Adriana tidak pernah menyangka bahwa hubungan dengan David akan berakhir seperti ini. Sejak pertama kali bertemu, dia merasa ada yang aneh dengan pria itu. David, dengan pesonanya yang menawan dan tatapan yang intens, seolah-olah bisa membaca pikirannya. Mereka terlibat dalam hubungan yang penuh gairah, hampir seperti mereka adalah dua bagian yang saling melengkapi. Tapi seiring berjalannya waktu, Adriana mulai merasa bahwa ada sisi gelap yang tersembunyi dalam diri David.
David sering berbicara tentang masa lalu, tentang seorang wanita yang sangat ia cintai, yang telah meninggalkannya. Meskipun Adriana tidak terlalu memperhatikan, dia merasa bahwa ada ketegangan dalam setiap cerita yang David ceritakan. Ia bahkan sesekali melihat David berbicara dengan dirinya sendiri atau menganggap sesuatu yang terjadi saat mereka berdua bersama sebagai bagian dari kenangan masa lalu. Namun, Adriana mencoba untuk mengabaikan perasaan cemas yang muncul, berpikir bahwa ini hanya fase biasa dalam hubungan mereka.
Suatu malam, saat mereka kembali bersama di ranjang, Adriana merasa ada yang berbeda. Malam itu terasa lebih panas, lebih menggoda, namun ada keanehan dalam mata David. Saat mereka berdua terlarut dalam kebersamaan, David tiba-tiba berhenti. Ada sesuatu yang tampak tidak biasa di wajahnya. Senyumnya mulai menghilang, digantikan oleh tatapan kosong yang membuat Adriana merasa tidak nyaman.
"Apa yang terjadi, David?" tanya Adriana, mencoba untuk tersenyum, meskipun ada kegelisahan yang mulai muncul dalam dirinya.
David tidak menjawab. Justru dia semakin menatap Adriana dengan tajam, matanya kosong. Adriana merasa seperti ada yang salah. Saat David bergerak mendekatinya dengan gerakan cepat, ia merasakan ketegangan yang luar biasa. Sebelum dia sempat berkata apapun, David memegang tangannya dengan keras, dan dalam sekejap, tubuh Adriana terjebak.
“Kenapa, David? Apa yang kamu lakukan?” Adriana berusaha memberontak, tapi David terlalu kuat. Suasana di ruangan itu berubah menjadi mencekam.
David menatap Adriana dengan penuh kebingungan, seolah-olah baru menyadari siapa wanita yang ada di depannya. “Kamu... kamu sudah kembali kepadaku, kan?” kata David dengan suara yang terputus-putus, matanya terbalut kebingungan. “Kamu tidak bisa pergi lagi. Kamu tidak bisa meninggalkanku lagi, Samantha."
Adriana terkejut mendengar nama itu. Samantha? Siapa itu? Kenapa David memanggilnya dengan nama itu? "David, apa yang kamu maksud? Aku bukan Samantha, aku Adriana. Kenapa kamu sebut aku dengan nama itu?"
David terdiam sejenak, tatapannya semakin tajam dan mengerikan. “Kamu... kamu kembali padaku setelah meninggalkanku begitu lama,” katanya, suara bergetar. “Aku sudah menunggu, Samantha. Kamu tidak bisa pergi lagi. Kamu adalah satu-satunya yang aku cintai.”
Adriana mulai merasa ketakutan. Apa yang terjadi dengan David? Kenapa dia seolah-olah melupakan kenyataan bahwa Adriana adalah orang yang berbeda? Apa yang terjadi pada pikiran pria ini? Adriana mencoba menarik diri, berusaha menenangkan dirinya, namun David semakin kuat menahannya.
“Aku sudah menunggu terlalu lama, Samantha,” bisik David, tatapannya penuh rasa sakit. "Kamu tidak bisa meninggalkanku lagi. Kamu sudah membuatku gila... kamu pergi begitu saja, dan aku tidak bisa hidup tanpamu."
Adriana mulai menyadari sesuatu yang mengerikan. David bukanlah pria yang dia kira. Dia bukan hanya seorang kekasih yang bersemangat. David adalah seseorang yang telah lama terperangkap dalam pikirannya sendiri, seorang pria yang kehilangan pacarnya, dan kini menganggap Adriana adalah wanita yang telah lama meninggalkannya—Samantha.
Panik mulai merayapi diri Adriana. David bukan hanya pria yang mencintainya, tapi juga pria yang begitu tergila-gila padanya sampai kehilangan kenyataan. Mungkin selama ini, dia telah melihat Adriana sebagai Samantha, pacarnya yang dulu, yang dia pikir telah meninggalkannya. David tidak melihatnya sebagai Adriana—ia melihatnya sebagai wanita yang telah menghancurkan hidupnya.
Dengan kekuatan yang tersisa, Adriana berusaha menenangkan David. “David, aku bukan Samantha! Aku Adriana, aku tidak tahu siapa dia, aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu, tapi aku bukan dia!”
Namun, David tidak mendengarkan. Wajahnya semakin gelap, semakin tidak terkendali. “Kamu tidak bisa menghindar lagi, Samantha! Kamu sudah kembali padaku, dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
David kemudian mengeluarkan pisau kecil yang ia sembunyikan di bawah bantal. Adriana merasakan ketakutan yang tak terungkapkan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Malam itu, tubuh Adriana terluka oleh pisau yang tajam, dan dengan sekali gerakan, darah mengalir deras.
Sebelum semuanya menjadi gelap, Adriana hanya bisa mendengar suara David yang lirih, "Aku hanya ingin kamu kembali padaku, Samantha. Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi."
David tetap di sampingnya, tak bergerak, terbenam dalam pikirannya yang terdistorsi. Ranjang itu, yang sebelumnya menjadi saksi dari kenikmatan mereka, kini dipenuhi darah, sebagai tanda akhir dari kisah yang telah lama hilang dalam kebohongan pikiran seorang pria yang sangat mencintai, namun juga sangat gila.
Pada akhirnya, David tidak hanya kehilangan Samantha, tetapi juga dirinya sendiri, tenggelam dalam ilusi dan kegilaan yang membunuh bukan hanya kekasihnya, tetapi juga dirinya.
Tamat