Rintik hujan mengetuk-ngetuk jendela kafe kecil di sudut jalan Sudirman. Aroma kopi yang menguar memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi roti yang baru keluar dari oven. Di salah satu meja dekat jendela, Rina duduk termenung, jemarinya menggenggam cangkir kopi yang masih mengepul.
Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali dia duduk di tempat ini. Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan tentang dia dan Andi. Setiap Minggu pagi mereka selalu menghabiskan waktu di sini, berbagi cerita dan tawa, merencanakan masa depan yang kini tinggal angan-angan.
"Boleh saya duduk di sini?" sebuah suara mengejutkan Rina dari lamunannya.
Seorang pria dengan kemeja biru muda berdiri di hadapannya, tersenyum ramah. Rina mengangguk pelan, sedikit enggan berbagi meja dengan orang asing. Kafe memang penuh pagi ini, mungkin karena hujan yang membuat orang-orang enggan melanjutkan perjalanan.
"Saya Dika," pria itu memperkenalkan diri sambil meletakkan cangkir kopinya. "Maaf mengganggu, tapi semua meja sudah penuh."
Rina tersenyum tipis. "Tidak apa-apa." Dia kembali menatap ke luar jendela, berharap pria itu mengerti bahwa dia sedang tidak ingin berbicara.
Namun Dika rupanya orang yang cukup peka. Dia mengeluarkan buku dari tasnya dan mulai membaca, membiarkan Rina tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hujan di luar semakin deras, mengingatkan Rina akan hari itu, hari ketika Andi pergi untuk selamanya.
Tanpa sadar, air mata menetes di pipi Rina. Dia cepat-cepat menghapusnya, tapi Dika sudah terlanjur melihat.
"Ini," Dika menyodorkan sapu tangan putih. "Kadang menangis itu perlu. Untuk melepaskan apa yang terpendam."
Rina tertegun. Kata-kata itu... kata-kata yang sama yang sering diucapkan Andi ketika dia sedih. Untuk pertama kalinya pagi itu, Rina benar-benar memandang wajah Dika. Ada sesuatu yang familiar dari cara dia tersenyum, dari ketulusan yang terpancar di matanya.
"Terima kasih," Rina menerima sapu tangan itu. "Saya... saya hanya teringat seseorang."
"Kenangan itu seperti hujan," kata Dika sambil menunjuk ke luar jendela. "Kadang datang tiba-tiba, membasahi kita dengan kesedihan. Tapi setelah hujan reda, selalu ada pelangi yang menunggu."
Rina tersenyum, kali ini lebih tulus. Mungkin Dika benar. Mungkin sudah waktunya dia membuka hati untuk pelangi yang baru. Hujan di luar mulai mereda, dan secercah sinar matahari mulai mengintip di antara awan mendung.
"Ngomong-ngomong," Dika membuka percakapan lagi, "kopi di sini enak ya? Saya baru pertama kali ke sini."
"Ya," jawab Rina, "dan roti kacang mereka yang terbaik di kota ini."
"Oh ya? Mungkin... mungkin lain kali saya harus mencobanya."
Ada jeda sejenak sebelum Dika melanjutkan dengan hati-hati, "Mungkin... kalau Anda tidak keberatan, kita bisa mencobanya bersama?"
Rina menatap cangkir kopinya yang sudah setengah kosong. Dulu, di tempat ini, dia belajar mencintai. Mungkin di tempat yang sama, dia bisa belajar untuk mencintai lagi.
"Boleh," jawabnya pelan. "Mungkin Minggu depan?"
Di luar, pelangi mulai membentang di langit Jakarta yang baru saja dibasuh hujan.