"Jadi anda benar-benar ingin mengakhiri pernikahan anda, Saudari Yuli Amalia?"
"Benar Yang mulia...."
"Bisa jelaskan alasan anda, mengapa anda mengajukan perceraian ini? Saya ingin mendengar sendiri dari mulut anda."
⭐
⭐
⭐
⭐
⭐
1 tahun sebelumnya, 2024
Kryuukkk
Kryuukkk
Terdengar suara menyakitkan dari sebuah lambung yang belum terisi dari kemarin. Seorang ibu muda menatap kosong halaman rumahnya yang tidak begitu aesthetic.
"Bu ... Bagas lapar." Seorang anak laki-laki berjalan mendekati wanita muda yang kerap kali dipanggilnya ibu.
"Ibu juga, Gas," sahut wanita bernama Yuli.
Kembali wanita itu hanya melamun diam. Bagas memilih menjauh dari sang ibunda. Seolah paham apa yang dirasakan oleh wanita cantik namun kecantikannya tertutupi oleh kemiskinan.
Tidak lama kemudian seorang gadis kecil memasuki teras rumah dan menatap ibu dan kakaknya. Gadis itu memilih mendekati sang kakak.
"Mas Agas... lapar tidak?" bisik gadis kecil itu sambil menarik Bagas kedalam kamar mereka.
Anak lelaki itu menganggukan kepalanya. Menandakan ia juga merasakan apa yang adiknya rasakan. Kembali mereka berdua memilih bermain di dalam kamar untuk membunuh rasa lapar mereka.
Bagas dan adiknya -- Naura, memiliki selisih empat tahun. Jika Bagas saat ini duduk di bangku SD kelas 6, adiknya duduk di bangku kelas 2.
Kedua anak itu pintar dan cerdas. Hanya saja, faktor ekonomi orang tua mereka membuat mereka memiliki keterbatasan untuk mengikuti setiap kegiatan ekstrakulikuler di sekolah.
Padahal Bagas ingin sekali ikut taekwondo, tapi untuk membeli seragamnya sangat mahal baginya. Ingin ikut sekolah futsal, Bagas tidak bisa selalu ikut untuk bayar uang kehadiran atau sewa lapangan.
Begitupun dengan Naura. Gadis kecil itu ingin sekali membeli pensil warna dengan warna yang lengkap. Namun hal itu harus ia urungkan. Bisa berangkat sekolah dengan perut kenyang saja sudah bersyukur untuk mereka.
Orang tua mereka bekerja serabutan. Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa pada umumnya yang tidak memiliki banyak kemampuan bahkan bersosialisasi saja Yuli -- ibu mereka, tidak bisa.
⭐
⭐
⭐
⭐
⭐
"Kau tidak masak, Yuli? Besok sudah mulai puasa. Malam ini kita sahur pakai apa?" tanya Ari-- suami Yuli.
"Aku hanya punya nasi, bawang dan cabai. Kau mau aku buatkan nasi goreng?"
Ari mendesah kasar. "Uang yang aku kasih habis?"
Yuli terdiam. Entah mengapa jika menerima uang dari sang suami, bukannya senang, Yuli merasa ia akan menjadi penjahat apalagi jika uang itu habis.
Padahal di jaman sekarang, uang seratus ribu mana cukup untuk seminggu. Oh... mungkin saja cukup jika uang seratus ribu itu jatuh ke istri yang tepat macam konten-konten palsu yang tidak dijelaskan latar belakang perekonomiannya seperti apa.
Seolah-olah mengatakan, jika tidak bisa mengelola uang. Berarti bukanlah istri yang tepat. Konten sialan... Kata-kata itu terus terngiang di otak Yuli jika ia sedang merasakan ketidakberdayaan menjadi seorang istri yang bisa membantu suami mencari nafkah dan mengatur keuangan.
