Aku Exel. Nama lengkap? Itu tidak penting. Aku hanya seorang siswa SMA. Tidak seperti anak SMA biasa, aku punya kekuatan yang ajaib. Itu kedengaran seperti bualan untuk lelucon.
Tapi, ini nyata. Aku bisa memberhentikan waktu selama 2 menit. Itu waktu terlama yang aku coba. Hanya sebentar, tapi itu cukup berguna bagi ku.
Pagi hari ini cukup mendung. aku baru sampai di kelas. Dua orang mencegat ku di depan pintu. Mereka adalah Steven dan Alex.
"Mana PR mu?!" Tanya Steven.
"Ma-maaf, buku ku ketinggalan." Jawab ku. Aku tidak berani menatap wajah mereka. Aku tahu mereka akan sangat marah.
"Kau berusaha membohongi kami?!" Alex mencengkeram kerah baju ku. Aku ketakutan. Tapi aku ini laki-laki, tapi aku tidak seberani yang kalian pikirkan. Cupu, adalah kata yang pantas untuk ku.
Aku mendengar suara rintik hujan turun dengan deras. Membuat pikiranku teralihkan. Tiba-tiba, Alex mendorong ku. Hingga jatuh tersungkur di lantai.
Mereka akan membully ku habis-habisan. Aku tidak tahu harus apa. Steven mengepalkan tangannya, siap memukul wajah ku.
Aku tidak ingin wajah ku dipukul. Tapi aku juga tidak bisa terlalu sering menggunakan kekuatan ku.
"Berhenti!!!" Teriak seorang gadis. Mencegah Steven memukul ku.
"Pergi kalian! Atau aku laporin ke guru!" Ancam gadis itu, aku tidak mengenalnya.
Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambut tangannya, membantuku berdiri.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya gadis itu.
"Nggak apa-apa kok." Jawab ku.
"Oh iya, kenalin aku Sheila." Gadis itu memperkenalkan dirinya. Aku membalas dengan menyebutkan namaku. Dia tersenyum manis ketika menatap ku. Sangat cantik.
"Ini kelas 2-A ya?" Tanya Sheila. Aku kaget, salah tingkah dibuatnya.
"I-iya. Kamu murid baru?" Aku mencoba agar tidak merasa canggung.
"Ya, aku murid baru disini. Senang berkenalan dengan mu."
°•♡🕛🕛♡•°
Seminggu kemudian...
Hari ini aku pulang sekolah saat sore. Itu karena aku mengikuti klub membaca di sekolah.
"Exel!" Panggil seseorang dari belakang ku. Aku menoleh, rupanya Sheila.
Dia berlari menghampiri ku dari gerbang sekolah.
"Ini, kacamata kamu ketinggalan." Katanya sambi,l memberikan sebuah kacamata ber-frame hitam. Itu benar milik ku.
"Eh, makasih." Ucap ku berterimakasih. Aku memang orang yang ceroboh.
Pandangan ku dengan mudah teralihkan. Aku tidak sadar memperhatikan seseorang yang baru keluar dari kedai kopi. Dia membawa segelas kopi ditangannya.
Tiba-tiba, ada yang mendorong orang itu. Tubuhnya oleng ke arah kami. Kopi panas yang dia bawa pasti akan mengenai Sheila.
"Berhenti!" Kata ku dalam hati.
Waktu terhenti seketika. Aku melirik sekeliling. Orang-orang disekitar ku tidak ada yang bergerak. Pose mereka adalah yang mereka lakukan saat itu juga.
"Berjalan." Kata ku lagi.
Waktu kembali berjalan. Orang itu tadi tidak jadi jatuh. Dia dapat menyeimbangkan tubuhnya kembali.
Aku menghela napas, lega.
"Exel? Kamu kenapa?" Tanya Sheila.
"Tidak ada." Jawab ku berbohong. Tentu saja aku tidak ingin dia tahu kekuatan ku ini.
"Owh, yaudah. Aku duluan ya." Katanya sambil berjalan mundur dan melambaikan tangan pada ku. Aku membalas lambaian tangannya.
