Senyum itu selalu ada di mejanya setiap pagi. Sebuah kertas kecil berisi tulisan tangan rapi yang menghangatkan hatinya di tengah kesibukannya sebagai mahasiswi tingkat akhir.
“Jangan lupa sarapan, hari ini pasti menyenangkan!”
Naya tersenyum kecil. Sejak sebulan lalu, ia selalu menemukan pesan-pesan seperti ini di atas meja belajarnya di perpustakaan kampus. Awalnya, ia mengira itu hanya kebetulan atau mungkin teman-temannya yang iseng. Namun, tidak ada yang mengaku. Dan anehnya, pesan itu selalu muncul di tempat yang sama, tepat saat ia pergi sebentar untuk mengambil buku atau ke kamar kecil.
Siapa orangnya?
Hari ini, Naya memutuskan untuk mencari tahu. Ia datang lebih awal dari biasanya, duduk di tempat favoritnya dekat jendela, lalu pura-pura sibuk membaca. Tapi sesekali, ia melirik ke sekeliling.
Satu jam berlalu, tak ada tanda-tanda siapa pun yang mendekati mejanya. Ia mulai berpikir mungkin kali ini tidak akan ada pesan. Namun, tepat saat ia bangkit untuk meregangkan badan, seorang pemuda dengan jaket abu-abu mendekat. Ia menyelipkan secarik kertas di atas meja, lalu cepat-cepat pergi sebelum Naya sempat melihat wajahnya dengan jelas.
Dengan jantung berdebar, Naya mengambil kertas itu.
“Hari ini cerah, seperti senyummu. Semoga harimu menyenangkan, Naya.”
Ia mengenali tulisan itu. Hatinya semakin penasaran. Siapa dia? Dan bagaimana dia tahu namanya?
Hari-hari berikutnya, Naya semakin giat mencari tahu identitas si pengagum rahasia. Ia mulai memperhatikan setiap orang yang datang ke perpustakaan, mencatat wajah-wajah yang mencurigakan. Sampai suatu hari, tanpa sengaja, ia melihat seseorang duduk di pojok ruangan, menatap ke arahnya dengan gugup.
Itu dia.
Naya pura-pura tidak tahu, lalu pergi sebentar ke rak buku. Dari sela-sela rak, ia melihat pemuda itu bangkit dan menuju mejanya. Saat itulah Naya memberanikan diri mendekat.
“Kamu yang menulis pesan-pesan itu, kan?” tanyanya pelan.
Pemuda itu terkejut, wajahnya memerah. Ia adalah Raka, mahasiswa seni yang sering terlihat menggambar di taman kampus.
“Aku… hanya ingin menyemangatimu,” jawabnya ragu. “Aku sering melihatmu di sini, dan kupikir… mungkin kamu butuh sedikit semangat.”
Naya tersenyum. “Terima kasih. Aku suka pesannya. Tapi lain kali, bagaimana kalau kita ngobrol langsung saja?”
Raka terdiam sejenak, lalu tersenyum malu-malu. “Boleh.”
Dan sejak saat itu, tidak ada lagi pesan-pesan rahasia di meja Naya. Tapi ada satu hal yang berubah—seorang teman baru yang selalu siap mengobrol, berbagi cerita, dan mungkin… sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan.