Aku membaca grup WhatsApp suamiku,hanya berisikan tiga anggota,suamiku dan dua anak buahnya,mereka adalah janda anak satu dan seorang bujangan yang usianya setahun lebih tua dariku,nama pria itu Doni.
Ada juga chat pribadi antara suamiku dan janda itu,namanya Desi.
Darahku naik ke ubun-ubun membaca chat dari suamiku
"Sudah mas belikan bahan baju yang adek pesan,nggak perlu bayar,itu hadiah karna sudah banyak pesanan yang kita selesaikan."
"Okey,makasih ya mas syuja yang baik hati🤗😍"Begitu isi chatnya. Bagus sekali,ternyata sudah memanggil mas dan adek,itu kan panggilan mas syuja kepadaku.
"Masih ada daging nggak di rumah kalian? Desi, kalau mau daging ambillah ke rumah,di rumahku masih banyak" isi chat ketika bulan haji lalu.
"Kamu jatuh ya? Tadi kulihat status Wa mu" ini chat di wa grup syuja tailor yang bikin aku makin naik darah.
Aku screenshot chat itu dan kukirim ke wa ku sendiri. Aku benci sekali! Mungkinkah mas syuja sudah mulai bermain api? Berbeda sekali perlakuannya padaku,ia sangat irit dalam membalas wa ku,bahkan beberapa kali wa ku hanya di baca dengan alasan dia sedang sibuk.
Dia masuk kamar dengan wajah kusut,melihat wajahku yang merengut bukannya bertanya dia malah langsung tidur membelakangi ku.
Keesokan harinya aku tak banyak bicara,mungkin dia menyadari perubahan sikapku. Dia memelukku dari belakang ketika aku sedang menyiapkan sarpan dan bertanya ada apa,segera kulepas pelukan dari lengan kekarnya,aku tak ingin berlama-lama menyimpan amarah dan penasaran ini,lebih baik aku tanyakan saja langsung.
"Ada hubungan apa kamu dengan janda gatal itu?" Tanyaku lugas
"Siapa janda gatal yang kamu maksud dek?" Dia tersenyum menganggapku sedang melawak.
"Siapa lagi,anak buahmu itu!"
"Oh... Nggak ada hubungan apa-apa,kami hanya rekan kerja,aku membutuhkan kinerjanya,dan dia membutuhkan upah dariku. Jahitan baju pelanggan sedang ramai dek." Dia masih tersenyum lembut padaku
"Oh ya? Hanya rekan kerja? Tapi kenapa isi chat kalian mesra sekali,mas bahkan membelikannya bahan baju, sedangkan wa dariku hanya dibaca dan tidak di balas,ini coba lihat!" Tanganku bergetar mencari screenshot kemarin,lalu membandingkan dengan isi chat kami yang hanya terdiri dari chat ku saja,semuanya centang biru dan hanya ada beberapa balasan dari mas syuja.
Aku tak mampu mengontrol emosiku,airmataku hampir jatuh dan tubuhku bergetar,jangan di tanya lagi sesak di dada ini seperti apa.
"Kita bercerai saja,mumpung belum punya anak,kau bebas menikah dengannya." Ucapku hampir tak terdengar karna menahan gejolak amarah.
"Dek,ngomong apa sih kamu ini? Aku dan dia nggak ada hubungan apapun dek, aku cinta sama kamu dek."
"Bohong! Cinta? Cinta itu komunikasi,seharusnya kalau benar-benar cinta tanpa bertanya pun mas sudah memberi kabar padaku,tapi apa? Pesanku hanya di baca. Ini bukan tentang perselingkuhan kalian saja tapi juga tentang kamu yang begitu cuek mas,rasanya aku seperti orang luar,bukan seseorang yang memiliki tempat khusus dihatimu!" Aku menjauh darinya,mengehempaskan pantat di kursi meja makan,agar tubuhku tak jatuh ke lantai.
"Ya Allah dek,mas nggak selingkuh, istighfar dek, jangan pernah terucap tentang perceraian dek,mas nggak balas karna mas sibuk dek,tolong mengerti dengan keadaan mas." Dia mendekat padaku dan mengelus rambutku
"Baiklah,aku sedang mencoba mengerti keadaanmu mas,aku tau pekerjaanmu yang sangat kau cintai itu lebih penting dari aku,jadi ayo bercerai!" Aku menepis tangannya dan kembali menjauh
"Mas kerja buat kita dek,buat kamu,buat masa depan kita. Kalau nggak ada kamu,buat apalagi mas kerja mati-matian mengembangkan usaha menjahit kita."
