WARNING 📍
Mereka diciptakan untuk menghancurkan bumi yang sudah membusuk. Mereka berdarah dingin yang mampu menusuk setiap inci tulangmu dengan gigi tajam mereka. Berhati-hatilah saat kamu masih belum tertidur saat jam 23.00 WIB.
•••
Gea menghembuskan napasnya dengan malas, matanya yang panda itu terus ia paksakan untuk menatap layar handphone.
Ia ingin sekali mengutuk dosen kampr*t itu dengan segala sumpah serampah miliknya karena memberikan tugas dadakan di jam istirahat begini. Harusnya tubuh mungilnya sudah berlayar menggapai mimpi, bukan malah bergeleyut dengan segala pdf yang bejibun halamannya.
Rasa ingin tenggelam di rawa-rawa stonk 📈
Gea beranjak di kasurnya, menutup laptop dan mencharger handphone nya, meski ia tahu kalau batre handphone nya masih full. Ia tidak peduli bahwa hari esok akan mendapatkan meteor saliva diwajahnya, ia sudah benar-benar tidak peduli!
Dengan gontai Gea membuka kulkas dan mengambil segelas air dingin, setelah itu ia duduk di sofa sambil menguap. Ia melirik jam dinding, 22.50 WIB.
Yah, masih ada waktu untuk menonton televisi pikirnya.
Ia pun menonton televisi dengan syahdu tanpa menangkap bunyi-bunyi aneh di atas terasnya.
Auuuu auuuuu auuu...
Terdengar suara auman serigala tiba-tiba. Gea terdiam kikuk, matanya melirik pintu dengan hati-hati. Bukan karena takut akan suara serigala itu tapi ia tidak sengaja mendengar suara teriakan seseorang samar-samar dan suara tapakkan kaki yang menghampiri rumahnya.
Keringatpun bercucuran deras saat ia menyadari bahwa malam ini adalah malam minggu, malam bagi para makhluk-makhluk itu berkeliaran mencari nyawa. Dengan bodohnya ia terus terpaku pada arah jarum jam di dinding yang hampir mulai mendekati menit terakhir ke jam 23.00 WIB.
Ia tidak boleh panik. Ia harus setenang mungkin mematikan televisi dan segera bersembunyi kedalam selimut.
Dengan cepat dan teliti Gea beranjak menuju kamar tanpa menimbulkan suara kaki nya agar makhluk itu menyadari kalau keadaan rumahnya sudah sepi.
BUGHH!
"Argh, kampr*t kenapa jatuh coba!", umpat Gea dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.
"Сіз қайда барасыз?"
Mau pergi kemana?
Gea pun terdiam mendengar suara seseorang di belakangnya, ia perlahan berbalik badan.
Sebuah senyum licik menatapnya dengan tajam, mata merahnya menyala dengan sangat terang, bahkan sayap hitamnya terbentang lebar disana.
" бүгін кешке толатын сияқтымын", ucapnya.
Sepertinya malam ini aku akan kenyang.
Detik ini pun Gea berharap bahwa ia akan selamat dari makhluk yang terus bergumam aneh di hadapannya. Ia tidak mengerti apa yang makhluk ini katakan tapi sepertinya yang ia omongkan tidak baik bagi keselamatannya.
Makhluk bersayap hitam itu pun mulai mendekati Gea. Kuku yang semula pendek langsung memanjang beriringan dengan taringnya yang panjangnya hampir se-dagu.
Gea ketakutan. Ia dengan panik mengambil tongkat besbol untuk melawan.
Makhluk itu berhenti sesaat lalu tertawa kecil melihat apa yang dilakukan Gea dengan benda sampah itu.
BRUGH!
"AAARGHHH!"
BRUGHHHH!
BRUGHHH!
PRANGGG!
"HEN, HENTIKAN!" teriak Gea kesakitan dengan napas yang terus memburu. Makhluk ini melempar tubuhnya ke tembok beberapa kali dan ke jendela dengan membab* buta.
Seringgaian tercipta disana. Kuku nya yang panjang langsung menusuk betis Gea hingga darah merembas banyak.
"ARGHHHHH!"
Gea menangis dengan tubuhnya yang mulai kejang-kejang. Kuku makhluk ini memang sangat beracun tapi juga sangat merusak sel kulit hingga membuat betisnya busuk.
Sekuat tenaga tangan Gea memegang rambut makhluk ini dengan erat, lalu menariknya kepelukannya. Ia sudah tidak kuat jika harus terus disiksa secara perlahan begini. Singkatnya, ia mengizinkan taring itu menusuk urat lehernya.
Makhluk itu terdiam. Aroma jeruk menguar kuat di area leher manusia ini. Ia hampir tercengang saat Gea menarik kepalanya agar segera membunuh dirinya. Napas Gea pun memburu ke telinga miliknya hingga membuat area itu kepanasan.
Smirk licikpun langsung tercetak di bibirnya. Ia perlahan mendekati leher Gea dengan menghirup aroma jeruk itu dengan ganas. Taring yang semula memanjang hingga dagu perlahan menyusut digantikan dengan bibir yang menempel di leher Gea.
Ia menjilat leher Gea dengan ganas untuk menghisap energi miliknya, sedangkan Gea pingsan akibat perbuatannya tadi.
Setelah setengah jam lebih ia menguras energi milik Gea yang sungguh lezat, ia membaringkannya di kasur lalu menyelimutinya. Tidak hanya sampai disitu, sepertinya ia kecanduan dengan aroma jeruk yang tiada habisnya di area leher gadis ini.
Sepertinya gadis dihadapannya ini masih berguna untuk kedepannya, pikirnya sambil terkekeh kecil.
Ia akan membiarkan gadis ini ada disampingnya lebih lama untuk mencari tahu kenapa ia bisa kecanduan dengan aroma yang di hasilkan dari tubuh gadis ini.
Sebelum itu, ia menyedot darah di betis Gea untuk mengeluarkan racun akibat kuku miliknya.
Makhluk itu pun memeluk Gea dengan erat dan menempelkan kepalanya di curuk leher Gea.
"Aku harap kamu soulmate ku, gadis manusia... " gumamnya sebelum terlelap.
~
Pagi pun tiba.
Gea langsung terbangun dengan keringat yang mengucur deras dipelipisnya, ia lalu memeriksa kondisi betisnya.
Mulus.
"Eh, Kok?", lirihnya bingung.
TOK TOK TOK
"GEA, CEPET MANDI WOY NGAMPUS! KEBO BANGET DAH?!", suara teriakan dari sepupunya membuat ia mendengus kesal.
"IYA, IYA BAWEL AH KAMPR*T!", sahut Gea beranjak ke kamar mandi.
Akhirnya Gea beramsumsi bahwa yang ia alami malam tadi adalah sindrom halusinasi gegara terlalu banyak banyak novel sebelum tidur. Dan bisa-bisanya halusinasinya kali ini menyeramkan.
"Hallo, baby!" panggil seorang cowok tampan yang tidak ia kenali sama sekali di kampusnya.
"Eh kok ada cogan sih di kampus ini. eh tapi kok muka nya mirip si makhluk yang malem tadi ya", pikir Gea dalam hati.
Cowok itu pun menghampirinya sambil tersenyum. ia lalu memeluk erat Gea tiba-tiba.
Terkejut. Gea bereskpresi bingung seketika sambil berusaha melepaskan pelukan cowok ini.
"Ternyata memang benar kamu soulmate ku!" gumamnya berbisik di telinga Gea.
NOTE:
~ END
SEE YOU NEXT TIME!