Nuri pacaran Ridha sudah ada satu tahun enam bulan. Bahkan ibu Pertiwi, orang tua kandung Nuri sudah setuju jika Nuri menikah dengan Ridha.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga saatnya Ridha menemui calon mertuanya ~ ibu Pertiwi. Kedatangannya disambut baik, Ridha datang langsung direstui karena memang mereka sama-sama menempuh jenjang pendidikan Sarjana.
"Nak, ibu akan berobat ke rumah sakit." Ucap ibu Pertiwi pada putrinya. Nuri anak tunggal jadi dia adalah harapan ibu Pertiwi satu-satunya.
"Baiklah bu, nanti aku sampaikan pada ayah." Ujar Nuri lembut, mereka sedang mengobrol dalam kamar ibu. Ayah Utomo sedang ke kantor, dia bekerja di kantor desa sebagai staf pemerintahan.
"Iya nak." Ucap ibu lagi. Sorenya ketika ayah Utomo pulang, Nuri langsung mengatakan pada ayahnya jika ibu minta di rawat. Ayah menyetujuinya saja.
Saat tiba di rumah sakit, Nuri selalu merawat ibunya dengan sabar dan penuh kasih sayang. "Nak, mana kekasihmu? Ibu ingin bertemu." Ujar ibu Pertiwi.
Nuri diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena memang sebelumnya dia pernah mengajak Ridha untuk datang ke rumah menjenguk ibu Pertiwi tapi tidak ada respon.
Setelah satu minggu tidak ada kabar dari Ridha, maka Nuri berinesiatif untuk memutuskan hubungan mereka tanpa kejelasan. Meski Nuri masih sangat menyayangi kekasihnya.
"Kita sudahi saja hubungan ini, kita jalan masing-masing." Pesan Nuri terkirim tanpa ada balasan. Nuri hanya bisa menghela nafas berat.
Saat ibunya bertanya maka Nuri menjawab. "Maaf bu, hubungan kami telah berakhir." Jawab Nuri jujur meski masih ada cinta dihatinya.
"Nak, nanti kalau kamu mau menikah, carilah laki-laki setia yang sholeh, dan masih memiliki kedua orang tua." Pesan sang ibu. Nuri hanya mengangguk patuh.
"Aku akan merelakanmu, seperti kamu yang tega mengabaikanku." Batin Nuri kecewa pada mantan kekasihnya. "Tuhan menegurku agar aku tidak terlalu berharap pada manusia, karena memang hanya Tuhan lah yang patut dipercaya sepenuhnya." Sambungnya dalam hati.
Keesokan harinya tanpa Nuri duga bahwa itu pesan terakhir sang ibu.
Deg
"Ibu Pertiwi telah berpulang." Ujar dokter yang menangani. Nuri diam mematung, dia tidak mampu lagi berkata-kata, tubuhnya tumbang tanpa bisa dia topang.
"Ibu." Gumamnya lirih. Dia hanya mampu menangis dalam diam, semua sudah berakhir dan dia harus mampu menjalankan wasiat sang ibu untuk terakhir kalinya.
Genre: Fiksi
Misteri
Tragedi
"CERPEN INI SAYA BUAT UNTUK EVENT GC FUKANO WITH FRIENDS"