Langit sore itu dihiasi warna jingga keemasan. Aulia duduk di bangku kayu di taman kota, memandangi buku sketsanya. Ia sedang menggambar pohon besar yang berdiri di tepi danau. Suara langkah kaki mendekat, tetapi Aulia tidak menoleh.
"Hm, sketsanya bagus," suara seorang laki-laki memecah keheningan.
Aulia menoleh, mendapati seorang pemuda berdiri di dekatnya. Ia membawa buku sketsa juga, dengan pensil terselip di telinga.
"Oh, terima kasih," jawab Aulia, tersenyum kecil.
"Kamu sering gambar di sini?" tanya pemuda itu, duduk di bangku yang sama tanpa diminta.
"Kadang-kadang," jawab Aulia. "Tapi biasanya tempat ini sepi."
Pemuda itu tertawa kecil. "Maaf kalau aku ganggu. Aku cuma penasaran. Aku juga suka gambar, namaku Raka."
"Aulia," balas Aulia, mengulurkan tangan.
Sejak hari itu, mereka sering bertemu di taman kota. Awalnya, mereka hanya berbagi cerita tentang seni, tetapi perlahan, mereka mulai saling mengenal lebih dalam.
---
Suatu sore, di bangku yang sama, Raka membawa sebuah hadiah kecil untuk Aulia.
"Ini buat kamu," kata Raka sambil menyerahkan sebuah buku sketsa baru.
Aulia membuka buku itu dan tersenyum lebar. "Kamu nggak perlu repot-repot, Raka."
"Anggap saja itu hadiah ulang tahun lebih awal," jawab Raka, tertawa kecil.
Aulia menatapnya. "Kamu perhatian banget."
Raka menghela napas pelan, lalu berkata, "Aulia, aku mau bilang sesuatu. Aku nggak tahu sejak kapan, tapi... aku suka sama kamu."
Aulia terdiam, wajahnya memerah. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Kamu nggak perlu jawab kalau-"
"Aku juga suka kamu, Raka," potong Aulia cepat.
Raka terkejut, lalu tertawa lega. "Serius?"
Aulia mengangguk. "Serius."
Hari itu, di bawah langit senja, mereka resmi menjadi sepasang kekasih.