Di tengah hujan yang deras, Lara berjalan tergesa-gesa menuju rumah kecil yang terletak di ujung jalan desa. Matahari telah tenggelam, meninggalkan langit yang gelap dan penuh dengan awan kelabu. Rumah itu milik neneknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah kecelakaan yang merenggut orang tuanya lima tahun yang lalu. Neneknya, yang tinggal seorang diri, baru saja mengirimkan surat yang mengatakan ia ingin bertemu dengan Lara. Sejak kejadian itu, Lara merasa ada sesuatu yang tak biasa dengan rumah neneknya. Suatu hal yang membuatnya tak bisa tidur setiap kali menginjakkan kaki di sana.
Setelah beberapa menit berjalan, Lara tiba di depan rumah kecil itu. Pintu kayu yang biasa terkunci kini terbuka lebar, seolah menunggu kedatangannya. Meskipun hati Lara merasa sedikit takut, ia memutuskan untuk masuk.
“Hallo, Nek?” panggil Lara, suaranya terdengar serak di tengah keheningan malam. Tidak ada jawaban. Lara melangkah masuk, matanya melirik ke sekeliling rumah. Rumah itu terasa lebih tua dari sebelumnya, dengan debu yang menempel di setiap sudut ruangan. Hanya lampu redup yang menyinari meja kayu yang dikelilingi kursi-kursi yang tampak usang.
Lara melangkah lebih jauh dan menemukan neneknya di ruang tamu, duduk di kursi roda tua dengan tatapan kosong. Wajahnya yang keriput dan mata yang hampir tertutup membuatnya terlihat seperti bukan nenek yang biasa ia kenal. Nenek itu memandang Lara dengan senyuman tipis.
“Nek, apa yang terjadi?” tanya Lara cemas, melangkah mendekat.
Nenek tersenyum lebih lebar, meskipun senyuman itu terasa kaku dan tidak natural. "Lara, sayang... kau akhirnya datang."
Lara duduk di kursi di samping neneknya. “Apa yang ingin nenek bicarakan? Kenapa mengirimkan surat yang membuatku cemas seperti ini?”
Nenek terdiam sejenak. “Ada sesuatu yang harus kau lihat, sayang. Sesuatu yang sangat penting,” katanya, suaranya terdengar serak, seperti suara orang yang sudah lama tidak berbicara.
Nenek menoleh ke cermin besar yang tergantung di dinding sebelah kanan mereka. Cermin itu tampak berbeda. Biasanya, cermin itu memantulkan gambar yang jelas, tetapi kali ini, permukaannya tampak kabur, seolah-olah ada sesuatu yang menghalangi pandangan di baliknya. Nenek tersenyum lagi, lalu berkata, “Cobalah lihat ke dalam cermin, Lara.”
Lara merasa heran. Ia menatap neneknya, ragu-ragu. “Nek, aku tidak mau—”
“Tolonglah, Lara. Hanya ini yang aku pinta,” potong neneknya, suara mendesaknya membuat Lara tak bisa menolak.
Dengan rasa takut yang menggelayuti hati, Lara akhirnya berdiri dan mendekati cermin. Saat ia menatap lebih lama, bayangannya mulai kabur. Perlahan, wajahnya yang tercermin mulai berubah. Mata yang tadinya jelas, kini tampak seakan berkelip-kelip, seperti kaca yang retak. Wajahnya yang familiar, dengan mata cokelat dan rambut panjang, perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing, seakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Lara terkejut dan mundur sejenak, tetapi bayangan itu tetap ada, semakin jelas, semakin nyata.
Lara menoleh ke neneknya, dan untuk pertama kalinya ia melihat ketakutan yang nyata di mata orang tua itu. Neneknya menggigil, wajahnya semakin pucat, dan suara yang keluar dari mulutnya hanya bisikan pelan, "Dia ada di sana. Kau harus pergi, Lara. Kau harus pergi sebelum terlambat."
Lara kebingungan. "Apa maksud nenek? Apa yang terjadi dengan cermin itu?"
Tiba-tiba, bayangan di cermin mulai bergerak. Bayangan itu bukanlah dirinya, melainkan sosok yang lebih tinggi, lebih gelap, dengan mata yang kosong. Sesuatu yang mengerikan. Lara merasa tubuhnya kaku, tak bisa bergerak. Ada kekuatan yang menguasainya, menahan langkahnya untuk mundur.
"S-siapakah itu?" tanya Lara dengan suara bergetar.
Neneknya menutup mata, menundukkan kepala, seolah menyesali segala sesuatu yang telah terjadi. "Itu… adalah dirimu, Lara. Dulu. Sebelum kecelakaan itu."
Lara merasa tubuhnya melemas. “Apa yang... apa yang kau maksud, Nek?”
Namun, sebelum neneknya bisa menjawab, cermin itu pecah dengan suara keras. Kepingan kaca berjatuhan ke lantai, membentuk pola yang aneh dan menyeramkan. Lara menatap pecahan kaca itu dengan kebingungan yang semakin dalam. Dalam satu kepingan kaca, ia melihat sesuatu yang membuatnya hampir jatuh pingsan. Bayangan itu—bayangan yang seharusnya tidak ada di sana—menatapnya kembali. Senyum yang begitu mirip dengan senyum neneknya, tetapi jauh lebih gelap, lebih mengerikan.
“Kau tidak mengingatnya, Lara?” suara itu terdengar, datang dari dalam dirinya sendiri. "Kau sudah mati, sayang. Semua yang kau lihat selama ini hanyalah ilusi."
Tiba-tiba, Lara merasakan sesuatu yang sangat dingin menyentuh tengkuknya. Ia menoleh, dan di balik bayangan neneknya yang mulai mengabur, ia melihat dirinya sendiri—bukan dirinya yang hidup, melainkan tubuh yang terkulai lemah dan pucat. Wajahnya telah hancur dalam kecelakaan yang sama sekali tidak ia ingat. Ia mati di tempat itu. Selama ini, ia hanyalah roh yang terjebak, tak pernah keluar dari rumah itu.
Sosok di cermin itu kini tersenyum lebih lebar, mengisyaratkan bahwa inilah takdirnya. Dan ia akhirnya tahu.
Selama ini, neneknya, yang sudah meninggal sejak kecelakaan itu, selalu menunggunya di rumah ini, berusaha membuatnya mengingat apa yang telah terjadi. Tetapi, setiap kali ia berhasil, Lara akan lupa lagi—terjebak dalam lingkaran yang tak pernah berakhir.
Kini, dengan suara bisikan dari balik bayangan itu, Lara sadar bahwa dirinya tidak akan pernah bisa keluar. Kegelapan itu sudah menyelimutinya selamanya.