"Ada janda gatal itu kan? Calon istri mas!oh ya,kalau menikah dengannya mas juga akan langsung memiliki anak,tidak seperti denganku,dua tahun menikah belum juga hamil." Ucapku sampai kemana-mana.
"Anak itu urusan Allah dek,kamu jangan seperti ini dek,mas nggak mau bercerai,mas cinta dek,mas janji mulai sekarang mas akan membalas wa dari adek,mas janji dek tolong jangan begini." Pujuknya sambil meneteskan airmata untuk kedua kalinya,tangisan pertama yang kulihat adalah ketika akad nikah.
"Aku nggak mau mas! Mas terpaksa melakukannya karna aku minta cerai,bukan karna mas juga mencintaiku! Ceraikan saja aku mas!" Kusapu meja makan ini dengan tangan,hasilnya piring kaca yang tadi kutata di atas meja berhamburan dan pecah ke lantai,mas syuja kaget melihatku seperti orang kesetanan
"Nggak dek! Mas nggak mau cerai,mas janji akan berubah,mas janji nggak akan chat pribadi lagi dengan Desi,mas akan lebih perhatian padamu dek.istighfar." mas syuja menangkap tubuhku agar tak menginjak serpihan kaca,dia mendekapku walaupun aku terus meronta
"Aku benci kamu mas!" Ucapku kesal karna kalah tenaga darinya, dia mengendus rambutku,mengusap punggungku lembut,berusaha menenangkan istrinya yang sedang tantrum.
Detik berikutnya menuntunku duduk di ruang tamu.
"Mas bisa memblokir Wa nya kalau itu membuatmu puas dek, tapi jangan minta mas untuk memecatnya,karna itu salah dek,dia perlu pekerjaan,dan kita juga butuh keahliannya" lagi-lagi aku kesal dengan suamiku ini,terus saja memuji janda itu yang punya keahlian menjahit,berbeda denganku yang tak tahu menahu tentang usahanya itu
"Kenapa mas tidak berani memecatnya? Mas takut nggak bisa melihatnya setiap hari?"
"Ya Allah dek,bukan itu..." Dia mengacak rambut, frustasi berbicara dengan aku yang terbakar api cemburu.
"Kamu harus tahu batasan mas! Kamu sudah beristri, kalau menganggapku sebagai istri seharusnya kamu tidak mengabaikan pesanku,sesibuk apapun itu! seharusnya kamu menjaga jarak dengan wanita lain,mau itu berbicara langsung atau sekedar wa! Aku juga bisa membalas chat teman-teman kantorku dengan amat sangat ramah kalau aku mau, tapi aku tau batasan,aku sudah bersuami dan tidak pantas berinteraksi berlebihan dengan orang lain."
"Iya dek, mas salah, maafkan mas ya." Mas syuja tertunduk.
"Bisa jelaskan soal panggilan sayang kamu ke dia? Kamu memanggilnya apa? Adek kan?"
"Mungkin waktu itu mas sedang membalas wa mu dek,tapi juga membalas wa Desi."
"Stop! Jangan sebut namanya!" Aku muak sekali mendengar namanya
"Baiklah, mungkin saat itu mas juga sedang membalas wa janda gatal itu,jadi mas salah memanggil,dek." Ungkapnya membuatku sedikit puas dengan panggilan janda gatal dari suamiku.
Sebenarnya aku tau suamiku ini tak mungkin selingkuh, dia memang bukan suami yang romantis, hari ulang tahunku saja selalu lupa,dia lelaki yang baik dan lemah lembut,selalu membantu setiap aku kerepotan didapur, bahkan sesekali menyetrika pakaianku ketika aku benar-benar sibuk dengan pekerjaan kantor,aku tau dia melakukannya karna cinta,akupun mencintainya,tapi bahasa cinta kami berbeda.
aku mengerti dengan bahasa cintanya,tapi sekali-sekali akupun ingin dia mengerti dengan bahasa cintaku,aku tak suka diabaikan.
Setelah membuat beberapa janji,aku memaafkannya,tapi tidak dengan janda itu.
Bukan tanpa alasan aku menyebutnya janda gatal,selama ini aku sering mendengar gosip tentangnya di kantor,di gerobak tukang sayur,bahkan dilingkungan tetangga, tapi aku tak pernah ikut nimbrung karna berpikir mungkin itu hanya gosip.
Begitu hal ini terjadi dalam rumah tanggaku barulah aku menyimpulkan mungkin dari semua gosip itu separuhnya memang benar. Awas saja kalau rumahtanggaku hancur karna janda itu. Setelah perdebatan panjang tadi,suamiku berubah,lebih perhatian dan sering mengabaikan pesan dari janda itu.