'Bukan istri yang tepat... lalu istri yang tepat seperti apa? Apa aku istri pembawa sial? Apa aku tidak bisa membawa keberuntungan untuk suamiku? Apakah jika aku menghilang, hidupnya akan menjadi lebih baik?'
Itulah yang selalu Yuli batinkan dan rapalkan setiap malam, setiap melamun, bahkan saat menatap putra putrinya.
"Yul... aku tanya. Uang yang ku kasih sudah habis?" Ari -- sang suami mengulang pertanyaannya.
"Sudah, Mas."
"Untuk apa?"
Yuli menatap sang suami dengan tatapan bingung. "Mas kau ikut aku belanja keperluan rumah, kan? Tanpa aku jabarkan, Mas tentu tahu apa saja yang aku beli. Kenapa seolah-olah tidak mengetahui apapun dan menyalahkan aku ketika uang itu habis?"
Yuli bingung. Suaminya tidak tolol, goblog pun tidak. Hanya dulu pernah mengkonsumsi marijuana dan pil-pil penenang. Mungkin dari sana penyebab suaminya tidak bisa berpikir logis dan tidak memiliki empati.
Tidak menjawab ucapan Yuli, Ari berdecak dan meninggalkan Yuli. Kembali sang suami bermain game berjenis battle royale.
Keimanan Yuli lagi-lagi diuji. Kesabaran Yuli lagi-lagi dibuat goyah. Mengadu pada pemilik alam semesta rasanya sudah bosan. Tidak ada satupun doa yang terkabul.
Lagi-lagi ia memilih membuka ponselnya. Entah berharap apa Yuli pada benda pipih itu. Bukannya mendapat solusi untuk menutupi kemiskinannya. Ia semakin di buat sesak.
Banyak pejabat tertangkap karena kasus korupsi yang merugikan negara hingga triliunan. Dada Yuli sangat panas. Jangankan triliunan, memiliki uang lima juta saja bagaikan bisa hidup berbulan-bulan untuknya.
"Tuhan... apakah dirimu bersama kami? Bersama orang-orang lapar? Mengapa Engkau memuluskan jalan orang-orang dzolim dan mengenyangkan perut mereka? Tapi Engkau lupa dengan orang-orang seperti hamba?"
Yuli bergumam lirih. Meremas handphonenya dan mengumpati sang maha kuasa dan pemilik alam semesta. Mengutuk dirinya sendiri mengapa masih memilih bertahan di bumi.
Yuli memilih masuk ke dalam kamar anak-anaknya. Memeluk satu persatu anaknya yang berinisiatif tidur jika mereka lapar dan tidak memiliki makanan.
Yuli teringat candaan bersama mendiang ibunya ketika wanita itu masih kecil dulu.
"Mak... Yuli lapar!" seru Yuli kecil.
"Makan atuh Yul... ya kali lu laper malah tidur!"
Sudut matanya mengeluarkan cairan bening yang sangat panas. Meskipun itu candaan. Sekarang dirinya merasakan. "Yuli dan anak-anak Yuli sekarang kalau laper tidur, Mak."
Entah apakak Ramadhan kali ini Yuli dan keluarga kecilnya bisa melewatinya? Sahur saja ia tidak bisa. Apalagi berbuka besok. Tapi jika tidak berpuasa pun, besok akan makan apa?
Yuli tidak berani mengeluh di sosial media. Akan semakin sakit hatinya ketika banyak jari yang menghujatnya tanpa tahu latar belakangnya seperti apa.
~Kerja makanya! Jangan diem aja!~
~Jual aja handphonenya untuk makan atau cari kerja!~
Terkadang Yuli terkekeh membaca komentar orang-orang kotor itu yang mengetik tanpa berpikir. Di negara ini memang banyak sekali pekerjaan. Semua itu dengan banyak syarat yang tidak bisa sepenuhnya Yuli sanggupi.
