Praang... terdengar suara benda terjatuh kelantai dengan keras.
"Ya ampun Adel...kamu itu ya...",teriak ibu dengan geram menghampiri Adel kecil yang berusia 8 tahun.Adel pun ketakutan dan menangis gemetar ketika ibunya mendekat.Ia barusan tak sengaja menjatuhkan piring-piring yang baru ia cuci kelantai,karena tangannya sedikit licin dan mengakibatkan piring-piring yang akan ia tata dirak pecah semua.
"Sini!!Cepat!!",bentak ibu saat sampai dekat pecahan piring yang bercecer dan Adel pun mendekat.
"Ahhh...ibu,sakit...hiks hiks...",tangis Adel kesakitan karena rambutnya dijambak ibunya dengan kuat.
"Kamu itu anak nggak tau diri...,jadi anak bukannya bantu orang tua,malah nyusahin aja...",kata ibu dengan keras didepan wajah Adel lalu menghempaskan rambut Adel yang ia jambak tadi,Adel pun jatuh tersungkur kelantai sedangkan ibunya berlalu pergi.
Adel pun menangis tersedu-sedu, kepalanya pusing dan cenat cenut karena jambakan ibunya tadi.
"Nenek...Adel kangen...pengen ikut nenek",tangis Adel pecah mengingat mendiang nenek yang begitu menyayanginya sudah tiada.
"Kata nenek,Adel nggak boleh nangis...Adel kuat..pasti kuat",Adel menyemangati dirinya sendiri sembari menghapus air matanya dan berlalu mengambil engkrak dan sapu untuk membersihkan pecahan beling dari piring-piring yang pecah tadi.
Memang itu karena kecerobohannya,tapi apakah ibunya tidak bisa memperlakukannya dengan cara yang lebih halus bukan dengan kasar seperti tadi.Adel pun menangis terisak lagi dalam diam mengingat selama ini ayah dan ibunya tidak menyayanginya.
Sepuluh tahun pun berlalu,kini Adel menjadi anak cantik dan ceria tapi dalam diam,menutupi semua kesedihan yang ia rasakan.Bertahun-tahun itu juga ayah dan ibunya juga memperlakukannya dengan kasar.Terkadang tak segan-segan ayahnya mencambuknya dengan ikat pinggang yang ia gunakan bekerja,apabila Adel tidak membuatkan sarapan lebih pagi sebelum ayah ibunya bangun dan bekerja.
Memang malang sekali hidup Adel sewaktu kecil sampai sekarang,disaat teman-teman seusianya bermain-main gembira,ia malah melakukan semua pekerjaan rumah yang biasa dilakukan orang tua.Kata orang tuanya,agar ia menjadi anak yang mandiri dan penurut.
Satu yang ia syukuri,orang tuanya masih mau membiayai sekolahnya sampai saat ini, walaupun terkadang biaya iuran ia cari sendiri dengan berjualan koran dijalanan.Itupun tanpa sepengetahuan orangtuanya,ia pun juga sering menjadi juara kelas dan mendapatkan hadiah,tak jarang ia mendapatkan penghargaan berupa piagam dan piala sewaktu ia mengikuti lomba yang dia ikuti.
Ia berharap orang tuanya akan bangga,namun harapannya sirna tatkala ia memperlihatkan piala yang didapatnya pada ayahnya,ayahnya langsung membantingnya kelantai dan rusak.Bahkan ayahnya berkata kalau tugas Adel hanya sekolah biar cepat lulus lalu kerja ngumpulin uang yang banyak untuk ayah dan ibunya,bukan malah mengikuti lomba yang menurut ayahnya tidak penting itu,ibu pun membenarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
Ayah dan ibu Adel hanya sibuk mencari uang dan uang tanpa memikirkan kebahagiaan anaknya.Adel berdoa semoga suatu saat kedua orang tuanya akan menyayanginya,seperti teman-teman Adel yang begitu disayangi oleh kedua orang tuanya.
Tapi kapan...?Adel menunggu saat itu, terkadang Adel lelah,ingin menyerah dan ingin menyusul neneknya saja.Akan tatapi satu pesan neneknya sebelum meninggal
"Sekeras apapun kau diperlakukan,
Sedalam apapun kau disakiti,
Jangan pernah menyerah dan ambruk,
Bangkitlah,Allah bersamamu...
Suatu saat takdir Allah
akan indah pada waktunya".
Adel terus menunggu saat itu,hingga suatu ketika kenyataan pahit harus ia terima....
🌿
🌿
🌿
🌿
👈Apakah itu...?yuk baca cerpen author...dan jangan lupa mampir dikarya author yang lain ya🤗
Thank you...❤️salam author...