Kubuka pintu apartemen kecil yang kusewa selama ini, menutupnya lalu melepas sepatuku dan menggantinya dengan sandal rumah. Berjalan menuju sofa usang di ruang tengah dan duduk sambil termenung, ini adalah rutinitas harianku.
Aku melonggarkan dasi yang terikat di kerah kemejaku dan melemparnya dengan asal, lalu mendesah pelan.
Ini adalah hari yang entah keberapa ratus dalam hidupku yang biasa-biasa saja. Hari yang sama seperti kemarin dimana aku bangun pagi, pergi mencari pekerjaan, lalu pulang dan depresi. Semuanya terus diulang hingga rasanya aku muak dengan hidupku.
Entah sudah berapa puluh perusahaan yang aku datangi untuk melamar pekerjaan, namun tidak pernah ada yang menerimaku. Aku hanya bisa tersenyum dan terus bersabar untuk itu.
Sejak kecil, ayah dan ibuku selalu berkata bahwa jika aku bisa masuk universitas dan lulus aku pasti mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Mereka mengontrol semua yang aku lakukan, mendaftarkan ku ke berbagai tempat kursus dan les.
Dulu aku heran, kenapa mereka melakukan hal ini. Apakah lulus dari perguruan tinggi begitu Bagus hingga mereka rela mengeluarkan semua uang mereka demi itu? Tapi ternyata tidak.
Lulus dari perguruan tinggi tidak akan menjamin dirimu bisa menjadi sukses dimasa depan. Itulah yang kurasakan sekarang. Bahkan jika kau masuk ke universitas terbaik sekalipun itu tidak berguna.
Nyatanya, dunia ini sangat kejam. Tidak ada kata ampun dan belas kasihan untuk manusia, jadi jika kau tidak tahan dengan kekejaman dunia, kau akan diinjak oleh orang lain yang ingin maju.
Ada berapa milyar penduduk di muka bumi ini? Ada berapa ribu lulusan universitas yang lulus dalam satu waktu? Dan ada berapa banyak lowongan pekerjaan yang tersedia untuk para lulusan ini?
Itu tidak sebanding, membuat persaingan diantara kami para lulusan yang baru saja akan menyentuh kekejaman dunia harus saling menghilangkan yang lain dengan banyak cara.
Kami bersaing, untuk mendapatkan tempat didunia ini. Itulah yang kurasakan selama ini.
Tidak selamanya patuh akan membuatku bahagia, itu hanya membuatku terkekang oleh peraturan dan perkataan orang tuaku. Aku ingin bebas dari kekangan ini, tapi bagaimana caranya? Haruskah aku menyatakannya langsung pada kedua orang tuaku dan dicaci-maki setelahnya? Entahlah... Aku tak tahu. Aku muak dengan mereka.
Aku lelah dengan semua petuah mereka yang bahkan tidak berpengaruh pada hidupku, seolah itu hanya kata-kata kosong yang dibuat untuk menipu seorang anak berusia lima tahun.
Setiap hari rasanya seperti neraka di dunia yang hingar bingar ini, tersiksa oleh perkataan dan tekanan dari masyarakat. Aku bahkan selalu mendengar tetanggaku berbicara pada anak mereka agar tidak sepertiku, dan meminta putranya agar belajar dengan giat agar anak mereka memiliki pekerjaan yang Bagus.
Dalam hati aku tertawa dan mencemooh, bukankah itu konyol? Anak yang baru berusia sebelas tahun yang bahkan belum lulus dari sekolah menengah pertama, diberi nasehat seperti itu? Belajar giat agar bisa mendapat pekerjaan yang Bagus? Jika itu semudah yang dikatakannya, apa aku akan berakhir seperti ini?
Sejak kecil, aku bermimpi untuk menjadi seorang idol. Namun, karena perkataan orang tuaku aku melepaskan mimpiku itu.
Awalnya aku ingin tetap bersama mimpiku, mengejarnya berharap aku bisa bebas. Namun ayah sangat melarangku. Dia bahkan mengancamku bahwa aku akan diusir dari rumah dan bahkan tidak dianggap sebagai anak lagi.
Setiapkali aku berbicara tentang impianku, ayah akan murka dan mengambil ikat pinggangnya lalu memukul tubuhku hingga dipenuhi lebam. Aku hanya bisa memohon agar ayah berhenti, ibu berusaha untuk menghentikan ayah namun pria itu tidak mendengarkan kami.
