Pertama kali kami bertemu pada waktu yang salah. Tapi aku bahagia..
Semenjak hari itu, aku merasa hidupku lebih berwarna.
🍁🍁🍁
Namaku Nindi, mempunyai keluarga yang tak utuh. Ayah ibuku bercerai sudah hampir satu tahun lamanya. Sekarang aku mengikuti ayahku, hidup bersamanya dengan seorang ibu tiri yang cantik dan muda.
Aku memilih menjadi anak yang penurut, anak yang mencoba berusaha bisa dilihat oleh ayahku dengan prestasi yang ku peroleh sendiri. Menjadi anak baik dan selalu tersenyum di hadapan ayahku. Berharap aku mendapat kasih sayangnya walaupun hanya sedetik.
Lainnya halnya dengan Rio. Pria yang tak sengaja ku temui di pagar sekolah. Dia memilih menjadi anak pemberontak, karena perceraian ke dua orang tuanya. Dia tidak meminta perhatian seperti diriku, dia sudah cukup mendapatkannya dari keluarga barunya. Dia justru meminta ibunya bisa bersama ayahnya kembali.
Kamis, 26 November 2020. Hari pertama kali aku dipertemukan dengan Rio dan semenjak itu aku mulai dekat dengannya. Di depan pagar sekolah, tepat pukul 07.10 Wib. Kami sama - sama saling menatap. Aku gelisah dan dia bahagia.
Aku terlambat, sepanjang sejarah dalam hidupku ini adalah pertama kalinya aku terlambat. Aku anak baru di sekolah ini. Tak banyak teman yang aku kenal. Aku hanya takut saat itu, bagaimana aku menjelaskan pada ayahku nanti, dia pasti kecewa dan membenciku.
"Hei.." Panggilnya menghampiriku.
"Anak baru yah?" Tanyanya dan aku mengangguk takut.
Bagaimana aku tidak takut dengannya, seorang pria berseragam sekolah namun sangat tidak rapi, rambutnya cukup berantakan, datang menghampiriku dengan sepeda motor miliknya.
"Kenalin, gua Rio." Ucapnya setelah turun dari sepeda motornya dan menghampiriku.
"Nin..di." Jawabku terbata.
"Lo baru pertama kali telat?" Tanyanya dan aku menggangguk.
"Mau pulang?" Tanyanya lagi.
Kali ini aku diam. Aku tak tahu harus kemana sekarang. Pulang bukan pilihan yang baik menurutku.
"Mau ikut?" Tanyanya lagi sambil menatapku.
"Hemm.. kau pendiam sekali, hayolah ikut aku saja dari pada bengong di sini." Ucapnya kembali sambil meraih tanganku dan mengajaknya pergi bersama.
Entah keberanian apa yang menghampiriku, akupun menurut ikut bersamanya. Mungkin rasa takut bertemu dengan ayahku jika ia tau aku tak ke sekolah hari ini, yang mendorongku untuk ikut bersama Rio sekarang.
Rio, pria yang penuh dengan cerita, sepanjang perjalanan dia terus bercerita. Dia tertawa, aku hanya tersenyum mendengarnya. Saat dia terdiam karena kesedihan, aku hanya bisa mengelus lembut pundaknya.
Ini adalah hal gila dalam hidupku. Sekarang aku duduk bersama dengannya di pinggir laut. Rio yang baru ku kenal dan juga merupakan teman sekolahku.
Aku bisa tertawa bersamanya. Aku merasa bahagia saat ini dan berharap ini tak akan berakhir . Membolos hari ini, menikmati hari ini dengan senyum yang tak dipaksakan.
"Ini rumah lo?" Tunjukknya.
"Ya." Jawabku tersenyum menatapnya.
"Aku bisa ke rumah lo lagi besok?"
"Jangan, kita bisa bertemu di sekolah." Tolakku cepat
"Oke, sampai ketemu lagi besok." Ucapnya dan berlalu pergi.
Hari ini, berakhir cerita indah untukku. Aku selalu tersenyum mengingat beberapa jam kebersamaanku dengan Rio. Berharap bisa bertemu dengan dirinya lagi dalam mimpi malam ini.
🍁🍁🍁
"Kau kenal Rio, Han?" Tanyaku pada salah satu teman sekelasku.
Hana namanya, hanya dia yang cukup ku kenal saat ini. Mungkin karena aku tipe orang yang pendiam dan tertutup membuatku kesulitan mempunyai banyak teman.
