Ada seorang anak perempuan bernama Sina, yang selalu duduk di sudut jendela kamar setiap sore, memandang keluar dengan mata kosong. Rumahnya yang dulu penuh canda tawa kini terasa sunyi. Ayah dan ibunya sering bertengkar, dan perlahan, cinta yang dulu mereka miliki kini berubah menjadi sekadar kenangan.
Sina masih ingat saat pertama kali ayahnya pergi. Ia duduk di lantai, memeluk boneka kesayangannya, menunggu ayah kembali, seperti yang selalu diajarkan ibunya. Tapi, ayah tak pernah kembali.
Hari-hari berlalu, dan Sina tumbuh menjadi gadis yang pendiam. Di sekolah, dia sering merasa kesepian, meskipun di sekelilingnya ada teman-teman yang riang. Sina berusaha tersenyum, tapi sering kali ia merasa dunia ini terlalu berat untuk dipikulnya. Teman-temannya tidak tahu betapa sakitnya hatinya, betapa ia ingin ayahnya ada di sana, untuk menghapus air mata yang sering mengalir tanpa suara.
Suatu malam, saat Sina duduk di meja belajarnya, ia menulis di buku hariannya. "Kenapa harus aku yang merasakan ini? Kenapa aku tidak bisa punya keluarga yang lengkap seperti mereka?" katanya dalam hati, menulis kata-kata itu dengan penuh kepedihan. Sina merasa seperti beban, merasa tak ada yang peduli padanya.
Pagi itu, ibunya datang ke kamar, duduk di samping Sina, dan menggenggam tangannya. "Sina, maafkan mama. Mama tahu ini sulit, dan mama sering membuatmu merasa lebih kesepian," katanya dengan suara bergetar. Sina memandang ibunya dengan mata penuh kesedihan. Ia ingin berbicara, tapi kata-kata itu sulit keluar.
"Ayahmu pergi, bukan karena kamu atau mama. Dia memilih jalan yang berbeda, tapi itu bukan salahmu," kata ibunya, mencoba memberikan sedikit penghiburan. Tapi Sina hanya menunduk, perasaan kosong itu kembali datang.
Sina tahu ibunya berusaha keras untuk membuatnya merasa lebih baik, tapi dalam hati Sina tetap merasa hilang. Setiap kali melihat teman-temannya pulang bersama ayah mereka, Sina merasa kesepian yang lebih dalam.
Hari demi hari berlalu, dan meskipun ia sudah semakin besar, luka dalam hatinya tidak pernah benar-benar sembuh. Sina hanya bisa berharap pada sebuah keajaiban—keajaiban yang mungkin suatu hari akan mengembalikan kebahagiaan yang pernah ada di rumahnya. Namun, ia sadar, terkadang keajaiban itu datang dalam bentuk yang berbeda, bentuk yang membuatnya belajar untuk kuat meski dunia terasa hancur.
Cerita ini mengajarkan kita bahwa meski keluarga kita terkadang tidak sempurna, kita bisa belajar untuk bertahan, meskipun rasa sakit itu akan selalu ada. Sina mungkin tidak akan pernah merasa utuh lagi, tapi dia akan selalu menemukan cara untuk terus berjalan