Aku yang masih begitu naif terus meminta maaf kepada ayah dan berjanji akan mematuhi keinginannya. Melepaskan apa yang aku inginkan selama ini, rasanya sangat sakit. Seolah-olah tubuhku dipotong menjadi dua.
Selama beberapa hari itu, aku tidak bisa bangun dari tempat tidur karena terlalu banyak lebam ditubuhku. Rasanya sangat sakit saat aku bergerak bahkan jika hanya sedikit.
Aku memasuki universitas yang diinginkan ayah, belajar, dan lulus seperti yang dia inginkan. Namun apa yang kudapat setelah lulus? Tidak ada, tidak ada yang kudapatkan.
Aku hanya menjadi seorang pengangguran yang tidak berguna, yang merasa malu dan memilih untuk tinggal terpisah dengan orang tuaku.
Aku yang selalu kalah dalam persaingan, menjadi seorang sarjana yang tidak berguna, menjadi pecundang dalam masyarakat.
Ayah mulai kecewa padaku, dan aku tidak berani memandang wajahnya lagi. Rasa bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginannya selama ini membuatku terbebani. Meski ibuku selalu memberikan kata-kata penyemangat dan selalu mendukungku, melihatnya yang sudah semakin tua dan rentan selalu berharap bahwa putranya bisa berhasil seperti anak lainnya.
Aku tahu aku tidak bisa terus seperti ini, tapi aku harus bagaimana? Aku kehilangan mimpiku, setengah hidupku yang lain. Hal yang paling kusukai selama ini. Selain dari itu, aku tidak memiliki kemampuan lain.
Jika aku beralih untuk menjadi seorang idol dengan menjadi trainee sekarang, aku takut ayah akan membuangku dan ibu akan menatapku dengan tatapan yang penuh kekecewaan.
Apa harus kulakukan?
Setiap malam sebelum aku tertidur, aku selalu berpikir bagaimana jika seandainya aku menjadi seorang idol dan tidak mengikuti perkataan ayahku. Akankah aku menderita seperti ini? Atau… berubah menjadi lebih baik?
Dalam beberapa tahun ini, aku selalu menyempatkan diri untuk menulis lirik dan menyembunyikannya di dalam lemariku. Bahkan aku masih ingat rap 16 bar yang ak tulis dalam buku pelajaranku saat aku masih di sekolah menengah. Itu adalah lirik pertama yang kubuat.
Aku melihat postingan teman-temanku dalam akun sns mereka, masing-masing terlihat bahagia dan senang karena mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka berhasil menggapai mimpi yang mereka inginkan, yang sekali lagi menusuk hatiku yang sudah hampir mati.
Bahkan orang yang memiliki peringkat paling bawah di kelas dulu kini memiliki pekerjaan dan gaji yang Bagus. Aku, seorang lulusan terbaik jatuh dengan keras kebawah.
Aku ingin menangis, tapi aku tidak bisa. Air mataku sudah mengering sejak lama, tak bersisa. Kini aku hanya bisa mati secara perlahan saat melihat ratusan mimpi orang lain terwujud satu demi satu, sementara mimpiku sudah mati dan menyisakan cangkang yang tak bernyawa.
Salah satu dari mereka juga pernah berkata padaku, "Minji, kau menyia-nyiakan bakat dan otakmu. Kenapa kau rela menjadi boneka orang tuamu dan mengubur kemampuanmu? Apakah kau tidak menyesal?"
Saat itu, aku hanya bisa tersenyum tanpa menjawab. Karena kupikir nasibku akan berubah nantinya, tapi kenyataan berkata lain. Tidak ada yang berubah dariku, aku tetap menjadi seorang pecundang dalam masyarakat ini.
Mimpi, hal yang pasti dimiliki oleh semua orang namun sangat sulit untuk digapai.
Mimpi, layaknya bunga Mawar yang memiliki duri. Indah namun tak bisa disentuh.
Mimpi, separuh dari hidupku dimana saat aku kehilangannya itu adalah kematian pertamaku.
Tapi… meskipun demikian, aku tetap akan menyimpan mimpiku bersama bintang-bintang yang bersinar di angkasa. Seburuk apapun situasiku sekarang, aku tidak bisa melupakan mimpiku. Kematian pertamaku.