° Berusia maksimal 25 tahun. Sedangkan Yuli sudah 30
° Berpenampilan menarik. Berat badan wanita itu 70kg dengan wajah kusam yang tidak terawat baik. Meskipun tidak berjerawat.
° Mampu bekerja di bawah tekanan dengan 6 hari kerja 1 hari libur. Padahal gaji yang diterima hanya 2jt. Bukankah gajinya akan habis hanya untuk ongkosnya saja?
Katanya perusahaan tidak merekrut karyawan yang memiliki hubungan saudara alias nepotisme. Buktinya, tetangga Yuli saat ini sekeluarga bekerja di perusahaan milik negara. Ingin tertawa rasanya Yuli.
Benarkah dirinya dan keluarganya dimiskinkan? Bukan benar-benar miskin. Yuli lelah selalu berpikir jika dirinya adalah sumber beban untuk suaminya.
⭐
⭐
⭐
⭐
⭐
2025
"Lo yakin sama keputusan lo bercerai dengan Ari? Tapi kenapa?" tanya Ayu dengan serius.
"Ingin memberikan Ari kesempatan hidup lebih baik, Yu. Gue kasian sama dia. Dia tulang punggung. Gue cuma jadi penambah beban dia aja." Yuli jujur mengatakan itu.
"Bohong! Lo mau balik sama Eka? Karena Eka nawarin lo duit asal lo melepaskan Ari, kan?" tebak Ayu yang memang sudah bersahabat dengan Yuli dan Eka sejak mereka SMA.
Yuli menatap sahabatnya dengan tatapan kecewa. Entah sudah berapa tahun mereka bersahabat, Ayu masih saja tidak bisa memahaminya.
"Gue mau jadi TKW, Yu. Eka bukan alasan gue menceraikan Ari. Lo bisa suruh penyidik untuk cek seluruh bank atas nama gue. Apakah gue menerima uang sebanyak itu di rekening gue atau enggak?"
"Apa Ari melakukan KDRT sama lo?" Ayu kembali menebak.
"Wajar lah KDRT ringan. Namanya manusia punya emosi. Gue nggak permasalahkan selama gak nusuk gue atau nembak gue pake air softgun." Yuli terkekeh. Ia ingin mencairkan suasana.
"Lalu anak lo? Bagas? Naura?" Ayu tidak terpengaruh dengan candaan garing yang Yuli lontarkan. "Mereka butuh lo, Yuli."
Yuli menggelengkan kepalanya. "Mereka akan diurus Mas Ari dan keluarganya. Keluarga mereka lengkap dan besar. Mereka pasti bisa bantu menghidupi Naura dan Bagas."
"Kenapa lo nggak bawa Bagas?"
"Bagas mau ujian kelulusan. Gue nggak mau mengacaukan akademiknya setelah gue mengacaukan hidupnya. Kalau Bagas hidup sama gue, gue takut bisa membuat hidupnya menjadi berantakan seperti Eka sekarang."
"Kalau begitu, bagaimana dengan Naura? Anak lo perempuan, Yuli. Dia butuh sosok seorang ibu ketika dewasa nanti." Ayu masih berusaha membujuk Yuli.
"Naura akan mencari Mas Ari ketika gadis itu akan menikah nanti. Figure gue nggak penting-penting amat di hidup mereka. Gue beban mereka. Sedangkan Mas Ari multitalenta."
Ya... meskipun Ari pengangguran serabutan. Tapi Ari serba bisa. Tak heran, teman-teman Ari sering menghubungi lelaki itu dan memberikan beberapa pekerjaan untuk lelaki yang sekarang sudah menginjak usia 34 tahun itu.
Mulai dari mengecat Cafe, Kantor, Motor, Mobil bahkan tembok under pass pun pernah Ari lakukan.
Itu juga yang membuat Yuli merasa bersalah karena hanya Ari yang berjuang sendiri di dalam rumah tangga mereka.
"Lo mediasi aja dulu. Ari setuju melakukan gugatan perceraian ini?"
