Dito selalu menganggap hidupnya biasa-biasa saja. Dia adalah mahasiswa teknik yang cenderung introvert, lebih suka menghabiskan waktu di rumah dengan buku atau bermain game daripada pergi keluar. Namun, semuanya berubah ketika dia bertemu dengan Vina.
Vina bukan gadis biasa. Dengan rambut hitam panjang yang selalu diikat rapi, tatapan mata tajam yang bisa membuat siapa saja terdiam, dan gaya berpakaian yang lebih mirip anggota geng daripada mahasiswi, Vina langsung mencuri perhatian Dito. Dia pertama kali melihat Vina ketika sedang nongkrong di kafe kampus, tempat di mana banyak mahasiswa berkumpul untuk mengerjakan tugas atau sekadar bersantai. Vina duduk di pojok ruangan, tampak serius berbicara di telepon dengan nada yang tegas.
Tanpa alasan yang jelas, Dito merasa tertarik dengan gadis ini. Dia tak pernah mendekati perempuan dengan inisiatif sendiri, tetapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Dengan segenap keberanian yang terkumpul, dia mendekati Vina.
"Hei, boleh aku duduk di sini?" tanyanya dengan canggung. Vina menatapnya dengan ekspresi datar, lalu mengangguk tanpa banyak bicara.
Percakapan mereka berjalan kaku pada awalnya, namun seiring waktu, Vina mulai membuka diri. Ternyata, di balik penampilannya yang garang, Vina adalah orang yang cerdas dan punya selera humor yang unik. Mereka sering bertemu setelah itu, dan hubungan mereka pun semakin dekat. Dito mulai merasa bahwa dia menyukai Vina lebih dari sekadar teman.
Namun, Dito tahu bahwa Vina menyimpan sesuatu yang besar. Setiap kali mereka bertemu, selalu ada ponsel Vina yang berbunyi dengan panggilan atau pesan yang membuat wajahnya berubah serius. Kadang-kadang, Vina harus pergi dengan alasan mendadak, meninggalkan Dito dengan seribu tanda tanya.
Suatu malam, Dito memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Vina. Mereka bertemu di taman dekat kampus, tempat yang biasa mereka kunjungi untuk mengobrol. "Vina," kata Dito, suaranya terdengar tegas, "aku suka kamu. Aku nggak tahu bagaimana perasaanmu, tapi aku ingin kita lebih dari sekadar teman."
Vina terdiam sejenak, menatap Dito dengan mata yang penuh pertimbangan. "Dito," katanya pelan, "ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang aku sebelum kamu membuat keputusan ini."
Jantung Dito berdebar kencang. Dia mengangguk, menunggu Vina melanjutkan.
"Aku bukan cewek biasa," Vina mulai menjelaskan. "Aku sebenarnya adalah pemimpin dari sebuah geng kecil di kota ini. Aku tidak pernah menceritakan ini kepada siapa pun, karena aku tidak ingin hidupku yang keras mempengaruhi orang lain, terutama kamu."
Dito terdiam. Bagian dari dirinya sudah mencurigai sesuatu seperti ini, tapi mendengarnya langsung dari Vina tetap saja mengejutkan. "Kenapa kamu melakukannya?" tanyanya akhirnya.
Vina menghela napas. "Aku nggak punya banyak pilihan. Keluarga dan lingkungan memaksaku untuk mengambil jalan ini. Aku memang keras, tapi aku selalu berusaha melindungi orang-orang yang kusayangi."
Dito merasakan campuran perasaan dalam dirinya—terkejut, bingung, tapi juga semakin kagum pada Vina. Dia menyadari bahwa di balik sikap tangguhnya, Vina adalah seseorang yang terpaksa menghadapi hidup dengan cara yang keras. Namun, meski begitu, dia tetap merasa bahwa perasaannya terhadap Vina tidak berubah.
"Aku masih suka kamu, Vina," kata Dito dengan tegas. "Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan di luar sana. Yang aku tahu, kamu adalah orang yang membuat hidupku lebih berwarna, dan aku ingin tetap berada di sampingmu."
Vina menatap Dito dengan mata yang mulai basah. "Kamu benar-benar gila," katanya sambil tersenyum kecil. "Tapi mungkin itu sebabnya aku juga suka kamu."
Malam itu, mereka memulai perjalanan baru, hubungan yang tak biasa antara mahasiswa introvert dan pemimpin geng yang penuh rahasia. Meski jalan di depan penuh tantangan, mereka tahu bahwa cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi segala rintangan.
Bagaimanapun, cinta sejati tidak mengenal batas, bahkan jika pacarmu adalah seorang gangster.