Langit mulai berubah warna, dari jingga keemasan menjadi abu-abu keunguan. Asha duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke danau kecil. Ransel lusuhnya tergeletak di samping, sementara ia menggenggam sebuah buku sketsa yang kosong. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana, menunggu inspirasi yang tak kunjung datang.
Taman itu sepi, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang. Asha menatap permukaan danau yang mulai beriak saat rintik hujan turun perlahan. Ia mendesah pelan. Hari ini benar-benar melelahkan. Pesanan ilustrasinya sudah menumpuk, tapi mood untuk menggambar sama sekali tak ada.
Ketika hujan semakin deras, Asha akhirnya sadar ia lupa membawa payung. Tapi anehnya, ia tetap diam di tempat, membiarkan tubuhnya perlahan basah.
“Payungnya mana?”
Asha mendongak, terkejut mendengar suara itu. Seorang pria berdiri di depannya, membawa payung biru yang tampak terlalu kecil untuk tubuhnya yang tinggi. Rambutnya yang hitam mulai basah oleh hujan, tapi ia tak terlihat peduli.
Asha menatapnya sekilas. “Nggak bawa. Tapi nggak apa-apa kok.”
Pria itu tersenyum, lalu tanpa banyak bicara, ia membuka payungnya dan berdiri di sebelah Asha. Kini payung biru itu menaungi mereka berdua.
“Kenapa duduk di sini? Lagi nunggu seseorang?” tanyanya santai.
Asha menggeleng. “Enggak. Cuma lagi nyari ide aja.”
“Nyari ide sambil hujan-hujanan? Kamu unik juga, ya.”
Asha melirik pria itu, sedikit tersinggung dengan nada bicaranya yang terdengar menggoda. Tapi, saat melihat senyum kecil di wajahnya, ia memutuskan untuk tidak menanggapinya terlalu serius.
“Daripada nyari ide sambil basah-basahan, gimana kalau kita pindah? Ada gazebo di sana.” Pria itu menunjuk ke arah sebuah bangunan kecil tak jauh dari tempat mereka.
Asha ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. “Oke.”
Mereka berjalan beriringan menuju gazebo. Pria itu memegang payung dengan hati-hati agar Asha tidak terkena hujan. Ketika mereka sampai, Asha meletakkan ranselnya dan duduk di salah satu bangku.
“Namaku Rey,” katanya, sambil melipat payung birunya.
“Asha,” jawabnya singkat.
Rey duduk di seberangnya. Ia memperhatikan buku sketsa yang dipegang Asha. “Kamu suka gambar?”
Asha mengangguk. “Aku ilustrator freelance. Lagi ada banyak kerjaan, tapi ide nggak keluar.”
Rey mengangguk pelan, lalu memandang ke arah danau. “Mungkin hujan ini bisa jadi ide. Kamu lihat tuh, air danau jadi kayak kaca. Pantulannya cantik.”
Asha mengikuti arah pandangnya. Memang, riak air danau yang terkena tetesan hujan menciptakan pola-pola acak yang indah. Ia tersenyum kecil.
“Kamu kayaknya puitis banget, deh,” komentar Asha.
Rey tertawa pelan. “Bukan puitis. Aku cuma senang memperhatikan hal-hal kecil. Kadang, sesuatu yang sederhana itu lebih menarik daripada yang kelihatan besar.”
Mereka terus mengobrol, awalnya tentang hal-hal ringan seperti pekerjaan dan cuaca, tapi lama-lama pembicaraan mereka mengalir ke hal-hal yang lebih personal. Asha tidak menyangka dirinya bisa merasa nyaman berbicara dengan orang asing.
Ketika hujan mulai reda, Rey berdiri dan membuka payungnya lagi. “Hujannya udah hampir selesai. Aku harus pergi sekarang. Tapi kalau kamu mau ngobrol lagi, aku sering ke taman ini. Biasanya sore, sebelum hujan datang.”
Asha hanya mengangguk, merasa sedikit kecewa karena pembicaraan mereka harus berakhir.
Rey tersenyum, lalu melangkah pergi. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, ia berbalik dan berkata, “Oh, dan jangan lupa bawa payung lain kali, Asha.”
Asha tertawa kecil, melambaikan tangan. Setelah Rey menghilang dari pandangan, ia membuka buku sketsanya. Inspirasi yang ia cari akhirnya datang.
Di bawah payung biru itu, ia merasa menemukan sesuatu yang tak terduga—sesuatu yang hangat meskipun hujan dingin mengguyur kota.