Aku baru menikah seminggu dengan lelaki yang telah kupacari selama 5 bulan belakangan. Aku memanggilnya mas hanif
Dia sosok lelaki yang gagah, otot lengan yang sempurna tentu saja menjadikan ketampanan nya berkali-kali lipat, dia menyapa setiap orang yang ia lewati dengan senyuman khas dengan sedikit tambahan ginsul yang akan membuat siapa saja mengaguminya.
Sore itu kami menghadiri reuni dengan teman SMK suamiku, seseorang menepuk pundak suamiku
"Hei hanif! Lama tidak bertemu" katanya memeluk suamiku lancang
Ia melepas pelukannya dengan suamiku, melihat kearahku
"Ini siapa?" Tanya nya menuntut jawaban
Aku mendekat merangkul pinggang suamiku, dibalas rangkulan dibahu
"Ini istriku, kami baru menikah minggu lalu. Maaf lupa mengundang karna acaranya tidak banyak dihadiri orang sesuai permintaan si cantik ini. Mas hanif menatapku tersenyum
Jelas kulihat sorot mata wanita ini menandakan kecewa, karna sejak tadi dapat aku kupastikan ia menatap suamiku dengan binar yang tak biasa.
"Hallo aku hana" ucapnya mengulurkan tangan
"Nadira" ucapku manis membalas ulurannya
"Baiklah aku pergi dulu" ucapnya lalu berjalan pelan kearah temannya yang lain, raut wajahnya berubah setelah mengetahui siapa aku.
***
Setelah pulang kerumah, suamiku langsung tidur mungkin dia kelelahan.
'Ting' notif pesan dari WhatsApp mas hanif
Aku melihatnya "Hai mas, save ya nomor aku hana"
Aku mengetik balasan untuknya, Hana memberikan alamat rumahnya. Ah dia masih mengira sedang ber-chatting ria dengan suamiku rupanya.
***
Aku membuka mata, sudah jam 07:15
Perutku sudah lapar rasanya, kulihat mas suami sudah selesai mandi.
Ia menghampiriku dan mengecup keningku manja
"Mau kemana mas? Hari libur sudah rapi" tanyaku menyelidik
"Mas mau kerumah hana sayang, tadi sewaktu subuh mas mendapat kabar dari grup WhatsApp kalau hana telah berpulang dengan kondisi mengenaskan, ia dibunuh seseorang semalam, Mata dan beberapa bagian badannya hilang seperti di mutilasi. Ahh tidak menyangka secepat itu dia pergi padahal semalam kita masih bertemu dengannya" jawab suamiku menjelaskan, wajahnya menunjukkan semburat sedih dan berduka. Aku hanya diam menatapnya
"Kamu mau ikut?" Sambungnya
"Tidak mas, aku belum mandi. Mas sendiri saja, sampaikan turut berduka dariku" Aku meraih tangan suamiku dan mengecupnya.
Mas hanif telah berangkat kerumah temannya itu, kuputuskan untuk memasak di dapur. Kubuka kulkas dan meraih sebuah plastik dari dalam freezer
Ah akan ku masak apa daging ini, jadikan semur?gulai? Atau kurendang saja? Huh Membayangkan makanan dari daging segar ini membuatku semakin bersemangat.
Aku beralih membuka sebuah toples, sepasang mata coklat yang indah berada disana
'Malang kali kau hana' batinku mengingat teriakan merdunya semalam.