kecil milik keluarga Pak Rizal. Riana, istrinya, sibuk memasak sarapan untuk suami dan dua anak mereka. Meski dapur itu sederhana, senyuman Riana selalu membuat tempat itu terasa hangat.
“Bu, kopi hitamnya mana?” tanya Pak Rizal dari ruang tengah, sembari merapikan kemeja kerja yang warnanya mulai pudar.
“Sebentar, Pak,” sahut Riana sambil menuang kopi ke dalam cangkir lusuh yang sudah bertahun-tahun mereka pakai. Ia menyerahkannya kepada Rizal dengan senyuman. “Kopinya seperti biasa, pahit tapi bikin semangat.”
Pak Rizal tersenyum kecil. “Sama seperti hidup kita, ya. Kadang pahit, tapi kita jalani bersama.”
Riana tertawa ringan. “Tapi kalau diminum pelan-pelan, rasanya enak juga, kan?”
Di tengah kehangatan itu, anak bungsu mereka, Fira, berlari kecil ke dapur sambil membawa buku gambar. “Ibu, Ayah, lihat ini!” katanya dengan antusias, memperlihatkan gambar rumah besar dengan taman hijau.
“Wah, cantik sekali gambarnya, Nak,” puji Pak Rizal sambil mengusap kepala Fira. “Rumah siapa ini?”
“Rumah kita nanti, Ayah. Kalau Ayah terus bekerja keras, kan, kita bisa punya rumah besar seperti ini?” Fira berkata polos, matanya berbinar.
Pak Rizal dan Riana saling pandang. Ada keheningan sesaat, tapi bukan karena mereka tidak ingin menjawab. Mereka hanya mencari kata-kata yang tepat.
Riana akhirnya berlutut di depan Fira. “Sayang, rumah besar memang indah. Tapi tahu tidak? Rumah kita yang sekarang ini lebih indah, karena di sini ada Ayah, Ibu, dan kamu.”
“Tapi rumah kita kecil,” protes Fira.
Pak Rizal tersenyum, lalu mengangkat Fira ke pangkuannya. “Rumah besar itu bagus, tapi yang membuat rumah jadi istimewa adalah cinta. Rumah kecil kita penuh cinta, dan itu lebih besar dari apa pun.”
Fira terlihat berpikir, lalu mengangguk pelan. “Jadi, rumah kita besar karena cinta, ya?”
“Betul sekali,” jawab Riana sambil mencium kening Fira.
Hari itu, meski mereka kembali menjalani rutinitas sederhana, hati mereka penuh kehangatan. Riana memasak, Rizal bekerja keras, dan anak-anak mereka bermain. Mereka tahu bahwa kebahagiaan bukanlah soal seberapa besar rumah yang dimiliki, tetapi seberapa dalam cinta yang mengisi setiap sudutnya.