Perkenalkan, namanya Mahira. Tapi orang-orang selalu memanggilnya Mia. Gadis dengan rambut biru yang panjang hingga pinggangnya. Jika ditanya hewan apa yang paling disuka, tentu saja jawabannya adalah burung. Menurutnya, burung itu adalah hewan yang paling indah. Kicauan mereka selalu terdengar merdu. Dan lagi, burung itu bisa terbang! Ya, salah satu alasan mengapa Mia menyukai burung adalah karena mereka bisa terbang.
Terkadang, dia iri melihat burung yang bisa terbang dengan bebasnya seperti tak ada beban. Aku juga ingin tahu bagaimana rasanya menjadi burung dan terbang apakah menyenangkan? Pikirnya.
Saat ini Mia sedang melamun di kamar dan matanya yang hitam menatap ke luar jendela—melihat burung-burung yang beterbangan. Kalian pasti penasaran kan mengapa dia tak memelihara burung padahal dirinya sangat menyukainya? Alasannya adalah karena ia tak ingin merenggut kebebasan mereka hanya karena rasa sukanya. Itulah alasannya. Jadi, dia hanya bisa mengagumi mereka dari bawah sini.
“Apa kau benar-benar ingin menjadi burung?” terdengar suara lelaki di kamar Mia.
Mia terdiam. “Apakah aku berhalusinasi? Karena tak mungkin ada suara lelaki di sini. Aku sendirian, tahu,”
Ucapnya dalam hati
Tiba-tiba bulu kuduk Mia merinding, udara menjadi dingin dan napasnya menjadi pendek.
“Apakah itu hantu?” pikir Mia dalam hati.
“Apa? Kau pikir aku hantu?”
Tiba-tiba terdengar suara yang sama. Suaranya terdengar tepat di belakangku. Entah mengapa suaranya terdengar menyeramkan dan menakutkan. Dan rasanya udara semakin dingin dan sesak.
Saat Mia melihat ke belakang—sumber suara—dia melihat seorang lelaki yang duduk dengan santai di atas tempat tidur. Kakinya menyilang dan salah satu sudut bibirnya terangkat terlihat di wajahnya yang cukup tampan. Namun, ada hal yang lebih mengejutkan lagi darinya, sayap. Ya, dia memiliki sayap yang berwarna hitam.
“Apakah dia iblis? Atau apakah dia malaikat maut yang akan menjemputku?” pertanyaan-pertanyaan muncul di benak Mia. Jantungnya berpacu lebih cepat.
“Hei, hei, hei. Aku bukan iblis, malaikat maut, ataupun hantu,” ucapnya dengan nada yang kesal
“Bagaimana dia bisa dia ada di sini? Dan siapa dia? Tidak-tidak, kenapa dia bisa menjawab pertanyaanku? Padahal aku hanya mengatakannya dalam hati saja. Mungkinkah dia ....”
“Ya, aku bisa mendengar pikiranmu.” ia kembali menyeringai saat melihat keterkejutan Mia di wajahya. Senyum dan tatapannya terasa aneh dan menakutkan.
“Siapa kau? Kenapa kau bisa ada di sini? Dan lagi, apa maksud pertanyaanmu yang seolah-olah bisa mengabulkan keinginanku?” Mia bertanya setelah bisa mengendalikan napasnya. Dan menanyainya dengan pertanyaan yang beruntun. Tentu saja karena dia penasaran siapakah sosok di depannya ini.
Sampai sekarang Mia tak bisa mengalihkan pandangannya dari sayap yng hitam milik lelaki itu.
“Pertama, aku tak bisa memberitahumu siapa aku. Kedua, aku juga tak tahu kenapa aku bisa ada di sini. Dan yang ketiga, benar, aku bisa mengabulkan keinginanmu.” ia berbicara dengan tenang, tapi tetap terasa menakutkan.
“Kau bisa mengabulkannya?” ucap Mia menatapnya tak percaya.
“Ya, tentu saja. Itu bukan hal yang sulit dilakukan.”
“Kalau begitu, ubah aku menjadi burung, sekarang. Burung yang cantik,” ucap Mia menantang.
Lelaki itu hanya tersenyum mendengar permintaan Mia.
“Baiklah, jika itu yang kau mau. Tapi, harus ada imbalannya, bukan?”
“Imbalan? Kau mau apa dariku?” tanya Mia.
“Aku beritahu aku namamu,” jawabnya.
Apa? Namaku menjadi imbalan untuknya? Padahal dia bisa meminta yang lain untuk menjadi imbalan, kenapa cuma nama?
