Di sebuah kota New York tepatnya di antara padatnya lalulintas, ada seorang gadis bernama Lana yang selalu merasa istimewa setiap kali hujan turun. Bagi Lana, hujan bukanlah gangguan, melainkan teman setia yang datang dengan keajaibanya sendiri. Tidak seperti kebanyakan orang yang lebih memilih berlindung di dalam rumah, lana justru merasa sangat gembira saat mendengar rintik hujan turun.
Hari itu, ketika langit mulai mendung dan awan gelap berkumpul di atas kota, Lana sudah bisa merasakan sesuatu yang menyenangkan di dadanya. Hujan akan segera turun. Dengan langkah ringan, ia keluar dari rumah mengabaikan peringatan ibunya yang sering berkata,"jangan keluar kalau hujan, nanti sakit!."
Lana tidak peduli. Baginya, hujan adalah musik yang paling indah. Ketika tetesan pertama mulai jatuh, Ia menutup matanya sejenak, merasakan dinginnya hembusan angin yang segar. Lalu ia membuka payung kesayangannya dan berjalan menuju taman kota. Setiap langkah yang ia ambil terdengar seperti irama halus yang dimainkan oleh alam. Hujan tidak pernah menjadi halangan, justru memberikan kedamaian yang tidak bisa ditemukan di hari-hari biasa.
Di taman, Lana melihat beberapa orang berlari mencari tempat berteduh. Namun, ia hanya tersenyum dan menikmati perjalananny. Ia berjalan di sepanjang jalan setapak yang dihiasi daun-daun yang basah, menikmati setiap tetesan air hujan yang membasahi sebagian wajahnya. Melompat-lompat melewati genangan, dan berputar-putar dengan ceria.
Tiba-tiba, Lana mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Seorang pemuda yang tampak tidak terbiasa dengan hujan, berlari kecil dibawah payung, matanya melirik kesana kemari mencari tempat berteduh. Ketika ia melihat Lana yang dengan santainya berjalan di tengah hujan ia berhenti dan terheran.
"Kenapa kamu tidak berteduh?
Hujan bisa membuatmu sakit"
kata pemuda itu sambil tersenyum canggung.
Lana menoleh dan tersenyum lembut.
"Aku justru lebih suka hujan dari pada cerah. Hujan memberi pelukan pada dunia yang terlalu bising. Setiap tetesanya seperti cerita yang diceritakan oleh alam."
Pemuda itu terdiam sejenak, memandangi Lana yang yang terus berjalan di bawah hujan. Wajahnya yang cerah meskipun basah kuyup. "Kamu benar, sepertinya aku belum pernah melihat hujan dengan cara seperti itu" katanya dengan pelan tapi cukup terdengar oleh Lana.
Lana menghentikan langkahnya dan menatap pemuda itu. "Cobalah rasakan hujan ini, dan jangan lari darinya."
Pemuda itu menatap payung yang ada di tangannya dan kemudian melepaskannya. Ia memutuskan untuk mengikuti Lana. Mereka berdua berjalan bersama, ditengah rintik hujan yang semakin deras. Lana tertawa bahagia, sementara pemuda itu merasa aneh—tapi juga merasa ada kedamaian yang datang bersama hujan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat mereka melewati jalan setapak yang licin, pemuda itu hampir terjatuh, namun Lana segera menarik lengannya, menolongnya agar tetap berdiri tegak. Mereka berhenti sejenak, bersitatap hampir beberapa menit, manik mata mereka bertemu beberapa saat. Hujan yang turun deras, bersama dengan gemericik air disekitar mereka, membuat dunia seperti serasa milik berdua. Wajah pemuda itu bersemu memerah dan mematung karena canggung, tetapi Lana hanya tersenyum lembut.
"T-terima kasih"kata pemuda itu, masih menahan malu. "Aku hampir saja jatuh."
Lana tertawa, matanya menyipit hingga menampakkan lesung di pipinya,
yang menambah kadar kecantikannya.
"Ahahaha... kau terlihat lucu ketika sedang tersipu."
Pemuda itu menatap Lana dengan dalam, dan untuk pertama kalinya ia merasa tidak ada yang lebih indah dari pada senyuman gadis didepannya. Lalu, tiba-tiba ia merasa jantungnya berdebar cepat. Dia merasa terdorong untuk mengatakan sesuatu yang mendesak di hatinya. "Lana" katanya pelan, "kamu tahu, aku merasa... hujan ini seperti moment yang aku tunggu. Rasanya segala sesuatu menjadi lebih hidup saat aku berada di sini, bersamamu."
Lana terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan kata-kata yang diucapkannya barusan. Namun dalam keheningan yang diisi oleh hujan. Hujan seakan membawa mereka lebih dekat, membuat dunia yang luas ini menjadi begitu kecil dan penuh makna.
Tanpa berkata apa-apa, Lana melangkah lebih dekat,"Aku juga merasa begitu," ujarnya lembut, memandanginya dengan penuh arti.
Kemudian, mereka berdua berjalan lagi tetapi, kali ini lebih dekat, tanpa ada yang perlu diucapkan. Hujan turun dengan deras, tetapi itu tidak menghalangi mereka menikmati momen itu. Menikmati kedekatan yang tumbuh begitu saja ditengah hujan yang mengguyur mereka. Melupakan payung yang mereka buat untuk berteduh, hanya ada langkah kaki yang beriringan.
Hari itu, Lana dan pemuda itu sebut saja Jevan tidak hanya menikmati hujan tetapi, ia jadi bagaimana hujan bisa menjadi sesuatu yang indah. Menurutnya hujan tidak terlalu buruk. Hujan bukan sekedar air yang turun dari langit tapi, tentang momen-momen kecil yang memberi makna lebih dalam hidupnya. Hujan adalah pelukan alam yang menginginkan setiap orang untuk berhenti sejenak, merasakan ketenangan dan menikmati keindahan yang ada di sekitar mereka—dan terkadang, hujan juga membawa kedekatan yang tak terduga, seperti.. Lana dan Jevan.