Malam minggu itu, Budi niat banget ke minimarket buat beli mie instan dan es krim. Santai aja, cuma sarung dan kaos oblong.
“Ah, sebentar doang ini. Nggak bakal ketemu siapa-siapa,” pikir Budi.
Dengan percaya diri, Budi berangkat. Langkah ringan, sarung melambai, seperti pahlawan kampung yang lagi patroli.
Tapi begitu sampai di minimarket, dunia seolah memberi pelajaran hidup.
Di depan pintu, Budi ketemu Sari.
Iya, Sari. Cewek paling cantik di kantornya.
Sari melongo. “Budi? Ngapain pakai sarung jam segini?”
Budi berdiri tegak, canggung, tangan meremas ujung sarung. “Ehm... ini... tradisi malam minggu. Biar adem.”
Sari ketawa. “Wah, keren sih. Jarang ada cowok pede kayak gini.”
Budi pura-pura cool, padahal dalam hati mau kabur aja rasanya.
Setelah obrolan singkat itu, Budi masuk minimarket, ngambil mie instan dan es krim dengan kecepatan kilat. Pas ke kasir, ternyata mbaknya juga ketawa kecil.
“Mas, style-nya unik banget ya. Jalan-jalan pakai sarung?”
Budi tertawa hambar. “Iya, konsep back to basic, Mbak.”
Selesai bayar, Budi buru-buru keluar. Tapi petaka belum selesai.
Sarungnya KENDOR.
Lagi asyik jalan, tiba-tiba sarungnya turun dikit... dikit... sampai hampir lepas.
Budi panik, langsung nahan sarung pakai satu tangan, tapi malah mie instan dan es krim jatuh ke jalan.
Sialnya, tepat saat itu, ada rombongan anak SMA nongkrong di depan minimarket.
Seisi rombongan ngakak.
“Pak Haji, butuh bantuan?” salah satu dari mereka bercanda.
Budi cuma bisa tertawa getir, sambil ngikat sarung di pinggang kayak karateka kesiangan.
Saat pulang, Budi hanya bisa bergumam. “Malam ini gue belajar dua hal. Satu, jangan pakai sarung ke minimarket. Dua, kalau udah pakai, pastikan talinya double knot!”
Tamat