan yang bertele-tele dari Rektor atau yang mewakili, Ketua Senat atau yang mewakili, Ketua Panitia atau yang mewakili, yang semua nyeritain kehebatan masing-masing ujung-ujungnya minta maaf kalau ada kata-kata yang salah yang jelas gak perlu dimaafin karena mereka tidak bakal dengar juga.
Jam 8 malam lewat dikit, aku baru muncul, masuk di ruang auditorium lantai dua di tengah pinggir tembok pembatas kursi dengan ruang di bawahnya. Maryanto sudah duduk manis dengan berapa teman di sana. Saling menepukkan tangan kanan, satu persatu sampai di tempat dudukku, pas anak-anak mahasiswa baru lagi menyanyi paduan suara. Lagunya sih biasa saja tapi teman-teman ku yang heboh, jari ditaruh di antara bibir lalu "suit-suit" berulang-ulang dan bergantian waktu lihat wajah-wajah bening mahasiswi baru bikin marah yang duduk di bawah kami dan Dosen bagian kemahasiswaan sudah berdiri dari duduknya, melambaikan tangan memberi syarat agar kami diam.
Buatku sendiri, tidak ada perempuan yang bisa menggetarkan hatiku. Aku tidak pernah percaya diri untuk menghadapi perempuan, aku punya pengalaman buruk dengan perempuan saat SMP, seorang gadis yang lebih dewasa daripada ku menggodaku dan aku benar-benar terpesona dengannya. Dia mengisi hari-hariku dengan keindahan dan aku pun tidak segan-segan memberikan semua uang jajanku padanya, membelikan semua yang dia inginkan bahkan aku berani mencuri uang bapakku saat dia mengatakan dia membutuhkan uang yang sangat besar jumlahnya sehingga aku dihukum dengan sadis oleh bapakku saat pada akhirnya bapakku tahu aku mencuri uang darinya.
Sebenarnya aku tidak perlu mencuri, aku cukup katakan berapa yang kumau dan bapakku akan memberikan uang itu padaku namun aku malu untuk memberitahu bapakku bahwa aku membutuhkan uang itu untuk wanita ku tapi pada akhirnya aku juga tahu, bapakku tetap akan memberikan uangnya untuk ku apapun alasannya.
" Bapak tidak mau kau menjadi pencuri. Uang bapak juga uangmu tapi ada saatnya nanti semua uang bapak, perusahaan dan semua yang bapak miliki akan jadi milikmu. Tinggal minta saja apa susahnya"; kata bapakku sambil memukul jari-jari ku dengan penggaris dan aku disuruhnya berlutut semalaman di ruang belajarku tapi aku tahu bapak menahan rasa sakit di matanya. Dia tidak tega tetapi dia memaksakan dirinya untuk menghukum ku karena aku memang perlu dihajar agar aku tidak mengulangi lagi perbuatan burukku dan aku benar-benar kapok. Sejak saat itu bukan hanya aku tidak mencuri lagi tetapi aku belajar untuk tidak menggunakan uangku untuk hal-hal yang tidak perlu apalagi untuk perempuan yang tidak jelas.
Akhirnya aku juga tahu aku hanya dipermainkan, perempuan itu ternyata hanya memperalat ku untuk memenuhi kebutuhan pacarnya yang pengganguran dan cuma tahu bersenang-senang. Saat aku mengetahuinya dan menegurnya, perkataannya sungguh sangat melukai hatiku.
" Memangnya kenapa? kau mau nengaturku, emang aku pacarmu? Lihat wajahmu, apa cukup tampan sehingga bisa mempesonaku, tubuhmu juga kecil, enggak jantan. Aku juga tidak akan berteman denganmu kalau engkau tidak banyak duit dan bapakmu bukan orang kaya. Selain duitnya, apa ada yang menarik darimu"
"......"; aku hanya terdiam mendengar kata-kata nya.
Aku pergi meninggalkannya dengan setengah jiwaku terlarut bersamanya dan sejak saat itu aku tidak mau mengandalkan kekayaanku untuk menarik hati wanita. Aku mengganti semua pakaian dan aksesori bermerek dengan pakaian, sepatu sederhana yang tidak berharga mahal. Aku benar-benar mau mendapatkan gadis yang tidak peduli siapa aku tetapi gadis seperti itu apa masih ada lagi di dunia ini?
Tetap saja saat aku kuliah ada gadis-gadis yang tahu latar belakang keluarga ku dan mereka tetap mendekati ku meskipun aku berpakaian sederhana dan tetap setia dengan motor bututku. Bapakku lebih suka aku bawa mobil tapi aku sendiri tetap lebih senang naik motor, lebih adem. Kata gadis-gadis itu, wajahku cukup tampan tapi aku sungguh tidak lagi percaya diri, aku selalu takut mereka memperalat ku.