"Rio yang suka membolos itu?" Tanyanya memastikan.
"Memangnya berapa banyak nama Rio di sekolah ini?" Tanyaku.
"Ku rasa hanya dia. Ehmm.. bagaimana kau kenal dengannya?" Tanyanya mulai menyelidiki.
"Kemarin, saat ku telat."
"Oh.. Tadinya dia anak baik, keluarganya kaya, tampangnya oke dan dia pintar."
"Lalu."
"Beberapa bulan belakangan ini, dia menjadi anak yang sering membolos, nilainya merosot jauh."
"Kemana dia pergi?"
"Entahlah, aku dengar sih, dia jadi sering ikut berkelahi dengan sekolah lain. Ngumpul dengan anak - anak enggak jelas di luar sekolah."
"Aku saranin, kamu enggak usah bertemen sama dia...lah..." Pinta Hana terbata dengan tatapan lurus ke depan yaitu arah pintu kelas.
Aku mengubah pandanganku ke arah tatapan Hana sekarang. Aku melihat sosok Rio datang tersenyum dan melangkah menghampiriku.
"Kau di kelas ini ternyata." Sapanya saat tiba di hadapanku dan Hana. Hana masih terdiam menatap kedatangan Rio saat ini.
"Kita ke kantin yuk." Ajaknya dan langsung menarik pergelangan tanganku mengajakku pergi bersama dirinya meninggalkan Hana yang masih terdiam melihat sikap Rio padaku.
Hari ini aku menjadi tontonan banyak orang, semua penghuni kantin hampir seluruhnya menatap kami. Aku tak peduli, bersamanya aku bisa tertawa dan tersenyum. Hatiku terasa nyaman, aku melupakan bebanku dalam sekejap. Kesempurnaan yang ku paksakan.
🍁🍁🍁
Sore itu, aku dan rio berjanji untuk bertemu. Mungkin ini yang namanya kencan, tapi tak pernah terucap di antara kami. Aku melihatnya dari kejauhan.. di seberang jalan. Tersenyum menatapku.
Perlahan dia melangkah menghampiriku. Dirinya makin mendekatiku. Senyumnya makin terlihat jelas sekarang. Tapi... aku melihat sosok lain di belakang dirinya. Seorang pria yang juga menghampiri ku.. bukan, pria itu menghampiri Rio.
Langkahnya makin cepat dan sebentar lagi berhasil menghampiri Rio. Namun.. apa yang ada di genggaman pria itu. Oh tidak.. itu sebuah pisau. Apa yang mau dia lakukan pada Rio.
Aku berteriak memintanya untuk menghindar, namun Rio tak mendengarnya. Akupun berlari mendekatinya, berusaha lebih cepat dari pria yang mengikutinya dari belakang. terus berlari.. lebih cepat.. harus lebih cepat..
Aku berhasil sekarang, aku berhasil memeluk tubuh Rio. Merubah posisiku dengan Rio dan pisau itupun berhasil mendarat, tepat di tubuhku.
Sakit..
Sakit..
Sakit..
Tapi untungnya bukan kamu yang merasakan. Mataku mulai lelah terbuka, telingaku mulai lelah mendengar. Kakiku mulai lelah menahan tubuhku. Suaramu makin tak terdengar. Wajahmu makin tak terlihat. Tapi ku tahu, kau masih memelukku.
Dengan sisa kekuatanku, akupun berucap "Berjanjilah untuk hidup lebih baik setelah ini"
🍁🍁🍁
Sudah lima tahun lamanya, namun kisah itu masih ku ingat hingga saat ini. Rio menjalani hidup dengan baik sekarang. Menerima keberadaan ibu tirinya. Menjadi pria tampan dan sukses. Menjadi pria yang mencintaiku.
Kau menjagaku dengan baik waktu itu, kau menguatkanku saat rasa sakit menghampiriku. Kau merawatku saat tak ada yang peduli dengan diriku. Kau menemaniku dan selalu ada untukku.
Tak pernah ku bayangkan, pertemuanku dengannya waktu itu, di depan pagar sekolah membawaku merasakan kebahagiaan yang hingga saat ini masih ku rasakan.
Mengenalmu adalah sesuatu yang indah, tak terlupakan dan aku bahagia.
-Selesai-
Semoga suka, tinggalkan jejaknya ya.😘
Dan semoga bekenan mampir ke cerpenku yang lainnya juga. 😊
Terima kasih