Desember selalu membawa kenangan tentang hujan. Hujan yang dingin, penuh aroma tanah basah, dan menyimpan cerita yang tak pernah luput dari ingatan seorang pria bernama Andra.
Hidupnya sederhana, bekerja sebagai pegawai minimarket, ia sudah terbiasa menyaksikan rintik-rintik air jatuh dari balik kaca etalase. Minimarket itu kecil dan sederhana, tapi bagi Andra, tempat itu adalah ruang kecil di mana ia bisa mengamati dunia tanpa banyak terlibat di dalamnya.
Hari itu, hujan turun deras, lebih lebat dari biasanya. Pelanggan minimarket hampir tidak ada, hanya suara gemericik hujan yang menemani Andra. Ia tengah menata ulang rak minuman dingin ketika pintu minimarket terbuka, memecah keheningan.
Seorang wanita masuk dengan tergesa, mantel panjangnya basah kuyup. Andra menatapnya sekilas. Wajah wanita itu tampak lelah, tapi ada sesuatu di sana—entah matanya atau senyumnya—yang membuat Andra tak bisa berpaling.
“Hujannya deras sekali,” gumam wanita itu sambil memeras ujung mantelnya. “Boleh saya berteduh di sini sebentar?”
Andra mengangguk, sedikit kikuk. “Silakan saja. Tidak ada yang melarang.”
Wanita itu tersenyum, lalu mulai berjalan-jalan di antara rak-rak minimarket. Ia tidak membeli apa-apa, hanya mengamati barang-barang dengan santai. Andra memperhatikannya dari balik meja kasir, merasa ada yang berbeda dari pelanggan biasa.
Setelah beberapa menit, wanita itu mendekat ke kasir sambil membawa sekotak cokelat panas instan. “Apa kamu punya air panas di sini?” tanyanya.
Andra mengangguk lagi. Ia mengeluarkan gelas kertas dari bawah meja, menuangkan air panas, lalu menyerahkannya. Wanita itu tampak terkejut. “Kamu tidak mengenakan biaya?”
“Tidak apa-apa. Kamu terlihat kedinginan,” jawab Andra singkat.
Wanita itu tersenyum lagi, kali ini lebih hangat. “Terima kasih. Aku Maya, by the way.”
“Andra,” jawabnya singkat.
Percakapan kecil itu menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar. Setelah hari itu, Maya sering mampir ke minimarket. Kadang untuk membeli sesuatu, kadang hanya untuk berbincang dengan Andra. Mereka mulai saling mengenal. Maya adalah seorang ilustrator yang sering bekerja dari kafe-kafe atau rumah. Ia bilang, hujan Desember selalu memberinya inspirasi.
Andra, yang biasanya pendiam, mulai merasa nyaman berbicara dengan Maya. Entah bagaimana, kehadirannya membawa warna baru dalam hidup Andra yang monoton.
Pada suatu sore, ketika hujan kembali mengguyur kota, Maya duduk di salah satu sudut minimarket dengan secangkir kopi instan. Ia menggambar sesuatu di buku sketsanya, sementara Andra duduk di belakang meja kasir, memperhatikannya dengan diam-diam.
“Kamu tahu, aku suka tempat ini,” kata Maya tiba-tiba.
“Kenapa?” tanya Andra, penasaran.
“Karena sederhana. Sama seperti kamu.” Maya menatap Andra dan tersenyum. “Kamu membuat segalanya terasa hangat, bahkan saat hujan terasa dingin.”
Andra tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan perasaan yang mulai tumbuh di hatinya.
Hari demi hari berlalu, dan hubungan mereka semakin dekat. Namun, seperti hujan yang tak selamanya turun, Maya akhirnya harus pergi. Ia mendapat tawaran pekerjaan di luar kota yang tidak bisa ia tolak.
Di hari terakhirnya di minimarket, Maya memberikan Andra sebuah buku sketsa kecil. “Aku ingin kamu menyimpannya. Ini berisi gambar-gambar yang terinspirasi dari pertemuan kita,” katanya.
Andra menerimanya dengan ragu. “Apa kita akan bertemu lagi?”
Maya tersenyum, meskipun matanya terlihat sedih. “Hujan Desember selalu membawa kita ke tempat yang sama, Andra. Aku yakin, suatu saat, kita akan bertemu lagi.”
Maya pergi, meninggalkan minimarket kecil itu. Namun, bagi Andra, kehadirannya telah mengubah banyak hal. Setiap kali hujan Desember datang, Andra membuka buku sketsa itu, dan membaca catatan-catatan kecil yang pernah ia tulis untuk mengingat setiap momen yang telah mereka habiskan bersama.
Dan meskipun Maya tidak lagi ada di sana, hujan Desember selalu membawa harapan, bahwa cinta pertama tidak pernah benar-benar hilang.
Entah berapa lama Andra harus menunggu, setahun, dua tahun ataupun sewindu, ia tidak akan berhenti karena Andra yakin sesuai dengan ucapan Maya bahwa mereka akan bertemu lagi.
Andra sebenarnya bukanlah seseorang yang percaya pada keajaiban cinta. Namun, pertemuannya dengan Maya telah membuatnya tidak bisa berpaling ke lain hati. Maya menjadi satu-satunya wanita yang mengisi hatinya, entah itu sekarang ataupun nanti. Dan yang pasti hujan Desember sudah merubah banyak hal pada hidup pria itu.