Di sebuah kota kecil yang dikelilingi perbukitan hijau, Arjuna dan Putri saling mencintai sejak masa kecil. Mereka tumbuh bersama, berlarian di padang rumput, bermain di tepi sungai, dan berbagi rahasia di bawah pohon besar di halaman rumah Putri. Cinta mereka berkembang begitu alami, seiring waktu yang berlalu.
Namun, takdir berkata lain. Putri, yang selalu ceria dan penuh semangat, didiagnosis dengan penyakit langka yang menggerogoti tubuhnya perlahan. Dokter mengatakan hanya ada sedikit harapan. Namun, Putri tidak pernah membiarkan Arjuna melihat kesedihannya. Dia selalu tersenyum, berusaha menunjukkan kepada Arjuna bahwa dia baik-baik saja.
Suatu sore, ketika langit di atas kota kecil itu mulai berubah menjadi oranye keemasan, Putri membawa Arjuna ke tempat favorit mereka, di bawah pohon besar yang sudah menjadi saksi cinta mereka. "Arjuna, aku ingin kita berjanji," kata Putri, matanya berkaca-kaca.
"Apa itu?" tanya Arjuna, jantungnya berdebar.
"Jika suatu saat nanti aku tidak ada lagi, aku ingin kau hidup dengan bahagia. Jangan biarkan kenangan kita menghentikan langkahmu. Aku mencintaimu, tapi aku ingin melihatmu bebas, seperti pelangi yang tidak pernah berhenti muncul setelah hujan," kata Putri, suara seraknya hampir tak terdengar.
Arjuna menggenggam tangannya erat. "Jangan bicara seperti itu, Putri. Kita masih punya banyak waktu. Kita akan melawan penyakit ini bersama."
Tapi harapan itu semakin memudar seiring berjalannya waktu. Putri semakin lemah, dan akhirnya, pada suatu malam yang sunyi, dia menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan Arjuna. Dunia seolah berhenti berputar bagi Arjuna, yang merasa kehilangan setengah jiwanya.
Beberapa bulan setelah kepergian Putri, Arjuna mendaki bukit yang mereka sering kunjungi. Di puncak, dia melihat pelangi yang membentang indah di langit. Saat itu, dia merasakan kehadiran Putri di hatinya, meski tubuhnya tak lagi ada. Pelangi itu adalah tanda bahwa Putri, meski telah pergi, akan selalu ada di dalam hidupnya—seperti kenangan yang tak akan pernah hilang.
Dengan air mata yang jatuh, Arjuna berbisik, "Selamat tinggal, Putri. Aku akan selalu mencintaimu, sampai akhir hayatku."
Dan pelangi itu, seperti yang dijanjikan Putri, tak pernah berhenti menyinari hidup Arjuna, meskipun hanya dalam kenangan dan doa.