Sedikit cerita yang banyak dialami oleh banyak orang yang beranjak dewasa. Yang dimana pada saat kecil ingin cepat dewasa, tapi pada saat dewasa ingin menjadi anak kecil kembali.
Seorang anak kecil yang dulu di pikirannya hanya ada untuk main-main dengan teman, kini sudah beranjak dewasa.
Kini anak kecil itu telah menghadapi kenyataan dunia yang sebenarnya.
Wahai diri yang kecil itu bagaimana keadaanmu sekarang, apakah kamu sudah menikmati fase kedewasaan ini ?
Fase dewasa yang kau lihat sekarang bagaimana rasanya ? Apakah kau sedang menikmati proses sakitnya kenyataan dunia yang kejam?
Dirimu mengatakan bahwa hidup ini adil, tapi mengapa matamu berkaca-kaca saat melihat jalan hidupmu berbeda dengan teman-teman mu yang lain ?
Wahai diri, kita terombang-ambing dalam dunia yang sebenarnya, mulai dari mencari pekerjaan yang sulit, dan tekanan dari berbagai arah, terutama dari orang tua.
Maka berakhirlah pada diri yang selalu menyalahkan diri sendiri, sempat pula hati bergumam "tidak ada satupun orang yang menginginkan aku hidup di dunia ini, karena aku selalu menyusahkan"
Sejujurnya fase dewasa mulai 20 ke atas kita ditempah habis-habisan oleh kejam nya dunia, omongan orang-orang sekeliling itu pasti sudah menjadi makanan hari-hari.
Kalau ditanya lelah, sudah pasti sangat lelah dan terkadang ada fase terpuruk dimana kita selalu menyalahkan diri sendiri, terkadang ada fase dimana kita tak tau arah untuk pulang.
Memang inilah dunia dewasa sebenarnya, maka ketika terpuruk coba katakan pada dirimu sendiri "kalau bukan aku yang menyayangi diriku sendiri lalu siapa lagi, kalau bukan diriku sendiri yang menyemangati lalu siapa lagi, diriku lah yang paling mengerti diriku sendiri, aku tidak akan mendengar suara-suara dari diluar itu, aku akan menganggap suara mereka hanya kicauan burung saja".
Wahai diri lebih dikuatin lagi ya, karena ini masih babak awal, masih banyak badai yang mungkin belum datang silih berganti.
Lalu ibadahnya lebih dikencangkan lagi ya, dan lebih dekatkan lagi diri pada Allah, karena Allah lebih tau apa yang dialami oleh setiap hamba-Nya. Berdoalah angkat tangan, dan jika ingin menangis maka menangislah, karena hanya Allah lah satu-satunya yang bisa dijadikan tempat untuk mengadu.