Di sebuah malam yang cerah, sekelompok remaja berkumpul di rumah milik Kevin, salah satu teman sekelas mereka. Musim panas baru saja dimulai, dan sekolah libur selama dua bulan. Suasana di rumah itu riuh rendah, penuh tawa dan canda. Ada lima orang yang hadir malam itu: Kevin, Mia, Farhan, Sarah, dan Dimas. Mereka semua duduk melingkar di ruang tamu, dikelilingi oleh cemilan dan minuman ringan. Di tengah-tengah mereka, ada sebuah botol kosong yang berputar-putar di atas meja.
"Sudah siap bermain?" tanya Mia dengan senyum nakal di wajahnya.
"Yup, kita main Truth or Dare, seperti yang biasa kita lakukan, kan?" jawab Kevin, menggoda.
"Baiklah, kalau begitu, siapa yang mulai?" tanya Dimas, mengangkat alisnya.
Mereka semua saling pandang, dan akhirnya memutuskan untuk memulai dengan Mia. Mia tertawa, merasa sedikit tegang, meskipun dia sudah sering bermain permainan ini sebelumnya.
"Truth or dare, Mia?" tanya Farhan dengan nada menggoda.
"Truth," jawab Mia dengan cepat, terlihat sedikit ragu. Dia tahu bahwa permainan ini bisa berubah menjadi sangat canggung.
Farhan tersenyum lebar. "Oke, kalau begitu... siapa orang yang paling kamu sukai di antara kita semua?"
Mia terdiam sejenak. Matanya berkeliling, menghindari pandangan teman-temannya yang penasaran. Kemudian, dia menghela napas, merasa tidak ada jalan keluar.
"Kevin," jawab Mia pelan, matanya menatap ke bawah, merasa canggung.
Semua orang terdiam sesaat. Kevin, yang biasanya tampak santai dan tidak terkejut oleh apapun, tampak sedikit terkejut. Namun, dia segera tersenyum, meskipun ada rasa canggung di antara mereka.
"Oke, sekarang giliran kamu, Kevin," ujar Sarah dengan suara lembut, mencoba mengurangi ketegangan yang tiba-tiba terasa di ruangan itu.
Kevin menarik napas panjang, mencoba untuk mengembalikan suasana menjadi lebih santai. Dia menatap botol yang kini menunjuk ke arah Dimas.
"Dimas, truth or dare?" tanya Kevin dengan senyum nakal di wajahnya.
"Dare," jawab Dimas dengan yakin, tidak takut untuk menghadapi tantangan apapun yang akan diberikan.
Kevin berpikir sejenak, lalu tersenyum lebar. "Oke, aku tantang kamu untuk menyebutkan nama orang yang paling kamu sukai di sekolah. Sejujurnya, Dimas, kita semua sudah tahu ada seseorang yang kamu sembunyikan."
Dimas menatap Kevin, mulutnya terbuka seakan tidak percaya. "Apa?! Itu benar-benar tantangan yang sulit, Kevin."
Namun, meskipun Dimas merasa malu, dia akhirnya membuka mulutnya dan berkata, "Aduh... oke, kalau kalian benar-benar ingin tahu... itu adalah Sarah."
Sarah terkejut, wajahnya memerah. Dia menatap Dimas, tidak tahu harus bagaimana.
"Wow, aku tidak tahu itu!" kata Farhan sambil tertawa keras, sementara Mia tersenyum geli.
Namun, ketegangan yang ada tidak bertahan lama, karena mereka terus melanjutkan permainan dengan tawa dan gurauan. Tetapi, ketika giliran Sarah tiba, suasana tiba-tiba berubah menjadi lebih serius.
"Sarah, truth or dare?" tanya Mia, yang mulai merasakan ada sesuatu yang aneh dengan permainan malam itu.
"Truth," jawab Sarah dengan suara yang sedikit ragu.
Mia memandangnya dengan tatapan intens. "Apakah kamu pernah merasa cemas atau takut jika ada rahasia yang harus kamu simpan? Rahasia yang jika terungkap, bisa merusak hubunganmu dengan orang lain?"
Sarah terdiam sejenak, wajahnya menjadi lebih pucat dari biasanya. Semua teman-temannya bisa merasakan ada sesuatu yang berat dalam pertanyaan itu.