“Hei, hei. Aku bisa mendengarnya tahu. Tak perlu bertanya hanya dalam hati.”
“Baiklah, cuma nama, kan? Mahira, itu namaku,”
“Kalau begitu, bersiaplah," ujarnya “Kau akan menjadi burung sekarang,” lanjutnya.
Setelah mengatakan itu, ia menjentikkan kedua jarinya.
Takkk!!
Tak lama asap mulai menutupi tubuh Mia. Cukup lama sampai akhirnya asap itu mulai berangsur memghilang. Dan menyisakan pakaian yang dipakai Mia barusan tergeletak di lantai. Tak lama, seekor burung kelur dari tumpukan pakaian tersebut. Bulunya berwarna biru dan matanya yang hitam, menunjukkan bahwa itu adalah Mia.
“Gila! Aku benar-benar menjadi burung! Bagaimana bisa kau benar-benar membuatku menjadi burung?” teriak Mia histeris—masih tak bisa mepercayai apa yang baru saja terjadi padanya. Mia hanya bisa berkata dalam hatinya. Dan untungnya, lelaki di depannya ini bisa mendengarnya.
“Haha, reaksimu lucu sekali,” bukannya menjawab pertanyaan Mia, ia malah tertawa.
Mia yang dalam wujud burung tertegun melihat lelaki itu tertawa. Aura menakutkannya sudah berangsur menghilang.
“Aku ingin tahu siapa namamu,” ucap Mia. Sepertinya ia lupa bahwa lelaki itu tidak akan menjawab pertanyaan tentang dirinya.
“Kau bisa memanggilku Lifan,” jawabnya berhenti tertawa. Dan ternyata di luar dugaan ia memberikan nama panggilannya.
“Kau tak akan bersenang-senang dengan wujud barumu?”
“Tentu saja aku akan!” jawab Mia “ Tapi, aku harus melakukan apa dulu, ya?” lanjutnya dengan suara yang pelan. Tapi pasti akan terdengar oleh lelaki di depannya ini, kan?
“Kau bisa mulai dengan terbang ke luar, kan?” benar saja. Lelaki itu mendengarnya dan memberi ide yang tampaknya diterima oleh Mia.
“Benar juga. Kalau begitu aku akan mencoba terbang.” setelah itu, Mia mencoba mengepakkan kedua sayapnya. Dan tubuhnya mulai terangkat, dia terbang! Dia berhasil terbang!
“Woww! Aku benar-benar terbang! Lifan, aku terbang!” seru Mia histeris. Ia masih tak percaya ini terjadi padanya. Sementara Lifan hanya kembali tertawa melihat Mia yang menurutnya lucu itu.
“Baiklah, karena aku sudah bisa terbang, aku akan keluar.”
“Ya, tentu saja. Tapi ingatlah, waktumu hanya sehari,” ucap Lifan mengingatkan “Bersenang-senanglah, dan hati-hati,” lanjutnya dengan senyuman hang hangat. Kali ini sudah tak terasa menakutkan lagi.
Mendengar ucapan Lifan, Mia pun akhirnya keluar kamar dan terbang.
Mia mengepakkan sayapnya dan terbang dengan bebas. Mia melihat ke bawah. Dari atas, terlihat segalanya dengan jelas bagaimana para manusia di bawah sana.
“Kasihan sekali mereka tak merasakan terbang secara langsung,” ucap Mia menatap para manusia itu dengan iba.
Mia memang pernah merasakan terbang. Tapi itu hanya di dalam pesawat. Ini pertama kalinya dia merasakan terbang secara langsung. Rasa senang dan bahagia memenuhi hatinya.
“Aah, jadi begini rasanya terbang, aku senang sekali.”
Mia terus terbang. Tujuannya adalah hutan yang ada di depan sana. Ia ingin merasakan terbang bersama burung yang lainnya. Karena pasti di hutan sana, akan ada banyak burung.
Dan benar saja, dia bertemu banyak sekali jenis burung di tengah hutan. Ia mengepakkan sayapnya bersama dan terbang bersama mereka. Sore ini langitnya sangat cantik. Gumamnya.
Mia beristirahat di salah satu dahan pohon. Pohon-pohon di sekitarnya sangatlah tinggi. Ia menatap burung-burung lain yang sedang terbang.
“Aah hari ini aku senang sekali. Terima kasih telah memeberikanku kesempatan untuk merasakannya, Lifan,” ucap Mia berterima kasih. Sakung senangnya tadi, ia lupan untuk berterima kashi pada Lifan. Dan ia akan mengatakannya langsung padanya nanti setelah dia pulang. Itu rencananya.
