Sebelas tahun, aku menjalani sebelas tahun terakhir hidupku dengan menyerahkan semuanya pada takdir. Aku tidak pernah benar-benar menginginkan sesuatu. Apapun itu. Hidupku sudah aku serahkan semuanya padanya. Apa yang akan terjadi, apa yang tidak terjadi, apa yang jadi pilihanku, aku tidak menginginkan itu.
Mungkin aku sudah berdamai dengan takdir. Tapi sebagian dari diriku masih terikat dengan masalalu. Sebagian dari diriku masih belum berdamai dengan hatiku sendiri. Aku masih terlalu takut dengan semua perasaan senang. Dengan harapan. Dengan perasaan berlebihan.
Jadi, selama sebelas tahun ini, aku menjalani hidupku dengan tenang, biasa, datar.
Kemudian kali ini, takdir sekali lagi memberiku kejutan.
---
“Hari ini Andrean Mikela akan datang!” ucap Pak Kusuma, dengan kumis lebatnya yang ikut bergerak saat ia berbicara. Beliau adalah manager Rumah Seni, tempatku bekerja.
Ah, dan ya, ini kali pertama aku ikut dalam sebuah persiapan pameran. Aku masih jadi pegawai magang. Baru dua minggu sejak aku diterima dan mempelajari semua hal. Saat aku datang semua orang sedang sibuk dengan pameran yang akan dilaksanakan bulan depan.
Pameran Lukisan karya Andrean Mikela. Seorang pelukis muda asal Indonesia Lulusan NAFA, Nanyang Academy of Fine Arts, yang sudah dikenal di dunia seni. Tidak hanya di Indonesia. Dia bahkan terkenal sampai Eropa dan Amerika
Andrean Mikela.
Baiklah, aku akan mengingat nama itu. Orang pertama. Aku mengerjakan persiapan pameran dengan Rumah Seni untuk Andrean Mikela.
---
Seperti yang sudah semua orang bayangkan. Tampan, muda, berkarisma, matanya hitam –khas indonesia-, juga tinggi tegap. Pantas saja semua wanita bersorak saat tahu Andrean Mikela akan datang. Dia mungkin sekelas dengan Nicholas Saputra atau Herjunot Ali, kalau dia artis. Ah, benar, dia memang artist, dia pelukis.
Aku tahu ini gila, tapi saat melihat senyumnya, ada sesuatu disana. Ingatan atau sesuatu seperti de javu. Atau karena wajah itu terpampang di poster di papan pengumuman di dinding kantor, yang setiap hari aku lihat selama dua minggu ini. Tapi wajah itu terasa tidak asing.
Kemudian matanya berhenti, menatap mataku. Dia tersenyum lagi. Aku membeku.
---
Tiga minggu menuju pembukaan pameran.
Hari ini Sarah tidak masuk kerja. Dia demam tinggi. Jadi, aku yang sedikit membereskan pekerjaannya. Untung saja sebagian besar pekerjaan sudah diselesaikan Sarah sendiri. Jadi, aku hanya mengambil sebagian yang bisa aku kerjakan.
“Kamu belum pulang?” tanya suara itu di belakangku.
Aku menoleh terlalu cepat dengan kaget. Hampir terjatuh.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu,” kata pemilik suara itu sambil memegangi pundaku yang terhuyung.
“Oh, maaf, aku- em- aku tidak seimbang-“ kataku terbata sambil melepaskan diri.
Andrean Mikela. Dia membuatku kaget.
Sambil tersenyum meminta maaf dia memperhatikan aku yang kembali menghadap mejaku. Kemudian berbalik lagi padanya.
“Aku belum pulang. Ini pekerjaan terakhir. Aku akan pulang setelah ini. Silakan pulang lebih dulu,” kataku selanjutnya. Aku menatapnya, dia masih tersenyum.
“Em, kalau tidak salah namamu Kirana, kan? Nah, apa kau sudah makan malam? Kau mau menemaniku makan malam?” tanyanya.
Aku bengong.
“Aku traktir. Kamu sudah bekerja keras sendiri hari ini. Bagaimana?”
Aku mengerjap, “Tidak, terima kasih,” jawabku.
Tapi entah bagaimana dia berhasil membuatku duduk di depan meja panjang di pinggir jalan ini. Dia bilang tempatnya tidak jauh, dan aku menyetujuinya, dan warung nasi goreng ini terletak di seberang Rumah Seni. Aku tersenyum, orang ini tidak bisa ditebak.
“Jadi apa sebenarnya cita-citamu? Keinginanmu?” tanyanya tiba-tiba setelah aku menjawab bahwa aku sampai di sini hanya karena takdir. Aku mengikutinya.
