Intan paling suka ngeliatin senja. Di teras rumahnya yang mungil, dia sering duduk sambil ngemil teh hangat. Sore itu, dia lagi melamun, nginget-nginget masa kecilnya, waktu keluarganya masih lengkap. Eh, tapi lamunannya langsung buyar pas Ardi dateng, naik motor bututnya yang baru aja dibenerin.
"Udah selesai, Bi?" tanya Intan, sambil senyum tipis.
Ardi ngangguk, terus nepuk pelan kursi di sebelahnya. "Lagi mikirin apa, Tan?"
Intan ngehela napas. "Tentang masa kecil aku. Tentang Bapak yang selalu ngajarin aku pentingnya punya sesuatu yang beda, biar orang inget sama kita."
Ardi mengernyit. "Maksudnya?"
"Kayak waktu aku kecil, Bapak bikin warung di kampung kita itu beda. Warung Bapak terkenal bukan cuma karena jualannya murah, tapi juga karena dia selalu senyum hangat ke pelanggan. Kata Bapak, itu cara bikin orang inget sama kita."
Ardi senyum, terus ngangguk. "Kayak membangun merek, ya? Kayak branding?"
Intan terkekeh. "Kamu jadi paham soal itu sekarang, ya?"
Ardi nggaruk kepalanya yang nggak gatal. "Ya, kan aku belajar dari kamu. Setiap kali kita bikin rencana usaha kecil-kecilan, kamu selalu bilang kalau kita harus punya keunikan. Kaya posisi kita di benak pelanggan harus jelas, gitu?"
Intan ngeliatin Ardi, matanya berbinar-binar. "Iya, semacam itu. Aku cuma pengen kita nggak cuma dikenal karena murah atau karena lokasi kita deket. Aku mau kita dikenal karena kita peduli sama pelanggan. Itu kan inti dari brand positioning."
Ardi senyum tipis, terus ngegenggam tangan Intan. "Tenang aja, Tan. Kita jalan bareng-bareng. Aku yakin usaha kita nanti bakal jadi tempat yang dikenang banyak orang."
Matahari mulai tenggelam, warnanya berubah jadi keemasan. Intan ngeliatin Ardi, yang baginya kayak rumah sekaligus langit yang selalu dia cari. Dalam kesederhanaan hidup mereka, ada cinta yang terus tumbuh, kayak senja yang selalu kembali setiap hari.