Dulu aku punya seorang teman laki-laki atau bisa dibilang sahabat karena saking dekatnya aku dengan dia.
Kami bermain bersama selalu bersama walaupun dia jarang keluar rumah kami selalu bermain.
Aku selalu mengingat setiap momen bersamanya dia sangatlah baik Dia selalu berbagi bersamaku.
Dia berasal dari keluarga yang baik-baik keluarganya kaya tapi dia nggak pernah sombong.
Aku bahkan sedikit malu sekarang karena dia lebih berlimu agama sedangkan aku tidak terlalu.
Tapi dia masih mau menerima aku.
Awal-awal aku pikir dia sahabatku namun seiring berjalannya waktu aku menyadari ada perasaan lain di hatiku.
Namun kami putus kontak karena pandemi covid 19 keluarganya yang sangat memperhatikan kesehatan melihatku seringkali bersin-bersin ya walaupun aku sebenarnya aku tuh mudah bersin.
Keluarganya menyuruhku pulang aku mengerti mereka khawatir karena sedang pandemi jadi aku putus kontak dengannya takut juga aku menularkan virus.
Walaupun aku putus kontak tapi aku selalu memikirkannya aku sendiri bingung kenapa aku selalu memikirkannya hingga saat aku sudah mulai remaja aku mengerti hatiku mencintainya.
Namun aku tidak bisa menggapainya walau bagaimanapun Dia berasal dari keluarga yang kaya sedangkan aku berasal dari keluarga yang menengah ke bawah.
Sehingga aku takut aku tak layak untukmu wajahku juga biasa-biasa saja otaku juga biasa saja atau bahkan bisa bilang bodoh.
Namun hati tak bisa berbohong aku mencintainya aku mencintainya dalam diam.
Setelah pandemi aku ingin sekali bermain dengannya namun aku bingung.
Aku sudah remaja saat itu aku juga takut selera kami sudah berbeda pemikiran kami juga sedikit lebih matang karena sudah remaja.
Aku jadi nggak tahu apa yang harus aku lakukan untuk bermain lagi dengannya dan berbicara ya aku ingin kembali seperti dulu tapi.
Orang aku berubah menjadi introvert aku bahkan tidak pernah keluar rumah atau bisa bilang jarang sih aku keluar rumah pun di suruh mama sajah.
Bahkan dalam pergaulan remaja aku bahkan tidak pernah ikut atau bisa bilang jarang mereka pada nongkrong aku di rumah sehingga aku tidak terlalu bisa bergaul.
Bahkan aku sedikit bingung apa yang mereka bicarakan setiap kali aku mendengar pembicaraan mereka aku ingin sekali berbicara namun aku bingung.
Karena aku yang tidak bisa bersosialisasi lagi aku jadi minder untuk ketemu dengannya.
Namun ada hal aneh padaku aku jadi lebih sensitif kepada laki-laki aku sering kali menjauhi laki-laki aku bahkan membenci laki-laki tapi saat aku mengingat Dia rasanya aku yang selalu bersamanya.
Sebenarnya aku kurang yakin apakah ini perasaan cinta atau apa itu soalnya aku selalu ingin bersamanya menjadi temannya mendampinginya tapi.
Apakah ini benar cinta karena aku sendiri belum tahu apa itu cinta hidupku penuh dengan kekosongan.
Aku mulai menghitung sejak kapan hidupku menjadi kosong dan hampa.
Aku menghitung aku mulai menyadari kemungkinan hidupku mulai terasa hampa saat aku mulai putus kontak dengan dia orangnya aku cintai.
Saat hatiku ingin menyatakan perasaannya tapi otakku berkata lain otakku berkata simpanlah perasaan itu.
Aku tidak layak untuknya dari segi keluarga, otak, wajah ,dan lain-lainnya aku sangatlah kurang bahkan kontrol emosiku yang seringkali meluap.
Makanannya aku sering kamu membayangkan dia bersama wanita lain yang lebih layak sebenarnya itu menyakitkan aku membayangkannya rasanya aku ingin dia menjadi milikku namun aku teringat bahwa cinta tidak memaksa.
Karenanya aku memutuskan walau aku tidak dicintainya aku tidak ingin persahabatan ini putus hanya karena cinta yang tidak terbalas walaupun aku tidak pernah bertemu dengannya sejak pandemi.
Tetap saja persahabatan kami adalah selamanya.
Namun harapanku tetap sama ingin dia menjadi milikku walau dalam mimpi.
Walaupun sakit aku memutuskan bahwa yang terpenting adalah kebahagiaannya siapapun wanita yang membuatnya tersenyum di masa depan maka aku akan menerimanya.