Tidak semua hal bisa dibicarakan dengan benar bersama dengan orang yang benar dalam situasi yang tepat. Seperti pembicaraan sore ini, saat aku dan dia sama-sama menyaksikan layar di tempat yang berbeda.
"Bagaimana kabarnya? Kamu sudah pastikan dia baik-baik saja?" Math, sahabat baikku menepuk punggungku memberi sedikit kejutan untukku yang tengah melamun memainkan ujung sedotan yang tertanam di gelas yang masih penuh dengan jus alpukat.
"Hm?" Aku menyahut dengan asal.
"Aku dengar kisahmu sudah berakhir, kalian yakin baik-baik saja?" Tanya Math lagi sekedar untuk memastikan lamunanku bukan tentangnya.
Aku menghela nafas, lalu menyeruput jus kesukaanku,rasanya sangat malas menjawab pertanyaan Math, karena aku merasa bukan hal yang bisa aku jamin kebenarannya.
"Ck! Aku lapar, buatkan aku beberapa kudapan," ujarku mengalihkan pembicaraan dengan dengan sengaja.
"Aaah...jadi begitu." Kawan baikku satu ini tak pernah menuntut jawaban lagi padaku, ia cukup hafal dengan isi kepalaku saat aku lebih suka mengalihkan topik pembicaraan.
"Bro! Nanti malam party kecil intern di rumah Anant, datang ya?" Kawanku Joan berteriak lantang membuat telingaku penuh dengan suaranya.
Math mengedipkan sebelah matanya, mengisyaratkan pada Joan, ada aku yang sedang tidak bisa diajak berbicara dengan benar. Pertemanan kami bukan hanya sehari dua hari, itulah sebabnya kami bisa saling mengerti bahasa tubuh diantara kami.
Joan menghela nafas, duduk di sampingku, lalu dengan entengnya menarik gelas jus alpukatku,dan menyedotnya sampai habis.
"Ah, kau..." Hanya itu kata yang aku sumpulkan dari mulutku yang benar-benar sangat malas.
"Berarti donatur malam ini kamu saja. Kamu sepertinya sangat membutuhkan tamparan setidaknya 15 botol sampai batas toleransi mu meledak." Joan meledekku.
"Bro, dengarkan baik-baik. Lampiaskan, jangan dipendam. Hempaskan jangan terus digenggam, menyakiti diri sendiri sama halnya kamu juga menyakitinya." Tutur bijak keluar dari mulut keringnya Joan.
"Benar, tapi terkadang tak semua hal bisa kita bicarakan tanpa ada kesepakatan pemikiran dan cara pandang." Math menyahut dari arah dapur.
"Hm, benar. Emosi yang tak sesuai pun akan membuat kalian semakin saling menyakit," ujar Joan.
"Tidak mengapa jika kalian tidak baik-baik saja, tapi pastikan untuk tidak lagi saling menyakiti. Hati kalian sedang tidak bisa membaca, melihat hat bahkan mendengar segala hal. Rasanya semua akan salah. Benar kan?" Math si paling tua diantara kami seketika berubah menjadi mario teguh yang selalu mengeluarkan kata-kata emas yang menentramkan.
"Hm, tidak ada yang salah dari ucapan kalian. Tapi rasanya tidak mudah. Semua yang aku pikirkan semua tampak salah. aku selalu dihantui rasa takut, takut membuatnya terlihat semakin lemah, takut membuatnya terlihat lebih terluka, takut jika..."
"Stop dude, biarkan kalian mengambil waktu masing-masing, jangan memaksa untuk saling menyapa jika semua terasa sakit dan berat. Jangan memaksa untuk saling kuat, jika sebenarnya semua masih belum bisa diterima oleh akal sehat." Juan menambahkan kalimat yang menyejukkan.
"Bawalah hatimu untuk party malam ini, dan jangan mencari pelampiasan pad hati yang lain, karena itu justru kamu sedang berusaha semakin menyakiti dirimu sendiri."
..................
The end.