Dia tersenyum lebar lalu berbalik kembali berjalan biasa.
Aku sedikit tersentak.
Tubuh ku mendadak tegang. Pipiku terasa panas. Bersamaan dengan jantungku yang berdegup semakin kencang. Ya, aku menyukainya.
°•♡🕛🕛♡•°
Keesokan harinya...
Steven dan Alex kembali mencegat ku di depan kelas. Mereka seminggu ini menghilang dari hadapan ku. Tapi kali ini, sepertinya mereka ingin membalaskan dendam seminggu yang lalu.
"Dimana temanmu itu sekarang hah?" Tanya Alex, sambil erat mencengkeram kerah bajuku. Aku dipojokan ke dinding olehnya, agar tidak bisa lari.
"Hey! Lepasin Exel!" Sheila datang.
Steven dan Alex tertawa, mereka nampaknya tidak takut lagi pada Sheila.
Steven menghampirinya.
"Hei Sheila, buat apa kamu membela si cupu itu?" Kata Steven. Sheila tak tinggal diam, tidak disangka dia menggigit tangan Steven.
"Argh! Berani sekali kau menggigit ku!" Steven mengangkat tangan kanannya, bersiap menampar.
Aku memberhentikan waktu.
Steven dan Alex terpengaruh dan mematung. Tapi, aku tidak memberi pengaruh waktu pada Sheila.
Dengan paksa aku melepaskan cengkraman Alex. Sheila nampak tak percaya dan kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Sheila, ayo lari." Kataku sambil menarik tangannya.
"Exel! Apa yang terjadi?!" Tanya Sheila. Aku menahan untuk menjawabnya, dan terus berlari sedikit lebih jauh.
Kami berhenti berlari. Aku merasa sudah cukup jauh. Dan waktu masih dalam kendali ku.
"Exel, kenapa semuanya berhenti selain kita?" Tanya Sheila lagi.
Aku menghela napas sebelum menjawab.
"Aku yang memberhentikannya." Jawab ku dengan singkat.
"B-bagaimana bisa?" Sheila bertanya lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana dan dari mana menjelaskannya. Sheila begitu bingung dengan apa yang terjadi. Dan aku hanya menjawab. "Nggak tau." Akhirnya dia tahu, tapi sebaiknya dia tidak tahu lebih banyak lagi.
Aku kembali menjalan waktu dengan normal.
Aku tidak ingin mencapai batas ku. Menghentikan waktu lebih dari satu menit sudah membuat kepala ku sedikit pusing sekarang.
Aku menatap Sheila di depan ku.
"Um, kamu nggak benci aku 'kan?" Tanya ku, khawatir akan pertemanan kami.
"Enggak. Itu justru sangat keren." Jawabnya.
"Tolong jangan kasih tau siapa-siapa."
"Baiklah."
°•♡🕛🕛♡•°
Sebulan berlalu...
Pertemanan antara aku dan Sheila semakin dekat. Aku sudah jarang berurusan dengan Steven dan Alex. Mereka ketahuan membully murid lain, dan kini mereka sudah menyesal.
Sore hari ini...
Perasaan dalam hati ku bergejolak. Aku duduk di ranjang sambil memeluk bantal. Sheila terus ada dalam pikiran ku. Kenapa perasaan cinta ini begitu menyiksa ku.
"Ding Dong!" Aku mendengar suara notifikasi dari ponsel ku. Ternyata ada seseorang yang mengirimkan pesan. Aku membacanya.
*Isi Chat:
"P."
"Exel, kamu lagi ngapain?"
"Klo kamu nggak sibuk, bisa temenin aku jalan nggak?"
"Kenapa harus tiba-tiba begini?" Gumam ku. Aku begitu tidak menyangka Sheila akan mengajak ku menemaninya jalan-jalan.
"Wah, siapa nih yang mau jalan?" Tanya Dylan tiba-tiba, entah dia muncul dari mana. Adik sepupuku itu langsung merampas ponsel ku, lalu mengetik sesuatu.
