Di tengah hutan yang lebat dan sunyi, di sebuah kabin kecil yang terbuat dari kayu tua, aku, Violette, menghabiskan hari-hariku. Kabin ini jauh dari keramaian kota, dikelilingi oleh pepohonan tinggi yang menjulang, dan suara alam menjadi teman sejatiku. Hari itu, seperti biasanya, aku duduk di beranda sambil menikmati secangkir teh herbal. Suara burung berkicau dan angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin syahdu.
Tibatiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. "Helo! Ada orang di sini?" Suara itu dalam dan menawan. Aku menoleh, terkejut melihat pria tampan dengan rambut cokelat gelap dan mata biru yang cerah.
"Eh, siapa kamu?" tanyaku, sedikit ketakutan tapi juga penasaran.
"Aku James. Aku sedang hiking dan tersesat. Kabin ini terlihat cukup nyaman, jadi aku pikir aku bisa minta bantuan," ujarnya sambil tersenyum.
"Baiklah, James. Masuklah," kataku sambil membuka pintu kabin. "Tapi aku tidak bisa menjamin kamu akan menemukan jalan pulang."
James tertawa, "Setidaknya aku bisa menikmati secangkir teh sebelum melanjutkan petualangan."
Kami duduk di meja kecil yang terbuat dari kayu. Aku menuangkan teh ke dalam cangkirnya. "Jadi, apa yang membawamu ke hutan ini?"
"Aku suka menjelajah. Rasanya bebas, jauh dari kehidupan sehari-hari yang membosankan. Bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan di sini sendirian?"
"Ini adalah tempat pelarianku. Aku merasa tenang di sini. Dan, bisa dibilang, aku tidak terlalu suka keramaian," jawabku sambil menatap keluar jendela.
James mengangguk. "Aku mengerti. Kadang-kadang, kita butuh waktu untuk diri sendiri. Tapi, kamu sepertinya sangat kuat bisa tinggal di sini sendirian."
"Terima kasih. Mungkin aku juga sedikit gila," kataku sambil tertawa. "Kau tahu, ini bukan tempat yang biasa untuk bersosialisasi."
Dia tersenyum lebar. "Kau tidak gila. Hanya berani. Lagipula, aku rasa kita semua butuh tempat untuk melarikan diri."
Kami mengobrol tentang banyak hal. Setiap cerita yang dia ceritakan membuatku merasa semakin tertarik. Ketika malam tiba, dia menawarkan untuk membantu menyalakan api di perapian. Suara kayu yang terbakar "Kras! Kras!" membuat suasana semakin hangat.
"Ini luar biasa," katanya sambil memandang api yang berkobar. "Aku suka suasana ini."
"Ya, aku juga. Hutan ini memiliki keajaibannya sendiri," balasku. "Kadang aku merasa seperti berada di dunia lain."
James menatapku, "Mungkin kita bisa menjelajahi dunia itu bersama-sama."
Hatiku berdegup kencang. "Apa maksudmu?"
"Sepertinya kita memiliki banyak kesamaan. Mungkin kita bisa menjadi teman baik, atau lebih dari itu," jawabnya dengan nada serius.
Aku terdiam sejenak, merenungkan kata-katanya. "Aku tidak tahu. Aku biasanya tidak dekat dengan orang lain."
Dia mengulurkan tangan, "Cobalah, Violette. Hidup ini terlalu singkat untuk ditakuti."
"Baiklah, James. Mari kita lihat ke mana semua ini membawa kita," ujarku dengan hati yang berdebar.
Harihari berlalu, dan setiap hari aku terbangun dengan harapan melihat James. Kami menjelajahi hutan, berbagi cerita, dan tertawa. Suatu sore, saat kami duduk di tepi danau, dia bertanya, "Violette, apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidup ini?"
"Aku hanya ingin merasa hidup. Seperti saat ini, di sini, bersamamu," jawabku sambil menatap matanya dalam-dalam.
Dia mendekat. "Kau tahu, aku merasa terhubung denganmu. Seperti kita ditakdirkan untuk bertemu."
"Apakah itu mungkin?" tanyaku, merasa berani.
"Kenapa tidak? Dunia ini penuh dengan keajaiban. Kita hanya perlu mencarinya," katanya sambil tersenyum lembut.
Aku tak bisa menahan senyumku. "Kau benar. Dan aku ingin menjelajahi setiap keajaiban itu bersamamu."
Malam itu, saat kami duduk di bawah bintang-bintang, James menggenggam tanganku. "Violette, aku… aku merasa ada sesuatu yang lebih dari sekedar persahabatan antara kita."
Nafasku tercekat. "Apa maksudmu?"
"Aku menyukaimu. Lebih dari sekadar teman," ungkapnya. "Aku tidak ingin kehilangan momen ini."
Hatiku bergetar. "Aku juga. Aku juga merasakannya."