Memperhatikan kembali gadis-gadis yang berjajar rapi memasuki panggung di tengah ruangan auditorium itu, tiba-tiba aku terhenyak, dari semua gadis itu ada seorang yang sangat menarik perhatianku. Seorang gadis yang tinggi semampai, pakai kacamata hitam, pakai anting-anting tiga buah di telinga kiri. Kulitnya cukup putih dan alisnya tebal tapi perasaan badannya agak kekar.
Aku tidak bisa menahan diriku lagi, aku pun berdiri dan melambai-lambaikan tanganku mengikuti irama lagu. Semua temanku terbengong melihatku, aku cuek saja, he hehehe.
Bagaimana mereka tidak terbengong lha yang di depan sedang menyanyikan lagu: Padamu negeri.
Dengan malu aku kembali duduk dan menyorongkan kepalaku kepada Maryanto.
"To, kamu tahu gadis itu"; Sambil menunjukkan jariku ke depan.
"Yang mana?"; Tanya Maryanto dan baru kusadari, mereka sudah berbaris ke luar ruangan....
"Oh mereka mahasiswi dari jurusan Akuntansi"
"Waduh bahaya....."; gumamku, mereka musuh bebuyutan kami selama ini.
" Gak apa-apa, gunung tinggi pun akan kudaki, lautan api pun akan kuseberangi untuk gadisku"
Semalaman jadi gak bisa tidur mikirin wajah imut dari gadisku.
Keesokan harinya dengan tidak sabar aku segera bangun pagi, mandi dan menyemplak motorku untuk berangkat ke Kampus.
" Tumben tuan muda sudah bangun"; kata bibi Inem yang tidak sexy karena udah tuwir.
Aku pura-pura gak dengar omongannya, langsung kabur sampai lupa sarapan. Jadi aku menggigit paha ayam goreng di mulutku dan kabur....
Masuk di area universitas negeri yang cukup luas itu, musti hati-hati kalau belok, sekali salah belok jauh baliknya meskipun ada jalan-jalan tikus yang sangat baik untuk mempercepat sampai tujuan tapi jalannya sempit dan sering macet juga karena banyak yang menggunakannya.
Aku memarkirkan motorku di parkiran dan mulai menjelajahi kampus jurusan akuntansi sambil mengedarkan pandanganku untuk mencari gadisku.
"Kok gak ada ya, apa belum datang. Harusnya gak berapa sulit karena kampus akuntansi ini kelasnya tidak banyak hanya 16 kelas saja".
Aku melewati setiap kelas dan melongokkan kepalaku, mengedarkan mataku mencari-cari bayangan gadisku. Lumayan pegel juga soalnya kelas ke 12-16 itu ada di lantai ke tiga.
Berapa orang kutanyai tetapi mereka semua menggelengkan kepalanya, berapa orang kelihatannya mencurigai ku apalagi mengenaliku dari musuh kampus mereka.
Tidak lama empat orang mahasiswa semester akhir mendekatiku, seorang merangkul leherku dan mereka membawaku ke hutan kecil di belakang kampus mereka.
" Ada apa mas lihat-lihat kampus kami, mau cari perkara ya".
"Enggak, cuma cari gadisku saja"; keceplosan ngomong.
Bug .. tanpa aba-aba, sebuah pukulan upper cut mengenai perutku dan aku terjatuh mules.
" Enak saja, kami tidak pernah memberikan gadis-gadis kami ke orang berengsek seperti kalian"
Seorang lagi mengayunkan tinjunya dan aku menangkap nya, memutar tangannya dan membantingnya dengan gerakan smack down. Orang kedua menendang ku tapi aku merendahkan badanku dan mendorongnya sehingga dia terjengkang. Tanpa ragu-ragu aku melawan mereka dan empat orang itu tidak berarti untukku sebagai pemegang ban hitam di Jiu Jitsu. Dengan cepat aku merobohkan keempatnya.
Aku berdiri dengan waspada dan menantikan serangan berikutnya tapi....
"Cukup, cukup mas, cuma ngetes saja"; kata seorang yang kelihatan pemimpinnya sambil membersihkan bibirnya yang sedikit Jontor.
Kami pun duduk bersama di bawah pepohonan itu.
" Gadis mana yang kau cari";
"Mahasiswi baru, pakai kacamata hitam, anting-anting nya tiga model tengkorak,; aku memberikan deskripsi nya dengan baik.
" oh yang badannya agak kekar itu ya bro, kaki kesebelasan dan badan petinju ya"; dia mengejek gadisku, rasanya mau kuhajar lagi ini orang.
" Maaf bro, bercanda saja"
" Tapi bener-benerkah bro, dia yang kau maksud".