Yuli terdiam. Ia tidak pernah sekalipun menyalahkan perceraian ini pada Ari. Sekali lagi, Tidak. Ini murni karena ia ingin memberikan Ari dan anak-anak mereka nafas segar dengan ketidakhadiran dirinya ditengah-tengah mereka.
Yuli merasa jika ia beban bagi suaminya, ia merasa tidak bisa menjadi ibu yang diharapkan kedua anaknya, ia merasa jika dirinya bukan istri yang tepat.
Sering sekali Yuki ingin mengakhiri hidupnya jika saja ia tidak mengingat dosa dan hilangnya keimanan dalam dirinya.
Apa sebenarnya yang Yuli alami? Mengapa dia bisa merasakan demikian dan mengambil keputusan ekstrem untuk bercerai?
"Yul, gue mohon lo kembali solat. Meminta petunjuk sama Allah SWT."
"Udah. Allah terlalu sibuk mengurus debu kayak gue, Yu. Gak akan terdengar doa gue."
Ayu mendesah panjang. "Beberapa hari lagi puasa. Coba perbaiki lagi ibadah lo. Gue emang bukan ahli agama. Tapi mungkin Allah mengirim gue saat ini untuk menemui lo untuk mengatakan ini, tapi gue mohon lo jangan tersinggung ya?" Ayu menjeda kalimatnya.
Yuli masih diam melamun dan menatap pada satu titik sambil menganggukkan kepalanya. Nafasnya sesak. Ayu tahu jika Yuli sedang menahan tangisnya.
Ayu kembali melanjutkan ucapannya. "Doa yang setiap hari lo panjatkan, mungkin nggak terkabul di dunia. Tapi lo harus yakin, Allah akan mengabulkan itu nanti saat di akhirat. Selama lo masih berada di jalannya."
Diam-diam dalam hatinya, Yuli mengAamiinkan ucapan Ayu. Meskipun sering meragukan sang pencipta. Yuli masih tetap menjalankan kewajibannya. Iman Yuli memang belum terlalu kokoh.
"Coba kembali beribadah dan khusyuk dalam berdoa untuk meminta keselamatan dunia dan akhirat. Fokuskan beribadah untuk Allah bukan untuk hal duniawi, Yul. Karena nggak ada habisnya kita meminta hal duniawi," lanjut Ayu.
"Gue pernah berdoa meminta kesehatan untuk anak-anak sama Allah. Tapi, nggak lama kemudian, anak-anak gue sakit. Gue berdoa untuk kelancaran kerjaan gue saat itu. Justru perusahaan gue menghentikan gue karena mereka akan menggantikan divisi gue dengan AI. Gue harus apa, Yu? Gue sampai takut mau memohon lagi sama Allah."
Ayu tahu, keimanan Yuli saat ini sudah sangat lemah. Ayu juga bukan orang yang paham sekali dengan agama. Namun ia tetap berusaha meyakinkan Yuli bahwa perempuan itu harus selalu berada di jalan Allah.
"Berarti ibadah lo belum benar-benar untuk Allah, Yul. Perbanyak dzikir Al-fatihah. Fokuskan ibadah lo hanya untuk Allah. Solat tobat di tengah malam sekaligus tahajud, paginya lo solat Dhuha. Minta sama Allah untuk hilangkan sifat hasad dalam diri lo, hilangkan rasa gundah gulana serta jauhkan dari niat-niat buruk yang merugikan diri lo dan orang-orang yang lo cintai, Yul."
Yuli tersadar. Ia tidak tersinggung. Selama ini dirinya memang tidak pernah meminta kepada Allah untuk menjauhkannya dari sifat-sifat setan yang sebenarnya merugikan dirinya. Membuatnya selalu berandai-andai dan memiliki rencana buruk.
"Yu... apa gue masih bisa menyelamatkan pernikahan gue?"
(。•́︿•̀。) The End (。•́︿•̀。)