.
.
Haikal menatap layar ponselnya dengan mata yang dipenuhi kebimbangan. Sebuah pesan dari Shani muncul di sana, singkat namun berat: "Bisa ketemu? Aku butuh bicara." Ia membaca pesan itu berulang kali, mencoba menebak apa yang ingin Shani katakan.
Haikal dan Shani adalah teman dekat, mungkin terlalu dekat untuk disebut hanya teman. Namun, di antara kedekatan mereka, ada tembok tak kasat mata—rasa takut untuk mengungkapkan apa yang ada di hati masing-masing.
Haikal memilih tempat pertemuan di taman dekat rumahnya. Udara malam itu sejuk, dengan angin yang membawa aroma bunga kamboja dari pohon-pohon di sekitar. Saat Shani datang, Haikal langsung menyadari ada yang berbeda. Wajahnya tidak seperti biasanya, ada guratan kecemasan yang sulit disembunyikan.
“Kenapa?” tanya Haikal dengan suara pelan.
Shani duduk di bangku kayu, menunduk, lalu menghela napas panjang. “Aku merasa bersalah, Kal...”
“Bersalah soal apa?” Haikal mengernyitkan dahi.
“Selama ini... aku terlalu bergantung sama kamu. Tapi aku nggak pernah benar-benar tahu apa yang kamu rasain tentang aku,” jawab Shani dengan suara bergetar.
Haikal terdiam. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hatinya. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa cukup baginya untuk berada di sisi Shani, tanpa perlu mengungkapkan apa pun.
“Shan, aku nggak pernah bilang apa-apa karena aku takut merusak apa yang kita punya,” jawab Haikal akhirnya. Ia menatap ke arah langit, mencoba menyusun kata-kata. “Tapi kalau kamu ingin tahu, aku selalu ada di sini buat kamu. Bukan karena aku merasa harus, tapi karena aku mau.”
Shani tersenyum tipis, namun matanya berkaca-kaca. “Aku juga mau, Kal. Tapi aku nggak tahu apakah ini cukup untuk membuat kita lebih dari sekadar teman.”
Haikal teringat momen-momen kecil bersama Shani—membahas mimpi, saling mendukung saat salah satu dari mereka terjatuh, dan tawa yang selalu mengisi hari-hari mereka. Namun, ia juga teringat Alif, sahabatnya yang pernah mengatakan, “Kadang kita terlalu takut kehilangan sampai lupa, kalau nggak pernah mencoba, kita juga akan kehilangan.”
Di sisi lain, ada Jesika—teman baru Haikal di kampus yang mulai menunjukkan ketertarikan padanya. Jesika adalah sosok yang ceria dan penuh percaya diri, berbeda dengan Shani yang lebih lembut dan introspektif.
Aziz, sahabat Haikal lainnya, sering menggoda soal Jesika. “Bro, Jesika tuh jelas suka sama lo. Lagian, sampe kapan lo mau nunggu Shani? Nggak cape nunggu jawaban yang nggak pasti?”
Haikal selalu mengabaikan komentar Aziz, tapi kata-kata itu mulai menghantui pikirannya. Apakah ia harus membuka diri pada orang lain jika Shani tidak siap?
Beberapa minggu berlalu, hubungan Haikal dan Shani terasa semakin tegang. Suatu hari, Jesika mengajak Haikal untuk pergi ke pameran seni. Haikal yang sedang bingung dengan perasaannya setuju, berharap waktu bersama Jesika bisa memberinya perspektif baru.
Namun, saat sedang melihat lukisan, ia melihat Shani dari kejauhan. Mata mereka bertemu, dan Shani terlihat terluka.
Malam itu, Shani mengirimkan pesan: "Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu jalan sama Jesika? Aku cuma... nggak nyangka."
Haikal tahu, ini adalah momen yang akan menentukan segalanya. Ia menelepon Shani, suaranya penuh emosi. “Shan, aku nggak tahu lagi harus gimana. Aku capek nunggu sesuatu yang nggak pernah jelas. Kalau kamu nggak punya perasaan yang sama, bilang aja. Aku bisa pergi.”
“Kal, aku nggak pernah mau kamu pergi...” jawab Shani pelan. “Aku cuma nggak tahu gimana caranya untuk bilang kalau aku juga takut kehilangan kamu.”
Haikal dan Shani akhirnya bertemu untuk membahas semuanya. Mereka duduk di bawah pohon besar di taman, tempat mereka sering berbincang dulu.
“Shan, aku nggak minta jawaban sekarang,” kata Haikal. “Aku cuma mau tahu kalau kamu juga mau berjuang untuk ini, sama seperti aku.”
Shani menatap Haikal, matanya penuh kejujuran. “Aku mau, Kal. Aku selalu mau. Tapi aku butuh waktu untuk belajar percaya lagi, bukan hanya sama kamu, tapi juga sama diriku sendiri.”
Haikal mengangguk, dan untuk pertama kalinya, ia merasa lega. Meskipun jalan di depan tidak mudah, mereka tahu bahwa dengan saling mendukung, mereka bisa melewati semuanya.
Ikatan mereka yang selama ini hanya terucap dalam kata-kata kini mulai menjelma menjadi ikatan batin yang lebih dalam. Mereka tidak sempurna, tapi mereka berjanji untuk saling melengkapi.
Dan untuk Haikal, itulah yang selalu ia tunggu.
.
.
.
.