"Aku... aku pernah menyembunyikan sesuatu," jawab Sarah akhirnya, suara seraknya hampir tak terdengar.
Mereka semua terdiam, menunggu kelanjutan dari jawaban Sarah. "Apa itu?" tanya Kevin, sedikit tidak sabar.
Sarah menggelengkan kepala, menatap botol yang berputar di meja. "Aku tidak bisa memberitahukan itu," katanya dengan suara pelan. "Bukan karena aku tidak percaya padamu semua, tapi ini terlalu besar. Aku takut jika aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, semuanya akan berubah."
Farhan menatap Sarah dengan tatapan serius. "Apa yang sebenarnya terjadi, Sarah? Kamu tidak perlu menyembunyikan apapun dari kita. Kita teman."
Namun, Sarah hanya terdiam. Wajahnya semakin cemas, dan tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya. Tiba-tiba, Mia berkata dengan lembut, "Kamu tidak perlu menceritakannya sekarang, Sarah. Jika kamu siap, kita akan mendengarkanmu."
Suasana menjadi hening. Semua orang bisa merasakan ketegangan yang muncul begitu mendalam. Bahkan, Kevin, yang biasanya santai, kini terlihat lebih serius dari biasanya. Mereka semua tahu, bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di antara mereka. Namun, permainan ini berlanjut, meskipun tidak ada yang merasa seutuhnya nyaman.
Giliran Dimas sekarang, dan botol yang berputar menunjuk ke Mia.
"Mia, truth or dare?" tanya Dimas, dengan nada lebih santai.
"Dare," jawab Mia, berusaha kembali mencairkan suasana.
Dimas tersenyum lebar, lalu memberikan tantangannya. "Kamu harus mengungkapkan rahasia yang belum pernah kamu ceritakan kepada siapa pun. Sesuatu yang belum pernah kamu bagikan ke kami."
Mia menelan ludah, matanya berbinar seakan terkejut dengan tantangan yang diberikan. "Aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana," katanya perlahan, menyandarkan punggungnya pada kursi. "Ada sesuatu yang terjadi beberapa bulan yang lalu, dan aku... aku merasa takut jika semuanya terbongkar."
Semua teman-temannya menatap Mia, merasakan ketegangan yang mulai membanjiri ruang tersebut. Mia mengambil napas panjang dan akhirnya berkata, "Aku pernah bertemu seseorang yang bukan dari sekolah kita. Aku tahu dia bukan orang baik, tapi aku terjebak dalam situasi yang membuatku merasa tidak bisa keluar. Aku takut jika aku memberitahukan ini, orang itu akan membahayakan kalian semua. Itu kenapa aku tidak pernah menceritakannya."
Kali ini, semua orang terdiam. Mereka tahu, ini bukan sekadar permainan biasa lagi. Semuanya merasa ketakutan, merasakan betapa permainan Truth or Dare malam itu bukan hanya tentang kejujuran dan tantangan, tetapi tentang rahasia-rahasia yang lebih gelap yang tak pernah terungkap sebelumnya.
Mia menundukkan kepala, matanya berkilat dengan air mata yang hampir jatuh. "Aku merasa terperangkap. Tidak ada jalan keluar. Tapi aku takut kalian akan menganggapku lemah jika aku memberitahukan semuanya."
Kevin, yang awalnya canggung, akhirnya berdiri dan mendekati Mia. "Mia, kita semua di sini untukmu. Kita teman. Jangan takut untuk menceritakan apapun yang kamu simpan. Tidak ada yang akan menghakimi."
Sarah, yang masih tampak tertekan, menambahkan, "Benar. Kita bisa menghadapinya bersama."
Mia akhirnya mengangguk, menghapus air mata yang hampir jatuh, dan berkata, "Aku akan menceritakannya. Tapi aku ingin kalian tahu bahwa setelah ini, mungkin semuanya akan berubah."
Di tengah malam yang tenang, mereka akhirnya mulai berbicara tentang rahasia yang lebih besar dari yang mereka kira. Rahasia yang melibatkan seseorang yang selama ini mereka percayai, yang ternyata menyembunyikan kebenaran yang mengerikan.
Truth or Dare, yang pada awalnya hanya permainan ringan, berubah menjadi sebuah pengungkapan yang mengubah persahabatan mereka selamanya.