" Maaf gak salahkah, ada gadis-gadis kami yang lebih cantik, keren dan anak orang kaya, mau yang mana nanti kami kenalin"
Duh ini orang nyebelin amat, tadi tanpa basa-basi mukulin aku, sekarang malah seenaknya nawarin gadis-gadis kayak milik mereka saja...
"Aku cuma mau gadisku, tidak yang lain "
"Oke, Oke bro terserah kau saja"
" Tapi kau harus gerak cepat bro, soalnya kudengar dia sudah mau balik ke kotanya Minggu depan"
"Lho kok cepat bener".
" Dengar-dengar sih mau dikawinkan sama bapaknya, gak bisa bayar uang kuliahnya, jadi mau dikawinin saja"
"Hah, masih ada pemaksaan kehendak gini di jaman sekarang"
Mereka memberikan informasi yang kubutuhkan, nama dan nomor hp...
" Terimakasih bro, senang berkenalan dengan mu, eh omong-omong siapa namamu?. Aku Joko" katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
" Willy"
" Aku Jonson"
"Willy"
"Aku Marvel"
"Willy"
Lumayan meskipun sempat gebuk-gebukan tapi dapat empat teman baru dari pihak musuh kampusku.....
Kami berpisah dengan damai setelah mereka memberiku informasi yang kubutuhkan dan tempat yang tepat untuk menemuinya.
Musti gerak cepat ini, tembak langsung saja dah.
Sesudah menyimpan nomor hp nya di kontakku, aku menghubungi WA nya dan mengirimkan rangkaian kata-kata pujangga sana.
"Selamat siang mba"
" Selamat siang, ada perlu apa mas"
"Boleh kenalan kah mba, namaku Willy , mahasiswa semester akhir dari jurusan management"
"Oh ya, aku Juli, tahu darimana ya mas"
" Aku lihat mba waktu nyanyi paduan suara di auditorium"
" Mba pasti tahu aku deh, aku yang duduk di balkon yang nyanyi sambil melambaikan tangan waktu kalian nyanyi padamu negeri itu"
" Oh iya,. mas yang itu ya. Wah mas langsung populer lho. Teman-teman ku pada ngomongin mas nya habis acara"
" Bener-bener konyol mas Willy ini"
" Konyol iya bener mba soalnya aku lihat mba, aku langsung jatuh hati"
" Ha ha ha, mas Willy ini lucu sekali, masak baru lihat sekali langsung jatuh hati"
" Bener mba Juli, aku sulit jatuh cinta tapi aku cinta kamu pada pandangan pertama"
" Masak masih ada cinta pandangan pertama jaman ini mas"
"Biasnya kan cinta pada pandangan pribadinya, punya mobil pribadi, Villa pribadi, kekayaan pribadi, he he ye"
" wah mba Juli ini suka becanda juga, tambah cinta saja aku"
"Jangan buru-buru nyatakan cinta mas, nanti kecewa lho kalau aku tidak memenuhi ekspektasi mu"
" Kok buru-buru sih mas, kan belum kenal jauh"
" Soalnya kudengar dua hari lagi kamu mau pulang, kenapa berhenti kuliah, kan baru masuk, katanya mau dikawinkan bapakmu ya"
"Ah mas jangan terlalu cepat menyimpulkan berita yang baru kau dengar"
" Gini saja, besok sore, kita temuan di cafe Mutiara di depan kampus ku ya"
" Khusus buat mas, aku akan terus terang kenapa aku mau keluar kuliah"
" Karena aku betul-betul terharu ada cowok yang menyatakan cinta pandangan pertama padaku"
" Jam berapa mba"
"Jam 3 tepat, oke"
" Oke mba, terimakasih ya"
"Sama-sama"
Maka berakhirlah chat wa kami yang pertama dan moga bukan yang terakhir...
Sesudah semalaman susah tidur karena membayangkan bagaimana acara kencan kami eh kencanku yang pertamakali sesudah aku menginjak dewasa, paginya malah aku tertidur pulas sampai siang jam setengah tiga sore . Itupun dibangunkan oleh telpon Maryanto yang mencari ku seharian di kampus.
Drrt deret drrrt
" Woy kemana saja bro, aku nyari kamu seharian, kok malah molor" ; kata Maryanto yang mendengar gumaman ku dan tahu kalau aku baru bangun tidur.
" Hah, jam berapa ini To"; tanyaku sambil mengejap-ngejapkan mataku.
"Udah sore, jam setengah tiga an bro"; Waduh aku lupa kencanku.... Tanpa memperhatikan ucapan Maryanto yang menerangkan untuk apa dia mencari ku, aku cepat-cepat mencuci muka, berkumur tanpa sikat gigi lagi.