“Apa kau pernah patah hati?” tanyaku. “Aku pernah. Aku hanya pernah patah hati, dan impianku, cita-citaku sudah patah sejak saat itu. Tahu rasanya tidak punya harapan? Aku menjalani hidup dengan seperti itu. Mungkin terdengar gila, tapi aku tidak mau berharap. Aku, aku takut. Aku selalu ketakutan. Aku takut aku berharap terlalu banyak. Aku takut akan kehilangan semuanya lagi. Jadi, yang kulakukan sisanya adalah mengikuti arus. Hanya itu, hanya karena kakiku patah, hatiku patah” jelasku. Aku tidak tahu kenapa aku bicara sebanyak ini padahal kami baru bicara beberapa menit yang lalu.
Dan Andrean Mikela kembali menatapku. Membuat sesuatu seperti ingatan masa lalu menyembul dari balik waktu.
---
Suara tepuk tangan membahana saat kakiku menyentuh lantai panggung dan menunduk memberi hormat. Aku Gadis Swan Lake. Itu panggilan Genta, sahabatku, yang sekarang entah dimana. Ini adalah pertunjukan baletku untuk kesekian kalinya. Kesekian kalinya tanpa dilihat sahabatku. Ibu dan ayahku yang juga menghadiri acara itu sangat senang karena akhirnya aku mendapat peran utama untuk pertama kalinya.
Aku senang!
Guru baletku bahkan bilang bahwa aku bisa menjadi pemeran utama lagi di pertunjukan tahun depan. Aku akan belajar lebih giat!
Kemudian ayah mendapat panggilan dari rumah sakit, jadi aku dan ibu pulang dari gedung pertunjukan dengan taksi. Aku tidak tahu kenapa mobil taksi ini bisa kerputar di tengah jalan, kemudian sesuatu yang keras menghantamku dari samping kiri. Membuatku menjerit, nyeri.
Kemudian tidak sadar lagi apa yang terjadi.
Saat aku bangun, ayah dan ibu ada disana. Ibu dengan tangan yang dibebat juga beberapa goresan si wajahnya tersenyum kaku padaku. Aku melirik ayah yang berusaha membesarkan hatiku.
Kemudian aku sadar, kedua kakiku dibebat perban putih dan disangga sesuatu. Rasanya ngilu, kesemutan, hilang rasa. Hilang harapan. Keputus asaan. Aku patah hati.
---
“Jadi, kau tidak pernah menari lagi?” tanya Andrean di pertemuan kami yang selanjutnya.
Sekarang dua minggu sebelum pameran.
Aku menggeleng. “Setiap kali mencobanya, kakiku sakit. Dan serbuan ingatan itu membuat aku semakin takut. Aku tidak bisa.”
Andrean Mikela menatapku. Sekilas aku melihat luka di matanya, tapi kemudian dia tersenyum. “Padahal aku ingin melihatmu menari,” katanya kemudian.
Dan aku membisu.
---
Ada amplop coklat yang tergeletak begitu saja di atas meja kerjaku saat aku kembali dari ruang pameran. Ada namaku tertulis di sudut kanan bawah. Aku membukanya. Sebuah foto. Lukisan. Aku yakin itu potongan lukisan. Tidak ada tulisan lain. Hanya ada angka: 1.
“Puzzle?” tanyaku. Aku tersenyum kemudian menyimpan foto itu di dalam dompetku.
Keesokan harinya masih sama. Aku mendapatkan amplop itu lagi. Tidak ada yang tahu siapa yang menyimpannya di sana. Foto itu bertuliskan 2. Dan juga masih sama di hari berikutnya. Aku mulai penasaran. Tapi aku membiarkannya begitu saja. Siapapun yang mengirimnya padaku, dia ada hubungannya dengan tempat yang penuh lukisan ini. Aku yakin!
---
Akhirnya, acara pameran Art of Heart by Andrean Mikela dibuka hari ini!
Aku tidak tahu kami semua bisa melewati hari-hari kemarin yang sibuk sesibuk-sibuknya. Penataan lighting, urutan lukisan yang dipajangkan, beberapa lukisan yang di akhir acara akan di lelang untuk amal, dan acara utama, yaitu pengenalan karya terbaru milik Andrean Mikela.
Aku sangat lelah, tapi juga senang melihat semuanya lancar. Aku berada dalam tim yang luar biasa ini.
Hari ini semua orang memakai setelan hitam putih dengan sarung tangan putih. Aku sendiri memakai celana panjang hitam dengan blouse dan blazer putih. Rambut panjangku digelung rapi. Dan aku merias wajahku. Kami semua tersebar sambil mengawasi keadaan.
