Sampai saat ini. Kekejaman di dunia ini tetap berlangsung. Baik mereka yg memiliki kedudukan atau mereka yg tidak memiliki kedudukan seperti aku. Memangnya apa yg mereka pikirkan? Dunia ini milik nenek moyang mereka? Aku bosan hidup di era saat ini. Jauh berbeda dengan era kolonial yg selalu aku baca di buku.
Setiap harinya aku selalu membaca buku tentang sejarah dunia. Menurutku sejarah mengajarkan manusia apa arti kehidupan saat ini. Tapi yg malah di lakukan manusia, mereka bertindak secara individu tanpa memikirkan orang lain.
Aku tidak peduli, selama mereka tidak mengusik ketenangan ku di dunia ini. Menjadi gadis kutu buku berkacamata tidaklah bodoh. Aku tidak berotak kosong.
Setiap pulang sekolah aku selalu melewati gang sempit, tempat orang-orang miskin bernaung di bawah atap apartemen yg menjepit diantara mereka, tanah menjadi alas sebagai tempat tidurnya.
Pikirku, Orang-orang seperti mereka tidak akan berbuat kekejaman mengingat kondisi mereka yg berada di bawah batas mampu untuk hidup. Ternyata aku salah, nyatanya mereka membunuh yg lebih lemah dari dirinya sendiri.
Menakutkan, dunia memang kejam.
Itu adalah caraku menilai tempat tinggal ku di sekitar, jika harus memberitahu lebih lanjut aku tidak akan tahan.
Pagi ini dingin sekali, musim dingin telah tiba, sebentar lagi salju akan turun di tempat ini. Musim dingin di tahun pertama ku di bangku kelas 11 sudah tiba.
Bisa dibilang, karena aku adalah gadis kutu buku, aku memiliki sedikit teman, setiap masuk ke dalam kelas, rasanya seperti di perhatikan, tak lepas dari itu, sudah tentu aku selalu mendengar suara bisikan tentangku.
Bahkan mereka sampai menyebarkan rumor buruk tentang ku. Untuk apa semua itu? Aku hanya ingin belajar. Aku tidak mengerti mengapa mereka membenci ku.
Aku duduk di bangku ku, menopang wajahku dengan satu tangan dengan tangan satunya memegang buku yg sudah ku baca belasan kali.
Meskipun hanya diam, tetapi mereka tetap menganggap ku seperti hama yang menyebar melalui udara. Dipikirnya bisikan jahat itu tak terdengar oleh telingaku. Atau mereka memang sengaja agar aku mendengarnya? Terserah, asal mereka tidak mengusik ku. Aku tidak menganggap nya serius.
“Oi!” Membantingkan tangan nya ke meja ku.
Apa ini? Jadi mereka sudah berani mengganggu kehidupan ku? Pikirku.
Aku hanya berdehem kecil, sambil melihat nya dari seberang buku yg sedang ku baca.
“Kau sedingin musim dingin, kutu buku.”
Apa apaan gadis aneh ini? Tidak biasanya dia mengajakku berbicara, bahkan tidak pernah. Pikirku.
“Terima kasih” jawabku polos tanpa ekspresi mengira bahwa itu adalah pujian.
“Aku tidak memujimu,”
“Jarang sekali bisa berbaur dengan mu, aku ingin kau membantuku agar bisa lolos di ujian penaikan semester nanti.”
Benar, Orang-orang mencariku hanya untuk mempergunakan aku, apakah dia ini tidak merasa malu? Hanya datang saat butuh.
Aku selalu berpikir seperti itu, dan tidak pernah salah sekali pun.
“jika kau rajin membaca buku maka kau pasti bisa lolos ujian penaikan semester.” Jawabku acuh tak acuh.
“Oh, begitu...Hey memangnya buku apa yg kau baca?” Merampas buku milikku.
Gadis itu membaca buku milikku, caranya mengambil buku bahkan sangat tidak memiliki sopan santun, dan apa apaan wajah itu? Seperti membaca buku horor saja.
“Kau suka buku sejarah?” Tanyanya.
“Ya, sejarah kolonial adalah sejarah yg paling hebat.” Jawabku, sedikit antusias jika membahas soal sejarah akan dunia.
Dia sangat pandai membangkitkan antusiasku, kurasa dia sedang memancing ku. Pikirku saat menatap dirinya membaca buku itu.
“Sejujurnya mengapa kau sangat diam? Kau bahkan tidak memiliki teman, padahal kita sudah sekelas bersama 1 tahun 6 bulan, lho.”
“Oh, soal itu, aku hanya tidak suka keramaian apalagi terlibat dalam hidup orang lain.”
Dengan kata lain ‘Menjijikkan’
“Oh...seperti istilah jaman sekarang, kau introvert.” Ujar gadis itu.
“Ya, intinya...sepulang nanti aku akan belajar dengan giat, sama seperti yang kau katakan untuk bisa lolos di semester penaikan, iya kan? Sheno”
“Bye bye”
‘Sejujurnya baru kali ini seseorang memanggil namaku, meskipun aku tidak suka itu karena namaku aneh tapi...rasanya seperti, mungkin senang? Aku bahkan tidak tahu siapa nama gadis itu, besok aku akan menanyakan namanya.’