Dia tersenyum, dan saat itu, kami berdua saling mendekat. Bibir kami bertemu dalam sebuah ciuman lembut yang penuh rasa. Suara malam yang tenang menjadi saksi atas perasaan yang selama ini kami simpan.
Namun, keindahan itu tak berlangsung lama. Suatu malam, saat kami berencana untuk melakukan perjalanan lebih jauh ke hutan, badai tiba-tiba datang. Angin berhembus kencang, dan hujan turun dengan derasnya.
"Violette! Kita harus pergi sekarang!" teriak James di atas suara guntur yang menggelegar.
"Aku tidak bisa! Kabin ini mungkin bisa melindungi kita!" jawabku, berusaha tenang.
"Jika kita tetap di sini, kita bisa terjebak! Ayo!" Dia menarik tanganku dan kami berlari menuju tempat yang lebih aman.
Angin "Wuuussshh!" berhembus kencang, membuat kami hampir terjatuh. Kami berlari sejauh mungkin, sampai akhirnya menemukan gua kecil di tepi bukit.
Dalam gua itu, kami terpantul oleh cahaya petir yang menyilaukan. "Kita aman di sini, setidaknya untuk sementara," katanya, napasnya terengah-engah.
Aku mengangguk, berusaha menenangkan diriku. "Tapi, bagaimana kita bisa keluar dari sini setelah badai reda?"
"Aku akan menemukan jalan. Kita hanya perlu bertahan," jawabnya, terlihat penuh harapan.
Sambil menunggu badai mereda, kami duduk bersebelahan. Suara hujan yang "Drep! Drep!" di luar menciptakan suasana yang aneh. "Violette, jika kita keluar dari sini, apa yang akan kau lakukan?"
"Saya… saya ingin menjelajahi dunia bersamamu. Mungkin kita bisa pergi ke tempat-tempat yang jauh," kataku, terinspirasi oleh kata-katanya.
James tersenyum, "Aku ingin itu juga. Tapi aku juga ingin memastikan kita tidak kehilangan satu sama lain."
Suara guntur menggelegar di atas, dan aku merasakan ketegangan meningkat. "Kau tidak akan pergi, kan?" tanyaku, khawatir.
"Ke mana aku bisa pergi tanpa kamu?" jawabnya, menatapku dengan penuh keyakinan. "Kita adalah satu tim."
Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya badai mulai mereda. "Kita harus pergi sekarang," katanya, berdiri dan menyiapkan diri.
Kami keluar dari gua, dan melihat langit yang mulai cerah. "Lihat! Pelangi!" teriak James, menunjuk ke langit.
Aku tersenyum lebar. "Ini adalah tanda bahwa segalanya akan baik-baik saja."
Namun, saat kami melanjutkan perjalanan kembali, kami mendengar suara aneh dari balik pohon. "Apa itu?" tanyaku, merasa cemas.
James mengerutkan dahi. "Aku tidak tahu. Tapi kita harus berhati-hati."
Tibatiba, makhluk besar dengan bulu hitam muncul dari semak-semak. "Grrrr!" Suara menggeramnya membuat jantungku berdegup kencang.
"Violette, lari!" teriak James, menarik tanganku.
Kami berlari secepat mungkin, tetapi makhluk itu mengejar kami. "Ayo, cepat!" James mendorongku untuk berlari lebih cepat.
Kaki kami berlari "Dap! Dap!" di tanah basah. Aku merasa terengah-engah, tetapi semangatku tidak pudar.
Akhirnya, kami menemukan jalan setapak yang familiar. "Ke arah kabin! Kita bisa berlindung di sana!" seru James.
Saat kami mendekati kabin, aku merasa sedikit lega. "Kita hampir sampai!"
Kami berhasil masuk ke dalam kabin dan mengunci pintu. Napas kami terengah-engah, dan aku merasakan adrenalin mengalir dalam diriku. "Kita selamat!" kataku sambil tertawa.
James tersenyum, "Ya, selamat. Tapi kita harus lebih berhati-hati ke depannya."
"Setuju. Tapi, terima kasih telah bersamaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi tanpa kamu," ujarku dengan tulus.
Dia mendekat dan memelukku. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Violette. Kita akan menghadapi semuanya bersama."
Malam itu, setelah semua kejadian, kami duduk berdampingan di perapian. Suara api "Kras! Kras!" menghangatkan suasana. "Violette, aku ingin kita menjelajahi lebih banyak keajaiban bersama. Apa kau mau?"
"Ya, aku mau. Aku ingin menjelajahi dunia bersamamu, James," jawabku, merasa bahagia.
Dan dengan itu, kami berdua berjanji untuk menghadapi segala tantangan, menjelajahi keindahan dunia, dan saling mendukung satu sama lain. Mungkin, di tengah hutan ini, kami menemukan cinta yang tak terduga.