Sudut mataku menangkap sosok tinggi tegap itu sedang tersenyum menanggapi beberapa pertanyaan dari pengunjung. Dia benar-benar terkenal. Tadi aku melihat beberapa orang seniman Indonesia datang kemari. Bertegur sapa dengan Andrean, tertawa seperti bertemu dengan teman.
Dia memang luar biasa. Lukisannya, aku menyukainya. Semuanya dibuat dengan hati. Indah.
“Selamat Sore, saya mengundang orang nomor satu dalam pameran Art of Heart ini untuk naik kemari. Acara utama akan segera dimulai.” Itu suara Kak Reza. Dia bertugas sebagai host acara utama.
Aku mengikuti acaranya juga. Andrean menjawab pertanyaan dari orang disekitarnya. Dan kemudian sebuah lukisan yang ditutup tirai itu terbuka setelah hitungan ketiga. Aku tertegun.
---
“Harusnya kamu menyelesaikan itu! Bagaimana kamu akan tahu hasilnya bagus atau jelek kalau kamu tidak menyelesaikannya?” tanyaku dengan suara cempreng saat Genta meyembunyikan kanvas di belakang tubuhnya yang kecil. Tentu saja aku masih bisa melihatnya.
Tanganku merebut kanvas itu, “Lihat, kamu akan berhasil jika terus berusaha!” kataku lagi.
“Tapi ini jelek. Aku tidak mau meneruskannya!” katanya merengut.
Aku tersenyum, “Hei, mau membuat perjanjian?” tanyaku. “Aku akan menjadi balerina terkenal di dunia. Dan kamu, harus jadi pelukis terkenal di dunia! Ayo berjanjilah!” kataku mendesaknya menautkan kelingking di kelingkingku.
Genta seperti berpikir keras, tapi kemudian dia tersenyum, “Aku berjanji. Aku berjanji juga akan melihatmu menari sebagai pemeran utama!”
“Dan aku akan ada di tiap pameran lukisanmu!”
---
“Temanku bilang, ‘Bagaimana kamu tahu hasilnya jelek atau tidak kalau kamu tidak menyelesaikannya?’ Aku selalu mengingat kata-kata itu. Janji kami. Aku memenuhi janjiku, tapi sayangnya dia tidak bisa mewujudkan mimpinya. Aku bersedih untuknya. Itulah sebabnya aku membuat ini,” jelasnya dari atas panggung.
Air mataku sudah meleleh dari tadi. Genta. Genta sahabatku yang menghilang.
Sekarang aku tahu kenapa dia tidak pernah memberiku kabar. Setelah pindah, ia mengalami kecelakaan. Ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan itu. Dia kemudian diadopsi oleh seorang seniman, dari sanalah semuanya berawal kembali.
Sekarang, dia sudah bisa menyelesaikan lukisannya.
Ceritanya sama sepertiku. Kami sama-sama kehilangan. Tapi kemudian saling menemukan. Aku tersenyum, tapi air mataku tetap mengalir. Mataku terkunci saat dia menatap mataku. Dia sudah tahu semuanya sejak kami bertemu. Tapi aku baru mengenalinya sekarang.
“Lukisan ini, aku beri judul, Swan Lake,” katanya kemudian disusul tepuk tangan meriah.
Lukisan yang sama dengan kepingan puzzle yang aku terima!
---
“Jangan takut lagi. Kita sudah bersama. Kita mengalami banyak hal buruk ketika berpisah. Aku rasa, syarat agar semuanya baik-baik saja adalah kita tetap bersama,” katanya dengan senyum mengembang saat kami tiba di depan rumahku dan aku masih belum berhenti menangis.
“Kau mau, kan? Menjalani sisa kehidupan bersama denganku?” tanyanya.
Aku menatapnya, “Apa kau sedang melamarku?” tanyaku.
Dia tersenyum, mengangguk. Tangannya menghapus sisa air mata di pipiku.
“Ayo masuklah dulu. Ibu pasti senang bertemu denganmu lagi,” ajakku.
“Aku sudah bertemu dengan Tante Rena, dan sudah membicarakan acara pertunangan kita,” jawabnya dengan senyum lebar.
Sedangkan aku menatapnya tak percaya.
“Sungguh.”
“Ibu tidak bicara apa-apa,” kataku akhirnya. “Ah, kalian merencanakan ini di belakangku! Ibuuu ... ,” aku bergegas masuk kedalam rumah, sedangkan Andrean tertawa senang di belakangku.
Pada akhirnya, takdir membawaku kepada kebahagian. Menghancurkan hidupku untuk kemudian membuatnya kembali utuh. Membuatku terluka lalu kembali menyembuhkannya. Menjauhkan lalu dengan caranya sendiri membuat kami dekat kembali.
Takdir selalu dengan mudah membolak-balikan hati, dan dengan ajaib, patah hatiku sembuh dengan sendirinya.