Mengeluarkan motor ku dan kabur sekencang-kencangnya tanpa mempedulikan teriakan bibi Inem yang mengingatkan ku untuk merapel sarapan dan makan siangku.
Untung pas waktu aku sampai di cafe Mutiara dan kulihat gadisku duduk di kursi depan meja bundar di bawah pohon Kamboja depan Cafe
Aku segera menghampirinya, dia tetap memakai kacamata hitamnya dan memakai kaos casual ditambah rompi hijau muda dengan celana jeans dan sepatu kets yang kurasa kok agak besar ukurannya.
Dia berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya, aku menyambutnya dan bersalaman dengan nya.
" Willy"; suaraku agak bergetar karena malu, tidak sepercaya diri seperti saat aku mengetik di wa.
"Juli"; suaranya agak ngebas tetapi aku tidak mempedulikan hal itu, hanya terasa telapak tangannya agak kasar.
" Pasti biasa kerja keras" ; pikirku.
Kami kembali duduk berhadapan.
" Mau minum apa mas"
" Kopi Cappucino saja"; dia memanggil pelayan cafe dan memesankan kopi Cappucino untuk ku dan kopi hitam tanpa gula untuk nya.
"......" selera yang unik untuk seorang gadis....
"Aku tidak bisa berkata-kata, lidahku terasa kelu, jadi aku hanya menunggu dia memulai pembicaraan... dan setelah menunggu sekian lama akhirnya dia berkata kepadaku.
" Mas maaf mungkin aku akan mengecewakanmu"
" Apa...apakah engkau akan menolak cintaku"; jawabku dengan enggan.
" Enggak mas sebenarnya aku senang sekali tapi......"
" Tapi kenapa mba....."
" Enggak kenapa-kenapa juga sih mas tapi sebelum aku memutuskan menerima dirimu jadi pacarku, aku mau engkau benar-benar menerimaku apa adanya" ; Jawabnya sambil menatap mataku.
Oppo senangnya aku mendengar dia menerima cintaku, sekarang aku siap menerima keadaan dirinya, mau dia anak orang miskin, bodo amat.
Kalau bapaknya mau mengawinkannya secara paksa dengan orang yang tidak dicintainya, aku akan merebutnya. Membayar berapapun harga yang mereka pinta karena aku percaya bapakku pasti mau menyediakan uang yang kubutuhkan.
Aku sangat tidak sabar untuk mendengarkan penjelasannya .....
" Mas sebenarnya aku mau pulang, bukan karena aku mau dikawinkan sama bapakku atau karena aku tidak sanggup bayar uang kuliah tapi...... "
"Tapi apa Jul";
Aku mengubah panggilanku dari mba langsung namanya saja kan dia sudah resmi menerimaku untuk menjadi gadisku.
" Ya sebenarnya aku malu mengatakannya tapi karena mas Willy tulus mau menerimaku maka akan kujelaskan dengan sejujurnya"
Sementara pelayan cafe menyajikan kopi Cappucino untuk ku dan kopi hitam tanpa gula untuk nya.
Aku menyesap kopiku dengan perlahan dan Juli pun menyesap kopinya dengan kuat. Tahan panas juga dia....
" Begini mas, sebenarnya ini hanya alasan dari pihak rektorat untuk tidak menjadikan keluarku dari universitas ini sebagai skandal"
" Skandal, skandal apa?,"
Bayangan bahwa skandal yang dimaksud adalah skandal perselingkuhan dengan salah satu dosen atau mungkin dekan dan rektor, itu membuat hatiku serasa nyeri, apa aku harus patah hati lagi atau aku akan mengabaikannya asal dia mau bersungguh-sungguh meninggalkan selingkuhan nya dan benar-benar jadi pacarku seorang.
" Bukan skandal perselingkuhan mas"; Juli seolah-olah dapat menebak pikiran ku.
Aku memegang cangkir kopi ku kuat-kuat, menyesapnya sekali lagi dan menunggunya meneruskan ucapannya...
" Skandal ini mas"; Juli menitikkan air mata dan aku hampir mengulurkan tanganku untuk menghapus air mata itu dari pipinya tapi tanganku terhenti saat dia meneruskan ucapannya.
" Aku memalsukan data diriku, menggantikannya dengan data-data adikku dan mereka mengetahui nya mas jadi pihak rektorat memberhentikan dan memintaku meninggalkan kampus"; Juli menghentikan kata-kata nya dan menunggu penerimaanku....
" Data-data apa yang kau palsukan"; hatiku sungguh berdebar tidak karuan.
" Bahwa....bahwa sebenarnya aku laki-laki mas dan namaku memang Juli tapi Julianto"....
"............"
Bletak....
aku menendang meja di hadapan ku dan pingsan........... Juli entah sudah kabur kemana......