Malam itu, rumah kecil milik Lila terasa sepi. Anak-anak sudah tidur, dan Andi, suaminya, belum juga pulang dari kantor. Lila duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian, tapi pikirannya melayang.
Ia merasa akhir-akhir ini Andi semakin jauh. Pekerjaan di kantor seolah menyita seluruh waktunya. Andi jarang berbicara atau sekadar menghabiskan waktu bersamanya. Rasa lelah dan kesepian mulai menggerogoti hati Lila.
Dengan napas berat, ia berjalan menuju kamar, berbaring, dan berharap esok hari akan lebih baik. Saat merapikan bantalnya, tangannya menyentuh sesuatu. Sebuah amplop kecil berwarna putih.
Lila membuka amplop itu dengan penasaran. Di dalamnya ada secarik kertas bertuliskan tangan Andi.
"Untuk istriku yang selalu aku cintai,
Aku tahu akhir-akhir ini aku jarang di rumah, dan aku sering membuatmu merasa sendirian. Aku minta maaf karena terlalu sibuk bekerja. Tapi aku ingin kamu tahu, semua ini kulakukan demi kamu dan anak-anak kita.
Aku mungkin tak pandai menunjukkan rasa sayangku, tapi aku bersyukur setiap hari karena memilikimu. Kamu adalah kekuatanku, rumahku, dan alasanku untuk terus berjuang.
Terima kasih karena selalu sabar, meski aku sering mengecewakanmu. Aku berjanji akan berusaha menjadi suami yang lebih baik.
Aku mencintaimu, Lila.
Andi."
Air mata Lila mengalir tanpa bisa ia tahan. Surat itu sederhana, tapi menyentuh hatinya lebih dalam daripada apa pun. Semua keraguan yang ia rasakan lenyap.
Saat itu, pintu kamar terbuka perlahan. Andi masuk dengan langkah pelan, khawatir membangunkan istrinya. Namun, ia terkejut ketika mendapati Lila duduk di tempat tidur, memegang surat yang ia letakkan sebelumnya.
“Andi...” bisik Lila dengan suara bergetar.
Andi mendekat, lalu duduk di sebelahnya. “Aku tahu aku sudah banyak salah. Maafkan aku, Lila.”
Lila tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memeluk Andi erat, seolah tidak ingin melepasnya.
“Terima kasih untuk surat ini,” kata Lila akhirnya. “Aku tidak butuh apa-apa lagi. Cukup kamu di sini, dan aku tahu kita akan baik-baik saja.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka berbicara hingga larut malam. Tentang cinta, keluarga, dan mimpi-mimpi sederhana yang selalu ingin mereka wujudkan bersama.
Akhir.