Langit sore itu terlihat kelabu, seolah ikut menangis bersama hatiku yang hancur. Aku masih ingat betul bagaimana suara ibu pecah saat memberi kabar itu. "Ayahmu sudah pergi, Nak," katanya lirih, sambil memelukku erat. Waktu itu, aku baru kelas 2 SD, belum sepenuhnya paham apa arti "pergi" yang dimaksud ibu.
Hari itu adalah tanggal 10 Juni 2017, tanggal yang tak akan pernah kulupakan. Ayah, sosok yang selalu kupandang sebagai pahlawan, harus meninggalkan kami selamanya.
Ayah adalah segalanya bagiku. Dia sosok yang selalu pulang dengan senyuman meski peluhnya mengucur deras setelah bekerja seharian. Dia yang tak pernah lupa membawa permen kecil meskipun kami hidup pas-pasan. Dia juga yang setiap malam menemaniku belajar, mengajari cara menulis namaku dengan sabar.
Namun, beberapa hari sebelum kepergiannya, ada percakapan yang terus terngiang di pikiranku. Saat itu, tubuh ayah sudah mulai lemah. Suaranya kecil, tapi kata-katanya begitu tajam menusuk hatiku.
Ayah: “Nak, ke sini sebentar…”
Aku segera mendekatinya dan duduk di tepi ranjang. Wajah ayah tampak pucat, matanya cekung, tapi ada senyum yang dipaksakan di bibirnya.
Aku: “Ada apa, Yah? Apa ayah butuh sesuatu? Aku ambilkan minum, ya?”
Tanganku hampir terulur untuk mengambil gelas, tapi ayah memegang pergelangan tanganku. Pegangannya begitu lemah, tapi aku bisa merasakan kekuatan cinta yang tersisa di sana.
Ayah: “Tidak, Nak. Duduk saja di sini. Ayah cuma ingin bicara… sebentar…”
Aku terdiam, menatap wajahnya yang dulu begitu kuat.
Aku: “Apa yang mau ayah bicarakan?”
Suara kecilku terdengar gemetar, seakan tahu bahwa percakapan ini akan menjadi sesuatu yang berat.
Ayah: “Maafkan ayah, Nak… Maaf kalau ayah belum bisa memberi kalian hidup yang lebih baik.”
Tiba-tiba matanya mulai berkaca-kaca, dan aku tertegun.
Aku: “Yah, kenapa bicara seperti itu? Ayah sudah melakukan segalanya untuk kami. Ayah selalu berusaha, selalu bekerja keras.”
Ayah: “Tapi apa yang ayah beri cukup, Nak? Ibumu masih harus banting tulang. Dan kamu… kamu harus menghadapi banyak hal sendirian. Seharusnya ayah bisa lebih kuat…”
Suaranya pecah, dan air mataku mulai jatuh.
Aku: “Ayah, jangan bilang seperti itu. Aku bangga punya ayah seperti ayah. Kami nggak pernah mengeluh, karena kami tahu ayah sudah melakukan yang terbaik.”
Ayah terdiam, menatapku lama. Tangannya yang gemetar mengusap pipiku.
Ayah: “Nak, janji sama ayah… Kalau suatu saat ayah nggak ada, kamu tetap kuat. Kamu harus jaga ibumu. Jangan pernah menyerah pada hidup.”
Aku: “Yah, jangan bicara seperti itu. Ayah akan sembuh, kan? Kita akan baik-baik saja…”
Aku mencoba tersenyum, meski hatiku terasa berat mendengar kata-kata ayah.
Ayah: “Ayah hanya ingin kamu tahu… Ayah sayang sekali sama kamu. Kamu anak yang hebat, Nak. Ayah yakin kamu akan tumbuh jadi orang yang lebih baik dari ayah.”
Hari itu, aku tak pernah menyangka bahwa percakapan itu adalah yang terakhir. Beberapa hari kemudian, ayah pergi untuk selamanya.
Sejak kepergian ayah, ibu menjadi lebih sering terjaga malam-malam, menangis sendirian di sudut kamar. Aku pernah memergokinya, tapi dia buru-buru menghapus air matanya dan berkata, "Ibu hanya rindu ayahmu, Nak." Walau begitu, keesokan harinya, ibu tetap berangkat bekerja dengan senyum dipaksakan, memastikan aku tetap bisa makan dan sekolah.
Aku tumbuh dengan rasa kehilangan yang terus menghantui. Setiap kali melihat teman-temanku bermain dengan ayah mereka, aku merasa iri. Saat mereka bercerita tentang perjalanan bersama ayah, aku hanya diam, mencoba menahan air mata.
Suatu hari, ketika aku remaja, aku menemukan sebuah kotak kecil di lemari tua. Di dalamnya, ada sebuah surat yang ditulis ayah untukku. Surat itu bertanggal seminggu sebelum kepergiannya. Tulisan tangan ayah tampak sedikit bergetar, mungkin karena tubuhnya yang mulai sakit.
"Untuk anakku yang paling hebat,
Maaf kalau ayah harus pergi lebih cepat. Tapi ingatlah, Nak, ayah selalu bangga padamu. Jadilah anak yang baik untuk ibumu. Ayah mungkin tidak bisa lagi menemanimu tumbuh dewasa, tapi doa ayah akan selalu bersamamu. Jangan pernah menyerah pada hidup, karena kamu adalah kebanggaan kami.
Cinta selalu,
Ayahmu."
Membaca surat itu, air mataku tak terbendung lagi. Aku merasa ayah belum benar-benar pergi. Dia tetap hidup dalam doa dan semangat yang kutanamkan setiap hari.
Tanggal 10 Juni 2017 selalu menjadi pengingat bahwa hidup ini rapuh. Namun, kepergian ayah mengajarkanku untuk lebih kuat, menghargai waktu, dan selalu berusaha membahagiakan ibu, seperti pesan terakhir ayah.