“Hari ini, aku mau puas-puas terbang dulu.”
Baru saja Mia mengatakan itu, terdengar suara tembakan dari sisi hutan. Dan burung-burung beterbangan dari arah suara. Tak lama, suara tembakan semakin terdengar keras. Karena takut, Mia pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.
Saat Mia sudah di atas, ia penasaran dan melihat ke bawah. Terlihat seseorang yang berpakaian serba hitam dan wajahnya yang tertutup. Orang itu membawa senapan di tangannya.
“Sial! Kenapa bisa ada pemburu burung segala, sih!? Dan lagi, kalian melakukannya dengan cara yang ilegal, kan?”
Mia mengepakkan sayapnya dengan cepat, mencoba untuk kabur. Tapi sayangnya, pemburu itu sudah menarik pelatuk senapan yang dipegangnya.
Doorr!!
“Siaal!!”
Pelurunya mengenai sayap kanan Mia. Yang membuat sayapnya terluka dan hilang keseimbangan hingga akhirnya terjatuh. Sebelum terjatuh, ia sempat menabrak dahan pohon yang sepertinya membuatnya terluka yang membuatnya kehilangan kesadaran saat terjatuh.
“Apakah aku akan mati di sini?” tanya Mia saat sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya.
***
Di sebuah kamar, seorang perempuan sedang tidur dengan lelapnya.
“Aaa!!”
Perempuan itu terbangun dari tidurnya. Sepertinya habis mimpi buruk. Perempuan itu adalah Mia, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Napasnya masih tersengal-sengal.
“Apa ini? Jadi aku yang menjadi burung dan ditangkap oleh pemburu itu hnyalah mimpi?” gumamnya sambil bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk.
Setelah cukup lama duduk, dia pun akhirnya memutuskan untuk pergi mandi saja. Saat ia berjalan menuju kamar mandi, ia melihat bayangannya di cermin. Tidak,lebih tepatnya melihat kalung yang berada di lehernya.
“Tunggu! Kalung ini ....”
Mia mencoba mengingat, sejak kapan ia memimiliki kalung yang sekarang menggantung di lehernya. Cukup lama ia berfikir, akhirnya ia mengingatnya. Ia pernah melihat kalung ini di mimpinya.
Jadi, setelah Mia yang dalam wujud burung terjatuh, lelaki yang bernama Lifan ini membawanya kembali ke kamar Mia. Lifan mengembalikan tubuh Mia ke bentuk semula. Lengkap dengan pakaiannya yang dipakai oleh Mia sebelumnya. Dengan hati-hati, Lifan mengobati luka di tubuh Mia.
“Maafkan aku, Mia ...” ucap Lifan dengan lirih sambil mengobati Mia. Meski ia tahu itu bukanlah kesalahan dirinya, ia tetap meminta maaf dan meski ia tahu bahwa Mia tak mendengarnya.
Setelah selesai mengobati luka Mia dengan kekuatannya yang entah dari mana itu, Lifan pun mengalungkan sebuah kalung yang di tengahnya ada semacam berlian berwarna biru di leher Mia yang sedang tertidur. Setelah itu, Lifan pun pergi dan menghilang entah ke mana.
Hanya itu mimpi yang diingat oleh Mia. Tapi setelah melihat kalung itu menggantung di lehernya, sekarang ia ragu bahwa itu semua hanyalah mimpi.
“Apakah itu hanyalah mimpi? Tapi jika mimpi, mengapa kalung yang seharusnya tidak ada di dunia nyata malah ada di sini? Atau ini juga hanyalah mimpi?” Mia semakin bingung dibuatnya.
Mia terus melihat pantulannya di cermin. Hingga ia mendengar suara yang tak asing.
“Apa kau menyukai hadiah kalungnya, Mahira?” ya, suara itu adalah suara Lifan yang dikenalnya.
Mia mencari sosok Lifan dari arah terdengarnya suara. Namun ia tak melihat apa-apa.
“Apakah aku masih bermimpi?”
Jika itu semua hanyalah mimpi, mengapa terasa begiu nyata? Dan kenapa kalung ini bisa ada di sini? Tapi jika itu nyata sekali pun, itu terlalu sulit untuk dipercayai. Ya, manusia yang menjadi burung, itu sangat tidak masuk akal kan? Dan lagi, sosok Lifan yang memiliki sayap, itu sangat sangat tidak masuk akall!!
Mia mengacak-acak rambutnya frustrasi.
“Aaaa tidak tahu, tidak tahu!!”
Mia memasuki kamar mandi.