Di taman, aku merenung. Tentang pesan terakhir Uma. Dia yang selalu lembut padaku, dan tidak pernah marah, dia yang mengingatkan ketika aku salah. Di sore itu, aku menahan sesak di dadaku.
Aku kehilangan dia, dia adalah seorang Ibu yang baik. Tidak pernah menyakiti siapapun. Aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa secepat itu Tuhan mengambil Umaku dariku? Mengapa terkesan tidak adil? Tuhan mengambil Uma, dari aku, dari saudara-saudara ku.
Uma adalah duniaku. Dia adalah surgaku.
Secepat itu Uma meninggalkan adikku yang masih berusia 1 setengah tahun kala itu.
Ketika aku tersadar, aku ingat pesan terakhir Uma. Terus terdiam.
Dalam sepi, kuhirup udara banyak-banyak, meskipun debu kemarau masuk kehidungku pun, aku tak perduli.
Kututup Vidio game di tanganku, benda yang biasanya bikin aku tertawa, kini malah tidak bisa menenangkan rasa sedihku. Air mataku memang tidak turun, tapi dadaku tetap saja sesak.
Dan kuingat lagi pesan Uma sebelum meninggal dunia.
Dia berpesan, agar aku menjadi anak yang baik, dan menjaga saudara perempuanku. Pesan itu juga yang dia katakan pada kakak lelakiku. Meski rasanya sesak. Tapi aku mencoba tabah.
Karena rasa sakit ini,akan terobati, meski aku tidak rela. Tapi Tuhan masih adil padaku. Umaku mungkin sudah tidak bisa ku peluk seperti yang dulu kulakukan sepulang sekolah. Tapi Abahky masih ada di sisiku, aku yakin, hati abahku lebih hancur dari pada aku anaknya. Dan hanya bisa untukku mengelus punggung kakakku, kami saling menguatkan. Dan mengingat pesan Uma. Meski banyak pesan lain lagi di dalamnya.
I love you so Uma. Semoga Uma tenang di sana, dan semoga Uma bangga melihat kami, kami yang akan selalu mendoakan Uma dari sini. Baik dulu, maupun sekarang. Dan Uma, adikku sudah besar sekarang. Semoga Uma bahagia di sana, melihat kami akur, dan bahagia pula, berjuang untuk kelak. Selamat Hari ibu ya Uma. Mira Ne Rindu Uma. ❤️