Di tahun 2045, dunia sudah jauh berbeda. Kendaraan melayang di udara, gedung-gedung pencakar langit dipenuhi taman gantung yang bercahaya di malam hari, dan jalanan penuh dengan hologram iklan yang menyapa setiap orang yang lewat. Teknologi telah menjadi nadi kehidupan, membuat segalanya lebih mudah—atau setidaknya, begitulah yang dikatakan semua orang.
Namun, bagi Aksa, dunia ini tak seindah tampaknya. Di balik gemerlap kota tempat ia tinggal, kehidupan remaja biasa seperti dirinya terasa hampa. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah apartemen kecil di lantai 56. Ayahnya? Entah di mana. Yang Aksa tahu, ayahnya pergi saat ia masih kecil, meninggalkan hanya sebuah foto keluarga yang sudah usang.
Setiap pagi, rutinitasnya sama: bangun, sarapan sederhana, dan berangkat ke sekolah menggunakan pod transportasi otomatis. Sekolahnya berada di pusat kota, dikelilingi oleh gedung-gedung pemerintahan dan laboratorium penelitian. Meski teknologi menjadi bagian dari kurikulum, Aksa selalu merasa bahwa dirinya tak benar-benar cocok dengan dunia ini. Ia lebih suka membaca buku-buku lama di perpustakaan sekolah, jauh dari layar holografik yang selalu memaksakan informasi ke depan matanya.
Hari itu tak ada yang berbeda. Atau setidaknya, begitulah yang Aksa pikirkan. Hingga ia membuka lokernya dan menemukan sebuah amplop kuning kusam, terselip di antara buku pelajaran elektroniknya.
Di dunia di mana hampir semua komunikasi dilakukan secara digital, sebuah surat tulisan tangan adalah sesuatu yang aneh. Ia membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya hanya ada secarik kertas dengan satu kalimat:
"Jangan lewatkan pukul 6 sore di taman kota."
Aksa memandangi tulisan itu dengan alis berkerut. Siapa yang mengirim surat ini? Dan mengapa?
---
Aksa menatap surat itu, masih bingung. Ia memegang amplop itu dengan tangan gemetar. Apa ini? Hanya satu kalimat, tapi terasa begitu berat.
“Siapa yang kirim ini?” gumamnya pelan.
Suaranya terdengar aneh di tengah sepi lokernya. Semua temannya sudah pulang, dan hanya suara langkah kaki di lorong yang terdengar samar.
“Ngapain kamu bengong, Aksa?” suara Rara, teman sekelasnya, mengagetkan.
Aksa buru-buru memasukkan surat itu ke dalam tas. “Ah, nggak apa-apa, Rara. Cuma, ada… surat aneh.”
Rara mendekat dan melirik tas Aksa. “Surat aneh? Dari siapa?”
Aksa menggelengkan kepala, masih ragu untuk menunjukkan surat itu. “Entahlah. Cuma ada tulisan ‘Jangan lewatkan pukul 6 sore di taman kota.’”
Rara tertawa kecil. “Maksudnya? Kayak dalam film-film misteri gitu?”
“Entahlah. Itu yang bikin aneh,” jawab Aksa, lalu menoleh ke jam tangannya. “Aku nggak yakin ini cuma kebetulan.”
“Aduh, Aksa! Jangan sok serius, deh. Itu pasti prank dari teman sekelas yang lain.” Rara melambaikan tangannya dan berjalan pergi, tapi Aksa tetap memandangi surat itu dengan perasaan tak nyaman.
Taman kota. Pukul 6 sore. Apa maksudnya?
“Jangan bodoh, Aksa. Ini pasti hanya permainan anak-anak,” katanya pada diri sendiri, berusaha meyakinkan. Namun, perasaan tak menentu terus mengusiknya.
---
Pukul 5 sore, dan Aksa masih belum bisa berhenti memikirkan surat itu. Setiap detik, pikirannya berputar-putar antara rasa penasaran dan ketakutan yang tak terjelaskan.
"Apa yang harus aku lakukan?" Aksa berbicara pada bayangannya di kaca jendela. "Aku pasti kelihatan bodoh kalau pergi ke taman cuma karena sebuah surat."
Namun, meskipun ia berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak pergi, rasa penasaran mengalahkan segala keraguan yang ada.
"Kalau ini cuma prank, aku akan mati-matian ketawa, deh," kata Aksa pada dirinya sendiri dengan setengah hati, mencoba menenangkan diri. "Tapi kalau nggak, aku bakal nyesel seumur hidup."
Aksa mengambil jaket dan bergegas keluar. Langit mulai memudar menjadi jingga, pertanda bahwa malam akan segera datang. Di luar, udara terasa lebih segar dari biasanya. Mobil terbang melintas di atasnya, namun Aksa tak memedulikan mereka. Pikirannya hanya tertuju pada taman kota.
Setibanya di sana, suasana tampak tenang. Pohon-pohon besar berdiri tegak, angin semilir menggerakkan dedaunan, dan hanya ada beberapa orang yang sedang berjalan-jalan. Taman kota itu terlihat begitu biasa, tak ada yang spesial.