Aku panik Dylan mengetik hal aneh-aneh.
"Dylan apaan sih?!" Aku mencoba merebut kembali ponsel ku.
"Yes, dibales!" Kata Dylan dengan puas, berhasil melakukan keisengannya.
*Isi Chat:
"Okey."
"Aku tunggu jam 4.00 ditaman ya.^^"
°•♡🕛🕛♡•°
Pukul 4.00
Aku masih berjalan menuju taman, tempat janji Sheila menunggu ku. Aku begitu gugup untuk kesana.
"Exel!" Panggil Sheila, dia berdiri trotoar. Seperti biasa dia melambaikan tangannya pada ku. Aku berhenti berjalan, memandanginya sejenak. Membuat sedikit kegugupanku hilang
Namun, aku menyadari. Sebuah mobil melaju tak terkendali di belakang Sheila. Aku dengan panik segera memberhentikan waktu. Sheila juga terpengaruh dengan pemberhentian waktu.
Aku berlari ke arah Sheila. Dia mematung dengan masih tersenyum. Waktuku terus berjalan. Sudah hampir 1 menit.
Kaki kiri ku terkilir, sedikit menghambat langkah ku. Aku sampai di depan Sheila di beberapa detik terakhir. Aku mendorong Sheila, berharap Sheila tidak tertabrak.
Kepala ku pusing,
"Brumm!" Suara mesin kendaraan kembali terdengar. Waktu seketika juga kembali berjalan. Waktu ku sudah habis. Aku melihat Sheila tersadar, dia menatapku.
"EXEL!!!!" Aku mendengar Sheila meneriakkan namaku.
Namun tidak berguna, mobil itu sudah berada di hadapan ku. Aku tidak sempat menyingkir lagi.
Hingga semuanya yang ku lihat hanyalah gelap gulita. Apakah waktu ku sudah benar-benar habis?
°•♡🕛🕛♡•°
Aku merasakan cahaya menerpa wajah ku. Aku perlahan membuka mata. Kepala ku sakit. Aku berusaha bangun dan duduk. Ranjang dan ruangan serba putih. Rumah sakit?
Aku melihat luar jendela. Ranting pohon dan dedaunan bergerak tertiup angin sore. Kemudian aku melirik jam. Pukul 5.50.
'Kreeet'
Suara pintu di buka. Aku menoleh. Sheila menatap ku, matanya sembab. Dia berjalan menghampiriku.
"Bodoh! Kamu bikin aku khawatir tau nggak!!!" Katanya dengan kesal sambil memukuli bahuku.
"Aduh, sakit tau." Keluh ku padanya.
"Kenapa kamu lakuin itu?! Kamu jadi terluka gara aku!" Sheila meneruskan omelannya hampir 1 menit. Aku hanya tersenyum mendengarkannya.
"Apa senyum-senyum?!" Tanya Sheila. Dia begitu menggemaskan saat kesal begini.
"Aku... Menyukai mu." Jawab ku. Sheila terdiam sesaat.
"Kepala kamu masih sakit?" Tanya Sheila sambil meraba-raba dahi ku.
Aku menggenggam tangannya, dan sedikit menariknya agar lebih dekat dengan ku. Aku sebenarnya bukan cowok yang bisa romantis seperti ini. Mungkin, tidak ada salahnya aku mencoba.
"Aku nggak apa-apa." Jawab ku. Wajah Sheila memerah. Apakah dia akan menerima ku? Aku juga belum tau. Tapi, akhirnya Sheila mengangguk. Setelah 1 menit berpikir.
Kami saling menatap satu sama lain
Perlahan kami mendekatkan bibir kami. Dan akhirnya kami berciuman. Jantung ku berdegup kencang.
"Berhenti." Kata ku dalam hati.
Waktu berhenti tepat pukul 5.53. Aku ingin membekukan momen ini. Meskipun hanya sekitar dua menit.
°•♡🕛THE END🕛♡•°
------------------------------------