Yo! Gue Arja, ketua OSIS sekaligus kapten basket SMA Pradasirta. Gue? Tampan? Ya, udah pasti! The most handsome guy di sekolah ini, gak usah diragukan lagi. Pinter? Jelas! The smartest student, gue selalu nge-top di kelas. Gue punya segalanya, gue punya charm, gue punya otak, gue punya skill. Jadi, siapa yang berani ngelawan gue?"
Arja, dengan senyum lebar dan tatapan tajam, berdiri di tengah lapangan basket, dikelilingi oleh para penggemarnya. Rambutnya yang sedikit berantakan dan seragam basket yang sedikit longgar menambah aura cool-nya. Dia adalah raja di sekolah ini, dan semua orang tahu itu.
"Arja! Arja! Arja!" Teriakan para siswi memenuhi lapangan. Arja melambaikan tangan, menikmati sorak-sorai itu. Dia memang punya segalanya. Ketampanan, kecerdasan, dan bakat. Semua orang ingin dekat dengannya, semua orang ingin menjadi bagian dari dunianya.
Di tengah keriuhan itu, seorang siswi baru, Maera, berdiri di pinggir lapangan. Rambut panjang bergelombang, kulit putih, dan mata yang indah membuatnya terlihat seperti seorang putri. Namun, di balik kecantikannya, tersembunyi sifat yang mudah tersulut emosi.
Maera baru saja pindah dari SMA Ardirta karena perpindahan kerja ayahnya. Dia masih canggung dengan lingkungan baru ini, dan belum terbiasa dengan hiruk pikuk SMA Pradasirta.
Maera sebelumnya sudah mengetahui persoalan The best guy di sekolah ini dari sepupunya bernama MAYTA Sedikit penasaran apa yang terjadi tapi Maera lebih memilih mengabaikan itu. Dia hanya ingin cepat-cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun, takdir punya rencana lain.
Bola basket yang terlepas dari tangan Arja, melambung tinggi dan mendarat tepat di kepala Maera. Maera tersentak, kaget dan kesakitan.
"Aduh!" teriak Maera, memegang kepalanya.
Arja, yang melihat kejadian itu, langsung berlari menghampiri Maera. "Lo gak apa-apa?" tanyanya
"Lo buta atau apa sih? Gak liat gue di sini?" bentak Maera, matanya berkaca-kaca.
Arja terdiam. Dia tidak menyangka Maera akan bereaksi seperti itu. "Maaf, gue gak sengaja," jawabnya, sedikit gugup.
"Gak sengaja? Gak sengaja bisa bikin orang sakit?" Maera semakin marah. "Lo pikir lo siapa, sih? Raja di sini?"
Arja tercengang. Dia tidak pernah dibentak seperti itu sebelumnya. "Lo siapa, sih? Baru datang udah berani ngelawan gue?" balas Arja, suaranya sedikit meninggi.
"Gue siapa? Gue Maera, dan gue gak takut sama lo!" jawab Maera, dengan tatapan tajam.
Pertemuan pertama Arja dan Maera berakhir dengan pertengkaran. Mereka berdua sama-sama keras kepala, sama-sama tidak mau mengalah. Namun, di balik pertengkaran itu, tersembunyi sebuah misteri. Misteri yang akan mengantarkan mereka pada sebuah petualangan yang tak terduga.
Lembar waktu baru saja terbuka, dan kisah mereka baru saja dimulai.