"Ini gila," Aksa bergumam pelan. "Aku nggak tahu kenapa aku bisa sebodoh ini."
Dia mulai melangkah lebih jauh ke dalam taman, matanya mencari-cari sesuatu yang aneh, sesuatu yang berbeda. Apa yang harus dia temukan di sini?
Tiba-tiba, sebuah cahaya biru muncul di bawah pohon besar di tengah taman. Aksa mendekat, perasaan gugup mulai merayap di tubuhnya. Di bawah pohon itu, ada sebuah benda yang bersinar lembut. Saat Aksa mendekat, dia melihat bahwa itu adalah sebuah jam saku antik yang terlihat sangat tua, seolah-olah berasal dari abad lalu.
“Jam saku?” gumamnya, membungkuk untuk mengambil benda itu.
Saat dia memegangnya, tiba-tiba sebuah hologram muncul dari dalam jam tersebut, menampilkan sebuah pesan:
"Ikuti ini untuk menyelamatkan mereka."
Aksa terkejut dan mundur beberapa langkah. Hologram itu memudar dengan cepat, meninggalkan Aksa dalam kebingungannya.
"Apaan ini?!" Aksa berteriak hampir tak percaya.
Namun, meskipun rasa takutnya semakin besar, ada perasaan yang aneh mengalir dalam dirinya. Dia merasa seperti ini adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang harus ia selesaikan.
"Hanya ada satu cara untuk tahu," kata Aksa dengan suara serak. "Aku harus ikuti petunjuknya."
Dengan tangan gemetar, dia menaruh jam itu di tas dan berjalan menuju tempat yang ditunjukkan oleh hologram. Setiap langkah terasa berat, namun ia terus maju, tak tahu apa yang akan menunggunya.
---
Langkah Aksa membawanya ke sebuah gudang tua yang berada di ujung taman. Gudang itu tampak ditinggalkan bertahun-tahun, dengan pintu yang hampir runtuh dan kaca-kaca yang pecah.
“Gila… ini sih beneran film horor,” bisik Aksa pada dirinya sendiri. “Apa aku harus masuk?”
Dia menatap pintu yang sedikit terbuka, ragu untuk melangkah lebih jauh. Namun, rasa penasaran yang semakin memuncak mengalahkan ketakutannya.
“Ayo, Aksa. Kalau ini cuma prank, yaudah, nggak usah takut. Tapi kalau nggak, aku nggak bisa nyesel terus.”
Dengan napas berat, Aksa mendorong pintu gudang yang berderit pelan. Begitu masuk, ruangannya gelap dan berdebu, hanya diterangi cahaya rembulan yang menyelinap melalui jendela pecah.
Tiba-tiba, ia mendengar suara berdesir. Aksa menoleh, dan di pojok ruangan, ia melihat sebuah layar hologram yang hidup. Layar itu menampilkan gambar dirinya, tetapi lebih tua, lebih matang.
“Aksa, jika kamu mendengar ini, maka kamu masih punya waktu,” suara dari hologram itu terdengar jelas. “Keluargamu dalam bahaya besar. Aku gagal, tapi kamu harus berhasil.”
Aksa terkejut. Dia maju lebih dekat ke layar. "Apa? Ini… ini aku?"
Hologram itu melanjutkan, “Aku adalah dirimu, Aksa. Aku mengirim pesan-pesan ini untukmu. Aku datang dari masa depan. Dan aku… aku telah mengorbankan segalanya untuk memastikan kamu selamat.”
Aksa mundur, merasa terhimpit oleh kenyataan ini. "Tunggu… apa maksudnya? Kamu… aku? Kamu berasal dari masa depan?"
Hologram itu mengangguk. “Ya. Waktu itu sangat rapuh. Jika kamu tidak mengikuti petunjuk-petunjuk ini, keluargamu akan terjebak dalam kecelakaan yang tidak bisa kita hindari. Aku gagal mengubah masa depan, tapi kamu masih punya kesempatan. Waktu kita terbatas, Aksa. Percayalah, ini adalah satu-satunya cara.”
Aksa terdiam, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja dia terima. Dalam benaknya, kebingungannya berubah menjadi tekad.
"Aku harus berhasil. Aku nggak bisa biarkan semuanya berakhir seperti ini."
---
Pagi berikutnya, Aksa bangun dengan perasaan yang berbeda. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Meskipun dia tidak tahu sepenuhnya bagaimana caranya, dia tahu bahwa dia harus menyelamatkan keluarganya, tak peduli apapun yang harus dia hadapi.
Jam saku yang diberikan oleh dirinya di masa depan masih ada di tasnya, menjadi pengingat dari segala yang sudah terjadi. Dia tahu, hari itu adalah titik balik dalam hidupnya. Masa depan ada di tangannya.
"Aku nggak bisa biarkan dia mengorbankan hidupnya," kata Aksa, melangkah keluar menuju jalan yang belum dia ketahui. "Aku harus selesaikan semuanya."
TAMAT.