Hari berikutnya...
Seperti dugaan ku, salju hari ini turun sangat banyak daripada hari kemarin, bisa di sebut badai salju kecil di daerah barat.
Kalau Cuma badai seperti ini, tidak akan menghentikan niatku untuk menuntut ilmu, terlebih lagi hampir semalaman aku memikirkan gadis sekelas ku itu.
Aku harap cepat sampai, berjalan di atas tumpukan salju sambil mengenakan pakaian besar di musim dingin memperlambat jalan ku untuk sampai ke sekolah.
Akhirnya, itu dia, gerbangnya sudah terlihat, sepertinya aku sedikit telat. Paling tidak, guru sudah mengajar selama 10 menit.
Saat aku membuka pintu kelasku, benar saja, aku di jadikan pusat perhatian oleh siswa siswa yang lain, padahal guru di depan kelas sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
Itu kejadian 30 menit yang lalu, duduk di kursi sambil menopang wajah dengan tangan adalah hal yang paling nyaman untuk terlihat seperti orang yang tidak peduli, apalagi duduk di kursi yang bersampingan dengan jendela sungguh menyenangkan, aku bisa melihat pemandangan di jendela tingkat dua gedung.
Tapi...mengapa aku merasa seperti sedang menunggu seseorang? Apakah aku sedang menunggu atau hanya firasat ku saja? Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini.
Berkisar 5 menit kemudian, siswa laki-laki teman kelasku yang ku tak tahu siapa namanya, berlari tertatih-tatih masuk ke dalam kelas
“Nei kecelakaan! Dia di tabrak saat akan berangkat ke sekolah!” Teriaknya.
Aku jelas jelas tidak tahu siapa itu Nei, namanya aneh sama seperti namaku, tapi dia teman kelasku, jelas jelas dia orang yg penting, banyak orang yang mulai keluar dari kelas, sebagian menangis pecah di bangkunya.
Setelah tersadar...Jangan jangan! Dia...
Aku tidak punya waktu untuk berpikir, aku harus bergegas menuju lokasi.
Aku berlari sekuat tenaga dilautan salju yang menghambat pergerakan, tak butuh waktu lama untuk sampai disana, rasanya, dingin dan keringat bercampur menjadi satu, napasku juga menjadi berat.
Napasku seolah-olah terhenti saat melihat kejadian mengenaskan yang ada di depan mataku, sekiranya orang-orang yg datang lebih dulu sudah mengurus ini, nyatanya mereka hanya bisa memandangi sambil menangis.
Nei...ternyata namanya Nei...Apakah dia sudah belajar malam tadi, tapi tetap saja dia tak bisa ikut semester.
Darahnya muncrat di atas salju putih, dia di tabrak truk pembawa hewan ternak, di kabarkan si pengemudi meninggal setelah insiden menabrak anak SMA.
“Sudah seminggu, sekolah di liburkan di musim dingin karena kematian Nei, semester pun di tunda.”
“Belakangan ini aku suka bicara sendiri saat tidak ada orang lain, ya setidaknya saat ini aku berada di kamar.”
Tok tok tok...
“Masuk.”
Orang yang mengetok pintu kamar ku adalah ibuku sendiri, satu satunya orang yg pernah melihat ku bersikap aneh di setiap sikap dinginku.
“Sheno, bisakah kau membelikan ibu telur di supermarket?” Ucapnya.
“Ma, sekarang sudah larut malam, mustahil supermarket nya masih buka.” Jawabku, berusaha agar tidak terdengar dingin.
“Setelah itu ibu akan menceritakan tentang masa kolonial saat ibu masih muda.” Jawab ibu, seringai berseri-seri nampak jelas di wajahnya.
Mana bisa aku menolak, jika sudah membahas tentang masa kolonial aku sangat senang, apalagi kalau ibu yang menceritakan nya.
Dengan gerakan sigap aku mengambil jaket tebal ku, dan berangkat menuju supermarket, jaraknya lumayan jauh, karena aku tinggal di pedesaan, tapi aku suka itu, di lingkungan ku tidak berisik.
BROAAAKK!!!!
Ah, sialan...apakah benar ini terjadi...
“YA AMPUN, AKU TIDAK SENGAJA MENABRAK SEORANG GADIS!”
“APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?!”
Shh...berisik...aku ingin tidur...bilang pada mama supermarket nya tutup...aku tidak ingin di marahi lagi.
Sheno, gadis yang menjadi pemeran utama di hidupnya meninggal di tabrak mobil pengangkut hewan ternak 2 tahun yang lalu, kejadiannya sama seperti Nei teman sekelasnya, Nei adalah orang asing yang pertama kali menganggap Sheno di dalam kelas itu.
Bukan hanya semester yang sudah berlalu, tetapi pelulusan juga sudah berakhir 1 tahun yang lalu.
Di kabarkan ibu Sheno meninggal gantung diri karena di tinggal oleh anak semata wayang nya semenjak suaminya meninggal 7 tahun yang lalu.
The end...